Bahkan sebelum Kitab-Kitab Injil ditulis, orang-orang Kristen mula-mula telah berkumpul di rumah-rumah dan ruang-ruang publik untuk menceritakan kisah tentang Yesus dan ajaran-Nya. Dalam Fresh Expressions dan berbagai bentuk komunitas Kristen inovatif lainnya yang berfokus pada orang-orang yang belum menjadi bagian dari gereja, praktik sederhana untuk membagikan kisah Yesus menghidupkan kembali tradisi ini pada masa kini.
"Kisah Yesus" adalah penuturan ulang yang singkat dan sederhana tentang sesuatu yang Yesus katakan atau lakukan, biasanya dalam lima menit atau kurang. Kisah ini dapat diceritakan oleh setiap murid Kristus, bukan hanya oleh rohaniwan. Kisah Yesus juga disertai pertanyaan-pertanyaan terbuka yang memantik diskusi. Saat orang-orang berkumpul di sekitar kisah Yesus, terbukalah ruang untuk percakapan yang jujur dan terbuka tentang sukacita maupun pergumulan hidup. Percakapan seperti ini dapat diikuti oleh orang-orang dari latar belakang agama apa pun, bahkan oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang agama.
Berikut ini beberapa petunjuk sederhana tentang cara menceritakan kisah Yesus. Seperti dalam Fresh Expressions atau pelayanan misi lainnya, jangan melakukannya seorang diri! Setidaknya, dua orang perlu bermitra untuk memimpin percakapan semacam ini (Luk. 10:1). Percakapan seperti ini paling baik dilakukan di rumah atau ruang-ruang komunitas tempat orang merasa nyaman untuk berkumpul, terutama ketika hubungan yang ditandai dengan sikap mendengarkan, mengasihi, dan membangun komunitas sudah mulai terbentuk.
Menyusun Kisah Yesus
Langkah 1: Pilihlah kisah Yesus dengan berdoa.
Carilah bagian Alkitab dengan sikap doa, dan mintalah Roh Kudus menuntun Anda saat membaca. Apa yang pernah Yesus katakan atau lakukan yang menyentuh hati Anda? Bacalah bagian itu beberapa kali. Rujuklah tafsiran Alkitab untuk melihat bagaimana orang lain memahami bagian tersebut.
Langkah 2: Tempatkan diri Anda dalam kisah Yesus.
Dalam doa, tanyakan kepada diri Anda mengapa kisah Yesus ini begitu bermakna bagi Anda. Mengapa kisah ini menyentuh jiwa Anda? Di bagian mana Anda melihat diri Anda dalam perkataan atau tindakan Yesus? Bagaimana kisah ini telah mengubah Anda? Jika kisah atau pengajaran tersebut tidak menggerakkan hati Anda secara pribadi, sebaiknya pilihlah kisah lain yang sungguh menyentuh Anda.
Langkah 3: Siapkan kisah Yesus.
Bagaimana Anda akan membagikan kisah Yesus ini kepada orang lain? Jika menuliskannya dapat membantu, silakan lakukan. Namun, akan lebih baik jika Anda dapat menceritakannya tanpa catatan. Anda juga dapat membaca bagian Alkitab itu dengan lantang, lalu melatih cara menyampaikannya kepada kelompok.
Langkah 4: Sampaikan kisah Yesus dalam 3-5 menit.
Ceritakan kisah Yesus itu kepada komunitas Anda. Cerita itu tidak perlu panjang. Tiga sampai lima menit adalah patokan yang baik. Anda dapat membaca beberapa ayat dari kisah tersebut dengan lantang, lalu meringkasnya. Cobalah memakai bentuk naratif seperti yang dijelaskan pada bagian II di bawah ini.
Langkah 5: Ajukan pertanyaan untuk memantik percakapan.
Berikut beberapa pertanyaan yang dapat Anda pertimbangkan: Seperti apa kisah ini jika terjadi pada masa kini? Bagaimana jika kisah Yesus ini benar? Jika kisah ini benar, perubahan apa yang akan terjadi dalam hidup saya? Apa yang sedang dikatakan kisah Yesus ini kepada saya? Apa satu hal kecil yang dapat saya ubah dalam kehidupan sehari-hari sebagai tanggapan terhadap kisah Yesus ini? Apa satu hal yang dapat saya lakukan dengan cara berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuka ruang bagi orang-orang yang bukan Kristen untuk ikut terlibat dalam percakapan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sengaja dirancang bukan sebagai pertanyaan dengan jawaban "benar atau salah", melainkan sebagai undangan untuk bertanya, merenung, dan menggali lebih dalam.
