Skip to main content

Pada era sekarang ini, kita dituntut untuk serba "mobile". Kita lebih banyak keluar, lebih banyak bekerja "mobile". Jika kita dituntut untuk melakukan studi Alkitab, misalnya, kita tidak bisa melakukannya di sembarang tempat. Buku-buku cetak untuk belajar Alkitab ini tentunya terlalu berat untuk dibawa ke mana-mana. Namun, sebenarnya sejak kapan perpustakaan merupakan aspek penting untuk mempelajari firman Tuhan? Bukan baru-baru ini atau pada zaman modern ini, tetapi ketika zaman rasul-rasul, zaman Rasul Paulus perpustakaan sudah memiliki peran yang sangat penting. Kita ingat di salah satu surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada Timotius. Rasul Paulus meminta supaya ketika Timotius mengunjunginya dan membawakan jubah juga perkamen-perkamennya.

Charles Purgeon mengatakan bahwa Paulus adalah orang yang sangat berpendidikan, karena kita tahu latar belakangnya sebagai orang farisi yang juga pastinya sangat dididik dalam hukum taurat orang Yahudi waktu itu. Kita mengenal Paulus sebagai seorang rasul. Namun, dia tetap harus membaca, dia tetap menginginkan supaya ada bacaan yang dibawa kepada dia. Alkitab memang tidak menjelaskan perkamen-perkamen itu isinya apa, tetapi kita bisa menduga-duga kira-kira isinya apa. Bisa jadi itu surat yang dia tulis atau itu catatan pribadi dia tentang ketika dia mempelajari Kitab Suci. Namun, intinya adalah dia punya semacam perpustakaan yang bisa menolong dia untuk belajar. Demikian halnya, perpustakaan akan sangat menolong kita untuk mempelajari firman Tuhan. Entah kita sudah lama mempelajari Alkitab atau baru pertama kali membaca Alkitab, lambat laun kita akan mendapati bahwa ada hal-hal yang sulit dipahami dalam Alkitab. Itulah pentingnya untuk kita bisa punya satu alat bantu. Bukan hanya satu, tetapi alat-alat bantu yang bisa menolong kita untuk bisa menggali lebih dalam tentang firman Tuhan. Memiliki perpustakaan berarti kita memiliki akses kepada alat-alat itu. Karena itu, perpustakaan mempresentasikan pengetahuan, mempresentasikan wawasan dari bapak-bapak gereja dan juga orang-orang yang ahli di bidangnya yang benar-benar mempelajari firman Tuhan yang akan menolong kita untuk mempelajari firman Tuhan lebih mendalam lagi. Namun, karena waktu itu buku susah dibawa ke mana-mana dan pada zaman itu, mungkin pada waktu ayah saya juga seorang pendeta. Ketika ayah saya menggumuli firman Tuhan dan sedang mempersiapkan khotbah dan merenungi firman Tuhan, ada banyak buku yang dibuka di atas meja. Kalau kita bayangkan sebanyak itu bukunya mungkin kita tidak bisa melakukan studi Alkitab di mana-mana karena keterbatasan ruang. Namun, bersyukur karena berkat kemajuan teknologi, perpustakaan digital pun sudah dimungkinkan. Di mana perpustakaan digital itu? Perpustakaan digital itu ada di internet. Perpustakaan digital itu ada di komputer Anda. Ada di smartphone Anda. Ada di platform chat, di mana pun Anda bisa mengakses perangkat digital itu juga sudah tersedia. Pertanyaannya hanya: Apakah kita mau mengaksesnya atau tidak? Jadi, kita sangat bersyukur karena kemajuan teknologi, perpustakaan digital sudah dimungkinkan.

