Mari kita bahas hal ini sejak awal.
Jika kita ingin menceritakan cerita Alkitab dengan baik -- jika kita ingin menyampaikan keindahan dan kuasa Injil dengan cara yang menarik -- hal itu membutuhkan usaha. Jadi, ya, waktu persiapan Anda akan bertambah seiring Anda mempelajari seni bercerita. Namun, ingatlah bahwa anak-anak Anda layak mendapatkan usaha ekstra ini! Waktu yang Anda butuhkan untuk mempersiapkan diri juga akan semakin singkat seiring Anda belajar lebih banyak tentang bercerita dan mempraktikkannya. Jadi, jangan terlalu stres jika pada awalnya proses belajar seni bercerita ini membutuhkan waktu lebih lama daripada yang Anda harapkan.
Namun, fakta bahwa Anda membaca blog ini menunjukkan bahwa Anda tidak keberatan berusaha lebih dalam menjalankan peran untuk mengarahkan anak-anak kepada Yesus. Jadi, mari kita terus melangkah.
Menyampaikan cerita yang menarik dimulai jauh sebelum Anda duduk atau berdiri di depan anak-anak. Proses itu dimulai ketika Anda pertama kali menyelami cerita Alkitab dan mempersiapkan diri untuk menyampaikannya.
Berikut 6 langkah yang dapat menolong Anda melakukan persiapan yang baik dan bermakna.
1. Baca Ceritanya

Mulailah dengan membaca cerita tersebut beberapa kali. Berikut saran Maxine Bersch dalam bukunya, "Storytelling in a Nutshell":
Bacalah cerita tersebut dengan suara lantang beberapa kali. Ini tidak berarti Anda harus membacanya secara berurutan, tetapi cukup luangkan waktu untuk duduk dan membacanya dengan suara lantang. Lalu, bacalah sebanyak yang diperlukan sampai Anda dapat menuliskan urutan peristiwa dalam susunan 1-2-3. -- Maxine Bersch, "Storytelling in a Nutshell: A Primer for Storytellers in Christian Education" (Genevox Music, 1998), 81.
Anda juga dapat mempertimbangkan untuk membaca cerita Alkitab dalam beberapa terjemahan yang berbeda agar mendapatkan nuansa yang berbeda. Anda mungkin juga ingin mendengarkan versi audio cerita tersebut melalui aplikasi Alkitab. Setelah Anda mampu menguraikan alur cerita dari ingatan, Anda siap melanjutkan ke langkah berikutnya.
2. Pahami Ceritanya
Setelah Anda familier dengan bagian utama yang akan disampaikan, kini saatnya memperluas pembacaan Anda kepada konteks cerita. Karena keterbatasan waktu, kita sering kali tidak dapat membahas cerita sebanyak yang kita inginkan dalam bagian utama. Namun, jangan biarkan hal itu menghalangi Anda untuk mengisi celah yang kadang muncul di antara cerita-cerita, atau bahkan di dalam satu cerita. Jadi, bacalah pasal-pasal di sekitar cerita tersebut agar Anda mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang apa yang sedang terjadi.
Dalam proses ini, ada kalanya Anda perlu benar-benar bekerja keras dan mempelajari teks dengan serius. Perhatikan baik-baik apa yang Anda baca. Cari tahu istilah-istilah yang belum Anda kenal. Gunakan referensi silang untuk menemukan kaitan-kaitan penting. Bacalah catatan kaki dalam Alkitab Anda atau gunakan tafsiran yang baik untuk menolong Anda memahami bacaan dengan lebih mendalam. Pastikan tidak ada pertanyaan besar yang masih mengganjal dalam pikiran Anda.
3. Pahami Tujuan Ceritanya
Pada tahap ini, Anda sudah memahami detail cerita -- “apa” yang terjadi di dalamnya. Kini saatnya melangkah lebih jauh dan memahami “mengapa” cerita itu penting.
Luangkan waktu untuk berdoa dan meminta Tuhan menolong Anda memahami tujuan dari apa yang Anda baca. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan? Tentang Yesus? Tentang Injil? Di sinilah pentingnya meluangkan waktu untuk merenungkan kaitan cerita tersebut dengan Kristus. Kaitan dengan Kristus memberi banyak jawaban atas “mengapa” dari cerita itu. Anda dapat memikirkannya sebagai tujuan akhir dari cerita yang akan Anda sampaikan. Maxine Bersch kembali memberikan saran yang bermanfaat pada tahap ini:
Penuhilah pikiran Anda dengan pembacaan Alkitab dan doa. Kasihilah semuanya; biarkan diri Anda dipenuhi olehnya. Ingatlah bagaimana perasaan Anda ketika pertama kali mendengar cerita itu. Cobalah menangkap kembali rasa kagum terhadap cerita tersebut. -- Maxine Bersch, "Storytelling in a Nutshell", 136.
4. Finalisasi Ceritanya
Pada tahap ini, Anda siap untuk berfokus pada naskah cerita Alkitab yang disediakan dalam panduan pemimpin. Pertama, bacalah kembali naskah itu dan sesuaikan berdasarkan hasil studi Anda. Anda lebih mengenal anak-anak dan konteks pelayanan Anda daripada kami. Jadi, Andalah yang paling tahu apakah perlu menambahkan beberapa detail, menghapus bagian tertentu, menggunakan kata atau frasa dari terjemahan Alkitab yang Anda pilih, atau membuat penyesuaian agar sesuai dengan waktu dan gaya bercerita Anda.
