Ditulis dalam rentang hampir satu abad setelah kematian Yesus, keempat kitab Injil dalam Perjanjian Baru memang menceritakan kisah yang sama. Akan tetapi, masing-masing mencerminkan gagasan dan perhatian yang sangat berbeda.
Ada rentang sekitar empat puluh tahun antara kematian Yesus dan penulisan Kitab Injil yang pertama. Sejarah hanya memberikan sedikit bukti langsung tentang peristiwa-peristiwa pada masa itu. Namun, sejarah menunjukkan bahwa orang-orang Kristen mula-mula terlibat dalam salah satu kegiatan manusia yang paling mendasar: bercerita. Menurut Mike White, "Tampaknya, antara kematian Yesus dan penulisan Kitab Injil pertama, yaitu Markus, mereka jelas sedang bercerita. Mereka meneruskan tradisi tentang apa yang terjadi pada Yesus, apa yang Dia perjuangkan, dan apa yang Dia lakukan secara lisan, dengan menceritakan dan mengulanginya. Dalam proses itu, mereka mendefinisikan Yesus bagi diri mereka sendiri."
Kenangan bersama yang diwariskan dari mulut ke mulut ini dikenal sebagai "tradisi lisan". Tradisi itu mencakup kisah-kisah tentang mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan Yesus, perumpamaan dan ajaran-Nya, serta kematian-Nya. Pada akhirnya, beberapa kisah mulai dituliskan. Dokumen-dokumen tertulis yang paling awal kemungkinan mencakup kisah tentang kematian Yesus dan kumpulan perkataan yang dikaitkan dengan-Nya.
Kemudian, sekitar tahun 70 M, penulis Injil yang dikenal sebagai Markus menulis Kitab Injil yang pertama -- kata "Injil" berarti "kabar baik" tentang Yesus. Kita tidak akan pernah mengetahui identitas asli penulisnya, bahkan apakah namanya benar-benar Markus, sebab pada zaman kuno karya tulis lazim dikaitkan dengan tokoh-tokoh terkenal. Namun, kita mengetahui bahwa kejeniusan Markus terletak pada tindakannya sebagai orang pertama yang menuangkan kisah Yesus ke dalam tulisan, dan dengan demikian memulai tradisi penulisan Injil.
"Kitab-kitab Injil merupakan jenis sastra yang sangat khas. Kitab-kitab itu bukan biografi," kata Prof. Paula Fredriksen, "melainkan semacam iklan keagamaan. Yang dilakukan kitab-kitab itu adalah memproklamasikan penafsiran masing-masing penulis terhadap pesan Kristen dengan memakai Yesus dari Nazaret sebagai juru bicara bagi posisi para penulis Injil."
Sekitar 15 tahun setelah Markus, kira-kira pada tahun 85 M, penulis yang dikenal sebagai Matius menyusun karyanya dengan menggunakan berbagai sumber, termasuk Injil Markus dan kumpulan perkataan yang kemudian oleh para ahli disebut "Q", dari kata Quelle yang berarti sumber. Injil Lukas ditulis sekitar 15 tahun kemudian, antara tahun 85 dan 95 M. Para ahli menyebut ketiga Injil ini sebagai "Injil Sinoptik" karena ketiganya "melihat" berbagai hal dengan cara yang serupa. Injil Yohanes, yang kadang disebut "Injil rohani", kemungkinan ditulis antara tahun 90 dan 100 M. Gaya dan penyajiannya jelas membedakannya dari ketiga Injil lainnya.
Kitab-kitab Injil merupakan jenis sastra yang sangat khas.
Masing-masing dari keempat kitab Injil menggambarkan Yesus dengan cara yang berbeda. Penggambaran ini mencerminkan pengalaman masa lalu dan keadaan khusus komunitas tempat para penulisnya berada. Bukti sejarah menunjukkan bahwa Markus menulis bagi komunitas yang sangat terdampak oleh kegagalan Pemberontakan Yahudi Pertama melawan Roma. Matius menulis bagi komunitas Yahudi yang sedang berkonflik dengan Yudaisme Farisi, yang mendominasi kehidupan Yahudi pada masa pascaperang. Lukas menulis bagi pembaca yang sebagian besar adalah orang non-Yahudi, yang ingin menunjukkan bahwa keyakinan Kristen sama sekali tidak bertentangan dengan kemampuan mereka untuk menjadi warga Kekaisaran yang baik.
Terlepas dari perbedaan-perbedaan tersebut, keempat kitab Injil sama-sama memuat "narasi penderitaan", yaitu kisah utama tentang penderitaan dan kematian Yesus. Kisah ini berkaitan langsung dengan ritus Kristen, yaitu Ekaristi. Seperti yang diamati Helmut Koester, ritus tersebut tidak dapat "hidup" tanpa kisah itu.
Selain menceritakan kisah tentang Yesus, kitab-kitab Injil juga mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara orang Kristen dan orang Yahudi. Pada waktu Lukas menyusun karyanya, ketegangan itu telah berkembang menjadi permusuhan terbuka. Pada waktu Yohanes ditulis, konflik itu telah menjadi perpecahan yang nyata, sebagaimana tercermin dalam bahasa sang penulis Injil yang tajam dan penuh kecaman. Menurut Prof. Eric Meyers, "Sebagian besar kitab Injil mencerminkan masa ketidaksepakatan, yaitu ketidaksepakatan teologis. Perjanjian Baru juga menceritakan kisah tentang hubungan yang retak, dan itu merupakan bagian dari kisah sedih yang berkembang antara orang Yahudi dan orang Kristen, sebab kisah itu membawa dampak yang sangat mengerikan pada masa-masa berikutnya." (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | FRONTLINE |
| Alamat artikel | : | https://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/story/mmfour.html |
| Judul asli artikel | : | An Introduction to the Gospels |
| Penulis artikel | : | Marilyn Mellowes |
- Log in to post comments