Sekarang muncul pertanyaan, kita sudah tertarik, kita tahu bahwa untuk saya bisa belajar lebih dalam tentang firman Tuhan, saya perlu alat bantu. Dan, saya tahu ketika saya punya perpustakaan digital itu, saya punya alat-alat yang bisa saya manfaatkan, yang bisa saya gunakan untuk saya bisa belajar lebih dalam. Pertanyaannya, apa saja sumber atau alat studi Alkitab yang kita perlukan untuk belajar Alkitab? Apa saja alat yang tersedia dan mana saja alat yang kita perlukan. Artikel ini akan membahas beberapa alat atau sumber bahan yang bisa kita gunakan untuk kita bisa belajar lebih dalam tentang firman Tuhan.

1. Alkitab

Alat yang pertama dan terutama dalam kita belajar Alkitab adalah Alkitab itu sendiri. Namun, bukan Alkitab sembarang Alkitab, tetapi Alkitab dalam berbagai versi. Sampai hari ini juga sangat disayangkan masih ada beberapa orang yang tidak tahu atau kurang mengerti bahwa terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia itu bukan hanya satu. Bukan hanya TB tahun 1994. Ada banyak terjemahan Alkitab lain yang bisa kita manfaatkan. Ada terjemahan bahasa Indonesia sehari-hari, terjemahan Shellabear yang menggunakan bahasa hijau, Alkitab yang Terbuka (AYT) dari YLSA juga yang sedang dikembangkan. Ada banyak versi terjemahan Alkitab. Mengapa kita menggunakan Alkitab dalam berbagai versi? Supaya kita bisa memahami, Alkitab itu ditulis dalam bahasa aslinya, yaitu Ibrani dan Yunani. Ketika itu diterjemahkan, mungkin ada beberapa konsep yang tidak bisa diterjemahkan secara sepadan. Mungkin ada beberapa terjemahan yang menggunakan alternatif terjemahan lain. Dengan membandingkan beberapa versi, kita bisa melihat satu kata bisa diinterpretasikan dari beberapa sudut pandang. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang ayat yang kita baca atau bagian pasal yang kita baca. Dan, dengan itu kita bisa melihat lebih dalam lagi tentang kata itu, tentang terjemahan itu. Jadi, dengan membandingkan beberapa versi sekaligus, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap.

2. Alkitab paralel.

Ada Alkitab yang secara khusus didesain untuk langsung mencantumkan beberapa terjemahan sekaligus. Misalnya, dalam contoh gambar yang saya berikan ini, ada 4 versi yang berbeda. Ini Lie man Bible, kalau tidak salah ada versi King James, Modern Language, Living Bible, dan Revised Standard. Ini hanya bisa 4 versi sekaligus. Namun, dengan Alkitab digital, kita bisa membandingkan lebih banyak versi sekaligus dan kita tidak perlu makan tempat sebesar ini. Kita hanya perlu satu perangkat, smartphone, atau laptop. Kita bisa membandingkan lebih banyak. Jika kita mengandalkan Alkitab cetak seperti itu, akan sangat terbatas. Mungkin ada banyak versi yang tidak dicetak lagi. Katakanlah Alkitab versi kuno, Alkitab bahasa Belanda -- Indonesia, itu sudah tidak dicetak lagi. Namun, kita bisa akses itu secara online. Ini menjadi keuntungan bagi kita ketika kita menggunakan platform digital, ketika kita menggunakan perpustakaan digital.