Allah yang sama, yang menciptakan alam semesta dengan perkataan-Nya, tinggal di dalam Anda dan memberi Anda kekuatan-Nya.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini. Pertama, pertimbangkan peringatan dari Maxine Bersch:
Tidak pernah tepat untuk memulai cerita Alkitab dengan kata-kata, “Pada suatu hari...” karena pada usia ini mereka mengaitkan kata-kata pembuka tersebut dengan cerita khayalan. -- Maxine Bersch, "Storytelling in a Nutshell", 32.
Kedua, berhati-hatilah untuk tetap sedekat mungkin dengan teks Alkitab. Kita mungkin tergoda untuk menambahkan detail demi memberi warna dan membuat cerita lebih menarik. Namun, semakin banyak hal yang kita tambahkan, semakin kabur pula firman Tuhan yang sedang kita sampaikan.
5. Baca, Rekam, dan Dengarkan Ceritanya
Setelah naskah Anda selesai, rekamlah diri Anda saat membacakan cerita itu dengan suara lantang. Kemudian, dengarkan rekamannya. Pada tahap ini, jangan terlalu khawatir tentang teknik bercerita Anda. Yang perlu Anda dengarkan adalah alurnya. Apakah ceritanya masuk akal? Apakah ada bagian yang terlewat? Apakah ada bagian yang sebenarnya tidak diperlukan? Apakah ceritanya terlalu panjang? Lakukan revisi yang diperlukan dan ulangi proses ini sampai Anda mendapatkan naskah akhir.
6. Hafalkan Ceritanya
Oke. Sekarang semuanya menjadi lebih serius. Saya tahu gagasan ini membuat banyak dari Anda yang baru saja membacanya merasa gentar -- termasuk saya. Namun, jika Anda ingin menjadi pencerita terbaik yang Anda bisa, Anda benar-benar perlu menghafal cerita tersebut.
Dalam bukunya, "The Fabulous Reinvention of Sunday School" (Zondervan, 2007), Aaron Reynolds sangat menganjurkan penghafalan cerita Alkitab. Reynolds menyampaikan bahwa menghafal cerita:
- Membuat Anda lebih terarah dalam apa yang Anda ajarkan.
- Menolong Anda lebih peka terhadap Roh Kudus. Saat mempersiapkan diri dan mengajar, Anda tidak perlu khawatir tentang bagian berikutnya.
- Membuka ruang bagi keunggulan. Hal ini membebaskan Anda untuk berfokus pada momen-momen kreatif, bukan pada naskah.
- Memperkuat pengajaran Anda. Anda dapat menyampaikan kebenaran dari hati, bukan sekadar membaca kata-kata dari halaman.
Dia juga memberikan empat tip praktis untuk menghafal:
- Bagi materi menjadi bagian-bagian kecil. Pecahlah cerita menjadi potongan-potongan yang lebih mudah Anda kuasai. Hafalkan satu per satu.
- Beri catatan pada naskah. Ini sangat membantu bagi pembelajar visual. Gunakan kode warna, misalnya dengan menyoroti semua dialog dalam satu warna.
- Tulis ulang. Menuliskan naskah beberapa kali dapat membantu memperkuat ingatan.
- Rekam dan dengarkan. Putar rekaman itu di mobil saat perjalanan atau saat Anda berolahraga.
Setelah Anda menghafal cerita Alkitab tersebut, Anda siap melangkah ke tahap berikutnya dan mulai memikirkan cara menyampaikannya dengan menarik. Namun, sebelum kita mengakhiri artikel ini, izinkan saya membagikan satu tip lagi.
Jika Anda mengikuti semua langkah ini, mungkin Anda mulai bertanya-tanya bagaimana mungkin semua ini diselesaikan dalam satu minggu. Itu pertanyaan yang bagus. Jawabannya: kemungkinan besar tidak bisa. Anda benar-benar perlu mengerjakan beberapa persiapan secara bertahap dan mulai lebih awal. Jadi, pada waktu yang sama, Anda mungkin sedang membaca dan mempelajari satu cerita, menulis naskah untuk cerita kedua, menghafal cerita ketiga, bahkan mungkin mempersiapkan diri untuk menyampaikan cerita keempat. Namun, dengarkan ini: Anda bisa melakukannya! Allah yang sama, yang menciptakan alam semesta dengan perkataan-Nya, tinggal di dalam Anda dan memberi Anda kekuatan-Nya. Bersandarlah kepada-Nya. Dia tidak akan meninggalkan Anda sendirian. Jangan pernah melupakan 1 Korintus 15:58 (AYT):
"Jadi, Saudara-saudaraku seiman yang kekasih, berdirilah kuat, jangan goyah, melimpahlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab, kamu tahu bahwa jerih lelahmu tidak sia-sia di dalam Tuhan."
Dengan demikian, saya juga ingin menguatkan Anda yang mungkin masih merasa kewalahan. Ambillah satu atau dua langkah kecil saja! Tidak harus semuanya atau tidak sama sekali. Lakukan apa yang dapat Anda lakukan. Satu atau dua langkah kecil itu dapat membawa perbedaan besar. Anda tidak pernah tahu. Jadi, lakukanlah apa yang dapat Anda lakukan, dan percayalah bahwa Tuhan akan bekerja melalui Anda bagi kemuliaan-Nya. (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Lifeway |
| Alamat artikel | : | https://gospelproject.lifeway.com/bible-storytelling-preparing-to-tell-the-story/ |
| Judul asli artikel | : | Bible Storytelling: Preparing to Tell the Story |
| Penulis artikel | : | Brian Dembowczyk |