Menyampaikan Kisah Yesus
Bercerita adalah sebuah seni yang dapat terus diasah melalui latihan. Ingatlah empat gerakan dalam kisah Yesus yang baik:
1. Bangun ketegangan.
Ajaklah pendengar masuk ke dalam perjalanan naratif dengan sesuatu yang provokatif atau mengundang rasa ingin tahu, yang mengguncang keadaan semula. Misalnya: "Yesus menikmati makanan yang baik bersama orang-orang yang dianggap buruk." "Pernahkah Anda merasa najis?" "Yesus seolah-olah melakukan kelalaian sebagai gembala; Dia meninggalkan 99 domba di padang gurun untuk mencari satu domba liar yang hilang." "Ini kisah yang Yesus ceritakan tentang seorang penabur yang tampak ceroboh; Dia menaburkan benih yang baik dengan begitu murah hati ke mana-mana," dan sebagainya.
2. Lukiskan kisahnya.
Ceritakan kepada kelompok apa yang benar-benar dikatakan dalam kisah tersebut. Perhatikan detail-detail dalam teks yang dapat membuat kisah itu lebih hidup bagi para pendengar.
3. Bagikan pengalaman pribadi.
Mengapa kisah Yesus ini bermakna bagi Anda secara pribadi? Bagaimana kisah ini telah memulihkan, menantang, atau mengubah Anda? Bagikan kesaksian pribadi tentang karya Yesus dalam hidup Anda.
Setiap kali Anda berkumpul, undanglah orang lain untuk membagikan kisah Yesus.
4. Selesaikan ketegangan.
Akhirilah dengan menjawab pertanyaan yang Anda ajukan di awal atau dengan memulihkan ketegangan dari persoalan yang Anda angkat. Lebih baik lagi, ajaklah para pendengar untuk ikut menyelesaikan ketegangan itu melalui jenis-jenis pertanyaan yang telah disarankan sebelumnya.
Itu saja -- sesederhana itu! Setiap kali Anda berkumpul, undanglah orang lain untuk membagikan kisah Yesus. Berikan panduan ini kepada mereka agar mereka dapat terbantu.
Memfasilitasi Percakapan
Saat kita membagikan kisah Yesus, orang-orang yang belum nyaman mendengarkan khotbah pada Minggu pagi dapat menemukan ruang untuk bertanya dan ikut berdiskusi. Mereka dapat menanggapi dengan wawasan pribadi, pertanyaan, maupun tantangan. Dalam proses ini, "pemberita" beralih peran menjadi "fasilitator". Keterlibatan kelompok menggali hikmat bersama dari seluruh peserta. Pola ini meneladani Yesus, Sang Guru Agung, yang lebih banyak mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban. Yesus juga sering menceritakan kisah dan perumpamaan yang mengundang pertanyaan serta perenungan yang lebih dalam.
Berikut beberapa kunci untuk memfasilitasi percakapan:
1. Jangan mendominasi.
Setelah Anda menyampaikan kisahnya, peran Anda berubah menjadi fasilitator. Kini, tugas Anda adalah menggali pertanyaan dan wawasan dari orang lain dalam kelompok. Sumber hikmat bukan hanya satu orang di dalam ruangan; hikmat itu hadir melalui seluruh kelompok.[1]
2. Hargai setiap kontribusi.
Tidak ada jawaban yang benar atau salah; setiap kontribusi perlu dihargai dan diapresiasi. Berprasangka baiklah kepada setiap orang. Kadang-kadang, ada orang yang datang untuk mengganggu atau mengejek, tetapi sering kali mereka akhirnya tinggal untuk berdoa. Jika seseorang menyampaikan komentar yang menantang atau merendahkan, hargailah kontribusinya, lalu bingkailah kembali dengan bijak. Misalnya, "Itu cara yang menarik untuk memikirkan hal ini. Dalam tradisi Kristen, bagian ini biasanya dipahami seperti ini..." atau "Ini topik yang rumit, dan orang memahaminya dengan berbagai cara. Ini pemikiran saya... Apakah ada yang punya sudut pandang lain?" atau "Sepertinya ini sungguh menjadi pergumulan bagi Anda. Bisakah kita berbicara setelah pertemuan ini selesai?" Kuncinya adalah tidak menutup atau menyingkirkan orang, tetapi tetap melindungi orang lain dalam lingkaran percakapan.