3. Alkitab dalam bahasa asli.

Jika kita bisa memahami bahasa asli Alkitab PL dalam bahasa Ibrani, PB dalam bahasa Yunani, kita akan lebih bisa memahami maksud dan konteks ayat yang sedang kita baca dalam bahasa aslinya sebagaimana yang dimaksud oleh penulisnya. Karena kalau berupa terjemahan, pasti ada proses interpretasi dari situ. Namun, jika kita bisa membaca dalam bahasa asli, itu akan sangat menolong. Lalu, untuk kita yang kesusahan ketika membaca bahasa asli, ada alat yang lain, yaitu Alkitab Interlinear. Alkitab interlinear adalah Alkitab yang meletakkan ayat-ayatnya dalam satu baris yang paralel dan kita bisa lihat paralel kata per kata. Misalnya, dalam kitab Kejadian adalah interlinear bahasa Yunani dan bahasa Inggris. Dari situ, kita bisa melihat kata apa diterjemahkan menjadi kata apa. Kita bisa mendapatkan manfaat dari Alkitab interlinear ini ketika terlibat dalam tim penerjemahan AYT. Jadi, kita bisa melihat bahasa asli, misalnya "kasih" (agapo) itu bisa diterjemahkan dalam beberapa "sense". Ketika kita melihat Alkitab interlinear ini dan membandingkan kata "Agapo" dalam sejarah penerjemahan Alkitab, ada yang menerjemahkan "kasih". Mungkin ada yang menerjemahkan "cinta" atau "sayang". Dari situ, kita bisa melihat koneksi dari setiap kata yang diterjemahkan dan kita bisa melihat pemahaman yang lebih luas dari kata dalam bahasa aslinya. Kita bisa memahami firman Tuhan lebih dalam dengan memanfaatkan terjemahan Alkitab.

4. Alkitab studi.

Alkitab yang sengaja didesain untuk mencantumkan beberapa sumber tambahan. Jadi, bukan hanya teks Alkitab yang ada di situ, tetapi juga ada pengantar singkat, fakta singkat, atau glosari dan semacamnya. Ini juga sangat menolong. Semuanya ini tersedia dalam platform online dan kita bisa temukan salah satunya di situs alkitab.sabda.org

Kategori yang kedua. Jika tadi kita membahas mengenai Alkitab dan menggali firman Tuhan dari jalur penerjemahannya. Kita juga bisa menggali lebih dalam dari jalur studi kata.

1. Kamus Alkitab

Misalnya, ada satu kata tertentu yang kita sangat kesulitan. Ini alat pertama dan akan dicari terlebih dahulu adalah kamus bahasa umum. Barangkali kita sedang membaca Alkitab dalam versi bahasa Inggris, lalu kita tidak tahu satu kata ini artinya apa. Lalu, kita bisa lihat kamus umum untuk tahu artinya apa. Bukan hanya bahasa asing, kadang ketika kita membaca bahasa Indonesia pun ada kata-kata yang mungkin terdengar aneh. Salah satu contoh yang sering dipakai di SABDA adalah kata "tilam". Kata "tilam" artinya kurang lebih semacam kasur. Namun, itu kata yang cukup tua nyaris kuno sehingga banyak orang yang tidak tahu lagi. Fungsi kamus bahasa umum adalah untuk mencari istilah atau nama yang dalam bahasa itu lalu melihat apa maknanya dan apa pemakaiannya. Lalu, kamus yang lebih kuat lagi adalah kamus Alkitab. Berbeda dengan kamus bahasa umum yang memuat nama atau istilah dalam bahasa itu dan maknanya. Kalau kamus Alkitab ini lebih spesifik, dia memuat istilah atau nama dalam Alkitab dan memberikan makna dan penggunaannya dalam konteks Alkitab (sejarah Alkitab). Misalnya, kita lihat di sini ada contoh nama "Abel", anak kedua dari Adam dan Hawa. Ada banyak istilah lain yang mungkin kita bisa belajar lebih banyak dari kamus Alkitab. Kamus Alkitab kadang menyertakan informasi historis tentang kata tertentu. Jadi, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kamus Alkitab.

2. Ensiklopedia Alkitab

Ensiklopedia Alkitab dapat dikatakan semacam kamus, tetapi lebih lengkap dan ekstensif. Ensiklopedia Alkitab adalah sumber bahan yang memuat keterangan dan uraian tentang berbagai hal dalam Alkitab, yaitu mencangkup detail sejarah dan budaya yang lebih mendalam seputar hal terkait. Ensiklopedia juga memiliki kategori istilah-istilah tertentu. Misalnya, khusus untuk binatang, serangga, makanan, atau bangsa-bangsa di sekitar Israel zaman PL. Ada banyak informasi yang kita dapatkan dari ensiklopedia. Kamus Alkitab relatif lebih kecil dan ensiklopedia biasanya jauh lebih besar karena informasi yang terkandung di dalamnya juga lebih banyak. Ada juga ensiklopedia fakta Alkitab, yang lebih sering dikenal dengan nama almanak (Bible almanak). Ada beberapa kategori yang kita bisa pelajari dari ensiklopedia ini seperti sejarah Alkitab, kronologi Alkitab, lalu ada bagian khusus tentang orang Persia, orang Romawi, dst..

3. Atlas Alkitab

Atlas Alkitab adalah koleksi peta dunia pada zaman Alkitab untuk memberikan perspektif geografis, historis, arkeologis, dan kultural terhadap berbagai peristiwa dalam Alkitab. Banyak orang mungkin beranggapan bahwa atlas Alkitab itu hanyalah atlas. Maksudnya, isinya hanya peta, padahal sebenarnya tidak. Jika atlas itu cukup bagus, biasanya atlas itu akan memuat informasi historis tentang tempat-tempat yang ditunjukkan dalam atlas itu. Misalnya, katakanlah tentang Gurun Sahara. Atlas yang bagus biasanya ada penjelasan juga apa pentingnya lokasi itu dalam sejarah Alkitab dan apa fakta historis yang terkait dengan tempat itu. Jadi, kita bisa belajar bukan hanya dengan cerita Alkitab (konteks Alkitab), tetapi kita bisa saling cek dengan aspek sejarah yang real. Itu tentang atlas Alkitab.

4. Kategori selanjutnya adalah tentang survei atau pengantar Alkitab. Salah satu alat yang sering dipakai adalah survei atau pengantar Alkitab dalam aplikasi Alkitab PEDIA. Di Alkitab PEDIA ini ada fakta tentang kitab yang sedang kita baca. Misalnya tentang Ezra, statistiknya ada 10 pasal 280 ayat, dst. Tema utamanya pemulihan kaum sisa, kedudukan dan kuasa firman, dst. Waktu penulisannya 450 -- 420 SM. Ada informasi tentang latar belakangnya, garis besarnya. Dan, ini menolong saya secara khusus untuk melihat informasi-informasi yang tidak akan langsung kentara kalau hanya membaca kitab Ezra langsung. Tapi, dengan membaca ini lebih dahulu ini jadi kayak pengantar sehingga saya lebih siap kitab Ezra dan bisa mendapatkan lebih banyak, lebih peka dengan tema-temanya, dst. Ini salah satu alat yang saya rekomendasikan secara pribadi. Kalau tadi kita belajar dari sisi penerjemahan, lalu kita belajar dari sisi studi kata, survei ini dari sisi ayat dari sisi perikop atau pasal. Dengan kata lain dari sisi konteksnya (baik konteks dekat maupun konteks luas).

5. Lalu, alat/sumber selanjutnya adalah Tafsiran. Secara pribadi saya kurang banyak menggunakan tafsiran karena saya punya kecenderungan ketika membaca tafsiran, saya akan langsung melompat ke kesimpulan yang sudah disediakan di tafsiran itu. Tapi, sebenarnya jika kita bisa menggunakan alat ini dengan baik. Kita bisa mendapatkan wawasan yang lebih banyak. Ini salah satu tafsiran yang terkenal. Tafsiran Matthew Henry yang SABDA juga proses untuk juga dimasukkan dalam aplikasi. Ada banyak catatan yang bisa kita pelajari dari apa yang sudah dipelajari oleh Matthew Henry. Ada banyak pemikiran yang kita bisa dapat dari situ. Dan, kita juga bisa kroscek, apakah ketika kita membaca Alkitab (belajar sesuatu dari Alkitab). Dengan membaca tafsiran kita bisa kroscek apakah ini yang memang disebutkan dalam Alkitab itu. Maksudnya jangan sampai kita jadi eksegese bukan belajar dari Alkitab tapi kita malah mendorong Alkitab berbicara seperti yang kita mau. Tafsiran dan komentari bisa menjaga kita dari itu dengan membandingkan apa yang dipelajari oleh bapak-bapak gereja sebelumnya dan juga catatan-catatan yang ada. Itu juga sangat membantu. Tapi, jangan lompat ke tafsiran ketika studi Alkitab supaya kita juga terlatih untuk mencari makan sendiri. Bisa mengunyah makanan keras sebelum dapat kesimpulan atau pelajaran yang lebih banyak dari tafsiran. Masih ada beberapa alat lagi.