3. Sebarkan kesempatan berbagi.
Beberapa orang mungkin sangat antusias dan ingin banyak berbicara. Biarkan mereka terlibat, tetapi jangan sampai satu atau dua orang mendominasi seluruh percakapan. Anda dapat mengatakan, "Saya melihat Anda sangat bersemangat tentang hal ini. Siapa lagi yang ingin ikut berbicara?" atau "Mari kita dengar dari seseorang yang belum berbagi." atau "Sebelum Anda berbagi lagi, mari beri kesempatan kepada semua orang untuk menyampaikan pendapat." Anda juga dapat menetapkan batasan sejak awal, misalnya, "Mari kita batasi waktu berbagi masing-masing 3-5 menit dan pastikan setiap orang mendapat kesempatan untuk berbicara sebelum ada yang berbagi lagi."
4. Jangan menyakiti.
Sebagai fasilitator, kita bertanggung jawab untuk meminimalkan kemungkinan orang lain terluka. Jika seseorang bersikap sangat kasar atau mengganggu, Anda mungkin perlu menyerahkan kelompok kepada rekan lain, lalu berbicara secara pribadi dengan orang tersebut. Kadang-kadang, Anda perlu berbicara secara langsung, misalnya, "Terima kasih sudah membagikan perspektif Anda. Apakah Anda menyadari bahwa hal itu dapat melukai orang lain di sini?" atau "Itu bukan fokus utama kisah Yesus ini. Bisakah kita membicarakannya setelah pertemuan?" atau "Saya bisa merasakan bahwa ini merupakan persoalan besar bagi Anda. Bisakah Anda tinggal sebentar setelah pertemuan agar saya dapat memahami Anda dengan lebih baik?" Dalam kasus yang ekstrem, Anda mungkin perlu meminta dukungan dari luar atau pihak berwenang, meskipun hal seperti itu sangat jarang terjadi. Prinsip utamanya adalah melindungi anggota kelompok.
Kesimpulan: Mengapa Kisah Yesus?
Berikut beberapa keunggulan utama dari bentuk pemberitaan seperti ini:
- Siapa pun dapat memimpin diskusi Alkitab ini. Ini adalah pelayanan "setiap anggota" (1 Ptr. 2:9).
- Para pencari dapat dengan mudah ikut terlibat, bahkan jika mereka agnostik, ateis, atau menganggap diri "spiritual tetapi tidak religius" (Kis. 8:26-40).
- Firman Tuhanlah yang melakukan pemberitaan Injil dan pemuridan, sementara Roh Kudus bekerja dalam hati setiap orang menurut waktu dan proses masing-masing (Rm. 10:17).
- Orang Kristen dapat membagikan iman mereka hampir tanpa menyadarinya. Anda tidak perlu menjadi murid yang sudah lama mengikut Kristus atau lulusan seminari untuk menceritakan sebuah kisah dan mengajukan beberapa pertanyaan (Mat. 25:37-38).
- Para pencari dapat melihat bagaimana Alkitab dan komunitas Kristen berdampak pada kehidupan (Yoh. 8:30).
- Kepemimpinan dibagikan kepada orang-orang baru sehingga komitmen mereka terhadap kelompok semakin bertumbuh (Yoh. 4:29).
- Orang Kristen baru belajar cara mempelajari Alkitab, menerapkannya dalam hidup, membagikannya kepada teman-teman, dan menemukan sumber-sumber yang bermanfaat (Yoh. 4:39-42).
- Jika pemimpin harus pindah, kelompok tetap memiliki cara untuk terus berjalan. Keberlanjutan sudah tertanam di dalamnya (1 Tes. 2:17).
Pendekatan ini menolong memberdayakan kaum awam dan memperluas jemaat menjadi seperti gugusan komunitas kecil yang tersebar di seluruh wilayah. Pertemuan-pertemuan ini berlangsung sepanjang tujuh hari dalam satu minggu kerja, pada waktu dan tempat yang berbeda-beda sehingga gereja menjadi lebih mudah diakses oleh mereka yang saat ini belum terhubung dengan jemaat mana pun.[2] (t/Jing-jing)
Catatan kaki
- Terima kasih saya sampaikan kepada Alan Hirsch, Rich Robinson, dan rekan-rekan dari Movement Leaders Collective atas wawasan ini.
- Terima kasih saya sampaikan kepada Dwight Zscheile dan rekan-rekan di Faith + Lead atas wawasan yang bermanfaat dalam mengembangkan praktik ini.
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | ChurchLeaders |
| Alamat artikel | : | https://churchleaders.com/voices/exchange/451504-how-to-tell-a-jesus-story.html |
| Judul asli artikel | : | How To Tell a Jesus Story |
| Penulis artikel | : | Michael Adam Beck |
- Log in to post comments