6. Selanjutnya adalah konkordansi dan leksikon. Konkordansi dan leksikon ini adalah sumber bahan yang memuat daftar di mana suatu kata disebutkan dalam Alkitab. Konkordansi itu biasanya spesifik ke versi terjemahan tertentu. Misalnya kalau dalam bahasa Indonesia, saya tahu ada konkordansi untuk terjemahan baru. Dalam bahasa Inggris mungkin lebih banyak, ada untuk KJV, untuk NIV, dst. Lewat konkordansi kita bisa tahu di mana saja ayat yang membahasa tentang kata tertentu. Misalnya kata "Yesus" ada di mana saja dalam Alkitab atau kata "Adam", atau kata yang lain. Leksikon ini khusus untuk bahasa asli. Jadi, kurang lebih sama dengan konkordansi tapi dia mendaftarkan nama/istilah dalam bahasa asli. Ini sangat menolong untuk kita bisa lihat, katakanlah kita sedang mempelajari tentang satu ayat tertentu yang mengandung kata tertentu. Dan,kita ingin tahu apakah di seluruh Alkitab ketika kata ini dipakai memang itu yang dimaksudkan. Kita bisa cari di mana saja satu kata ini dipakai. Dan, kita bisa lihat di mana kata itu dipakai di setiap kata, disetiap ayat dalam Alkitab. Itu bisa sangat menambah wawasan kita juga.

7. Selanjutnya referensi silang. Referensi silang ini sangat menolong untuk kita bisa melihat ayat yang terkait dengan ayat yang disilangkan. Jadi, referensi silang ini untuk mengidentifikasi persamaan antarbagian yang berbeda dalam Alkitab, bisa dari tema, perkataan, peristiwa, atau orangnya. Kita bisa melihatnya di ayat 1 dalam Kejadian 1:1 terkait dengan Yohanes 1:1. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi", Yohanes 1:1 "Pada mulanya adalah firman". Kita bisa melihat referensi silang itu sangat melengkapi pengertian kita. Sepertinya index topikal juga salah satu bagian yang penting mirip dengan konkordansi. Bedanya konkordansi itu adalah mendaftarkan satu kata atau istilah yang memang secara literal ditulis dalam ayat itu. Namun, kalau index topikal, lebih berfokus pada topik. Jadi, ada ayat-ayat yang membahas tentang kasih misalnya, walaupun pada ayat itu tidak terdapat kata "kasih". Kita bisa menggunakan index topikal untuk mencari ayat-ayat semacam itu. Barangkali kita sedang menggumuli tentang pernikahan. Kita sedang melakukan konseling dengan seseorang. Kita bisa menggunakan index topikal untuk mencari ayat yang sesuai dengan topik tertentu. Kita bisa menggunakan itu untuk semakin memperkaya kita.

Ada juga survei Alkitab, sejarah, Bible Handbook (buku pegangan),garis besar, judul perikop dan itu semua sangat menolong. Alkitab PEDIA sudah disebutkan tadi, tetapi itu hanya sebagian kecil dari yang ada di Alkitab PEDIA. Selain itu, ada juga catatan kaki, catatan ayat, ilustrasi Alkitab, dan kumpulan khotbah yang juga sangat membantu. Untuk renungan (devotional), banyak orang sudah memakai dan merenungkannya. Buku kidung juga sangat menolong, khususnya kidung yang lama-lama, biasanya dibuat berdasarkan Mazmur, berdasarkan firman Tuhan.

Cerita anak apabila kita PA dengan anak kita/anak didik remaja. Catatan atau jurnal pribadi juga sangat menolong untuk kita bisa ingat apa saja yang kita pelajari dari ayat-ayat yang sudah kita baca. Semua ayat yang sudah kita bahas tadi, semua tersedia dalam bentuk cetak. Namun, sekarang juga sudah tersedia dalam bentuk digital dalam satu perpustakaan digital yang kita bisa akses kapan saja. Ketika kita sudah melihat alat dan sumber yang banyak ini muncul lagi pertanyaan yang tadi sudah diajukan, apa saja sumber/alat studi Alkitab yang kita perlukan untuk belajar Alkitab. Sebenarnya, pertanyaannya bukan ketika kita menjawab pertanyaan ini, kita tidak berfokus pada apa sumbernya atau apa alatnya, tetapi pada tujuan kita. Tujuan kita menggunakan alat bantu studi Alkitab adalah untuk bisa belajar lebih banyak tentang firman Tuhan yang kita baca supaya bisa menggali lebih dalam. Dengan demikian, perpustakaan digital ini akan sangat menolong apabila setidaknya kita punya masing-masing buku/alat dari masing-masing kategori tadi. Misalnya dari Alkitab, Alkitab sekarang sudah tersedia secara gratis, baik online maupun offline, dan bisa kita gunakan. Kita juga dapat menemukan banyak versi Alkitab untuk bisa dibandingkan, termasuk juga bahasa suku, walaupun mungkin belum semua. Namun, firman Tuhan lebih bisa mengena ke sanubari seseorang jika firman itu disampaikan ke dalam bahasa ibu/suku.

Lalu, kita juga bisa belajar dari studi kata. Setidaknya, kita punya kamus online, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus ini bisa kita akses secara gratis. Untuk bahasa Inggris, masih ada Kamus Oxford. Kita juga bisa memanfaatkan kamus-kamus yang lain. SABDA juga menyediakan kamus Alkitab di situs alkitab.sabda.org yang kita bisa akses kapan saja. Dari masing-masing alat studi itu, paling tidak kita punya satu macam tiap kategori. Kita bisa mempelajari dari berbagai falset yang berbeda. Jadi, tidak hanya belajar dari terjemahan karena suatu saat kita pasti akan bertemu satu kata yang sulit, mau tidak mau kita harus belajar dengan pendekatan studi kata. Namun, kita pun tidak bisa terus-menerus melakukan studi kata. Ada kalanya kita mengetahui kata ini artinya A, B, C, D, E, tetapi mana yang paling tepat. Kita harus bisa melihat konteksnya. Konteks ketika ayat itu dipakai, maka kita tidak bisa lagi menggunakan hanya studi kata, tetapi harus melihat bagaimana kata itu digunakan dalam konteksnya. Dengan begitu, perspektif kita akan lebih luas lagi.

Ada beberapa pendekatan dalam mempelajari Alkitab, seperti pendekatan dengan stetoskop (untuk melihat konteks yang lebih kecil). Jika konteks semakin meluas, maka perlu pendekatan periskop (konteks di sekitar ayat itu). Kita juga bisa menggunakan pendekatan teleskop supaya kita bisa melihat jauh jika itu susah dipahami. Dengan kata lain, stetoskop itu belajar tentang ayat (kata tertentu), periskop belajar tentang perikop (pasalnya) dalam artian konteks dekat dengan ayat yang kita pelajari, dan teleskop berkaitan antara bagian ayat dan bagian kitab dengan keseluruhan kitab. Dengan tema kitab itu atau juga dalam kaitannya dalam satu cerita Alkitab dalam satu cerita yang terpadu yang menuntun kepada Yesus. Ketika kita punya alat-alat tersebut, kita akan sangat terbantu untuk mendapat lebih banyak dengan memperluas perspektif. Tentunya, ini juga berlaku ketika kita menggunakan alat-alat ini dalam konteks studi berkelompok. Kita tidak hanya mendapatkan pelajaran dari apa yang Tuhan ilhamkan kepada kita melalui Roh Kudus. Namun, kita juga bisa belajar dari sejarah; apa saja yang Tuhan sudah ilhamkan kepada bapa gereja dan para penulis alat-alat studi Alkitab. Kita bisa sharing dengan teman-teman kita. Karena itu, justru semakin lebar dan semakin luas lagi bagi kita untuk mendapatkan jauh lebih banyak daripada kita tidak menggunakan alat studi Alkitab sama sekali. Atau, tidak ber-PA dengan teman-teman.

Jadi, memiliki pustaka digital berarti memiliki banyak sumber dan atau alat yang siap kita gunakan untuk menolong kita menggali firman Tuhan sesuai dengan kebutuhan kita. Apakah kita sedang membutuhkan studi satu topik tertentu? Apakah kita ingin membaca satu bagian ayat tertentu dalam garis sejarahnya? Atau, apakah kita sedang mempersiapkan renungan atau khotbah untuk satu retret dengan tema tertentu? Ada alat khusus untuk menolong kita melakukan hal-hal tersebut. Memiliki pustaka digital akan sangat menolong dan tidak perlu biaya mahal. Maksudnya, buku-buku yang ada dalam digital library banyak yang sudah tidak dicetak lagi. Kalaupun masih ada, kalau itu tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin harganya bisa sangat mahal karena harus diimpor dari luar negeri. Namun, dengan adanya pustaka digital, kita bisa mengakses itu kapan saja dan banyak bahan yang sudah dibagikan secara gratis, termasuk yang sudah SABDA lakukan selama ini. Kita sudah menerima dengan gratis, maka kami juga membagikannya dengan gratis. Itulah filosofi yang kami juga harap setiap orang Kristen bisa menghidupi ketika mendapatkan berkat dari firman Tuhan. Kita juga membagikan firman Tuhan secara gratis.

Pustaka digital ada di sekitar kita, tersedia di Handphone, di internet, di software, dll.. Pertanyaannya, apakah kita mau mengaksesnya atau tidak. Namun, ada juga hal lain yang perlu kita ingat. Ada satu kutipan dalam bahasa Inggris yang jika diterjemahkan kurang lebih, "Kita hanya bisa semakin baik untuk melakukan sesuatu". Dalam hal ini, kita bisa semakin ahli mempelajari Alkitab dengan banyak latihan. Kalaupun kita punya alat-alat yang benar, alat-alat yang tepat, tetapi kalau kita tidak bisa menggunakannya, tidak tahu cara menggunakannya atau bahkan tidak bisa menggunakannya secara maksimal, ya itu akan sama saja. Jadi, kita harus tahu alat apa yang tersedia dan digunakan untuk kepentingan apa. Bagaimana alat-alat itu bisa digunakan untuk memperdalam studi Alkitab kita? Yang terpenting, kita juga harus selalu ingat bahwa hanya Tuhan yang memberi pertumbuhan lewat firman-Nya. Alat hanya alat, dan kita harus selalu mengandalkan Tuhan ketika kita menggunakan alat-alat itu. Selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan pembelajaran Alkitab. Dan, apa pun yang kita baca, apa pun yang kita pelajari dari alat studi Alkitab, wawasan baru akan kita dapat dari sana. Hal itu harus tetap diuji dengan firman Tuhan sendiri. Karena tujuan kita menggunakan alat tersebut adalah untuk bisa lebih memahami firman Tuhan. Kita menggunakan alat, tetapi kita justru malah semakin bingung, ya itu berarti tujuannya tidak tercapai. Hanya Tuhan yang memberi pertumbuhan lewat firman-Nya. Kita tetap harus menggunakan alat-alat itu dalam hikmat Tuhan. Kita harus selalu meminta hikmat kepada Tuhan. Perpustakaan digital bisa kita akses karena sudah tersedia dan bisa digunakan secara maksimal untuk belajar Alkitab.

BaDeNo

SABDA Live

Info Corona

Mulai PA Online sekarang!

Ingin mengundang tim #Ayo_PA! ? Kunjungi link ini.

Kegiatan #Ayo_PA!