Menceritakan Kitab Suci

Menceritakan Kitab Suci adalah praktik berinteraksi dengan Kitab Suci yang digunakan di berbagai tempat di seluruh dunia. Menceritakan Kitab Suci merupakan proses untuk menolong orang menemukan kebenaran Alkitab melalui mendengarkan dan mendiskusikan kisah-kisah Alkitab.

Dalam proses ini, seorang pengajar menceritakan sebuah kisah Alkitab dari ingatan kepada sekelompok orang. Para pendengar kemudian bekerja sama untuk menceritakan kembali kisah itu kepada pengajar sebaik mungkin. Setelah itu, pengajar mengulangi kisah tersebut sampai semua pendengar mengingatnya. Kelompok itu kemudian mendiskusikan kisah tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupan mereka sendiri (lihat kotak "5 Pertanyaan" untuk contoh pertanyaan diskusi). Setelah proses ini selesai, setiap orang yang telah mengingat dan mendiskusikan kisah itu bersama-sama didorong untuk membagikan bagian Alkitab tersebut kepada orang lain. Dalam arti tertentu, mereka menjadi Alkitab yang hidup, berjalan, dan berbicara.

Salah satu kekuatan dari Menceritakan Kitab Suci terletak pada proses mendengarkan. Pernahkah Anda memperhatikan betapa sering Alkitab menggunakan kata "mendengar", tetapi betapa jarangnya menggunakan kata "membaca"? (Lihat kotak samping "Ayat-Ayat Pilihan tentang Mendengar firman Tuhan".) Para ahli Alkitab mengatakan bahwa Alkitab sebenarnya adalah kitab yang dirancang untuk didengarkan, bukan untuk dibaca sendiri secara pribadi. Hal itu bahkan belum praktis dilakukan sampai mesin cetak ditemukan dan Alkitab akhirnya menjadi lebih banyak tersedia.

Inserted image

Menceritakan Kitab Suci adalah cara yang sangat efektif untuk menolong orang berinteraksi dengan Kitab Suci karena dilakukan dalam konteks kelompok. Proses ini menumbuhkan interaksi di antara anggota kelompok saat mereka bersama-sama mencoba menceritakan kembali kisah tersebut, lalu mendiskusikan bagaimana bagian Alkitab itu bersentuhan dengan kehidupan mereka. Proses ini juga memberi kesempatan kepada pemimpin kelompok untuk melihat isi hati para anggotanya. Saat anggota kelompok membagikan hal-hal yang menarik perhatian mereka dan menghubungkan kisah Alkitab itu dengan kehidupan mereka, pemimpin kelompok dapat lebih memahami kehidupan rohani mereka. Selain itu, Menceritakan Kitab Suci juga mencegah pemimpin mendominasi diskusi sepenuhnya. Pemimpin memang berperan penting sebagai fasilitator, tetapi fokus kelompok tetap berada di tempat yang seharusnya -- pada firman Tuhan.

Alkitab sebagai Kisah

Mungkin Menceritakan Kitab Suci memiliki dampak yang begitu besar karena Alkitab penuh dengan kisah. Beberapa ahli Alkitab memperkirakan bahwa 70 persen isi Alkitab berbentuk kisah. Yesus adalah Guru yang sempurna, dan Dia mengajar melalui kisah. Dia menjawab pertanyaan orang-orang dengan kisah, menjelaskan kebenaran melalui kisah, dan mengecam orang-orang Farisi melalui kisah. Kisah adalah cara Yesus membagikan hidup-Nya ketika Dia berada di bumi, dan melalui kisah pula kita dapat mengenal-Nya sekarang.

Menceritakan Kitab Suci adalah cara yang sangat efektif untuk menolong orang berinteraksi dengan Kitab Suci karena dilakukan dalam konteks kelompok.

Kita akan lebih terbantu dalam berinteraksi dengan Alkitab jika melihat kitab yang istimewa ini sebagai satu kisah dengan banyak bagian yang menyatu menjadi satu keseluruhan yang dapat dipahami. Alkitab adalah kisah Allah tentang penebusan. Alkitab adalah narasi yang utuh dan terpadu tentang karya Allah yang terus berlangsung dalam kerajaan-Nya (pemerintahan/misi Allah di dunia). Alkitab tidak boleh dibaca sebagai kumpulan acak yang terdiri dari sejarah, puisi, pelajaran moral dan teologi, janji-janji penghiburan, atau prinsip serta perintah sebagai pedoman hidup. Sebaliknya, kita perlu menghubungkan setiap bagian -- setiap amsal, nyanyian, surat, nubuat, atau perumpamaan -- dengan kisah yang lebih besar. Setiap bagian Alkitab harus dipahami dalam konteks satu alur cerita besar: Allah menebus segala sesuatu kembali kepada diri-Nya melalui Yesus.

Dengan mengatakan bahwa Alkitab adalah sebuah kisah, kita tidak sedang mengatakan bahwa Alkitab adalah rekaan. Alkitab disebut sebagai kisah karena memiliki alur, tokoh, dan para penulis.

Salah satu cara untuk memahami alur Alkitab adalah dengan melihatnya sebagai satu kisah besar (metanarasi) yang digambarkan seperti drama dalam enam babak. Babak-babak itu adalah:

  • Babak Satu: Allah Menciptakan Dunia
  • Babak Dua: Pemberontakan dalam Dunia Allah
  • Babak Tiga: Misi Israel (gagal)
  • Babak Empat: Misi Kristus (berhasil)
  • Babak Lima: Misi Gereja (orang-orang Kristen melanjutkan Misi Kristus)
  • Babak Enam: Penciptaan Baru

Kitab Suci menceritakan kepada kita kisah tentang apa yang nyata dan penting di dunia ini -- sebuah kisah yang jauh lebih besar daripada kisah yang disampaikan oleh budaya kita. Salah satu cara untuk memandang kehidupan Kristen adalah dengan bertanya, "Kisah siapa yang akan saya percayai -- kisah budaya saya atau kisah Allah yang terdapat dalam Alkitab?" Datanglah kepada kisah-kisah Alkitab dan pelajarilah siapa Allah, siapa kita, untuk apa kita hidup, serta apa yang baik dan indah.

Mengapa Kisah?

Dengan semua pilihan yang tersedia bagi Allah untuk berkomunikasi dengan kita, mengapa Dia memberikan Alkitab yang berisi begitu banyak kisah? Berikut beberapa alasan mengapa kisah memiliki dampak yang begitu besar:

  • Kisah adalah cara kita mengenal satu sama lain. Saat bertemu dengan seseorang yang baru, kita biasanya tidak menyampaikan fakta-fakta umum tentang diri kita. Sebaliknya, kita membagikan kisah kita. Alkitab adalah Allah yang menceritakan kisah-Nya kepada kita, menyatakan diri-Nya kepada kita supaya kita dapat menjumpai dan mengenal Dia. Alkitab adalah penyataan Allah.
  • Ada yang mengatakan bahwa kisah adalah cara terbaik untuk berbicara tentang keadaan dunia yang sesungguhnya. Kisah adalah cara utama manusia memahami pengalaman mereka. Ketika sesuatu yang penting terjadi kepada kita, kita segera mengubah pengalaman itu menjadi kisah supaya kita dapat memberinya makna dan membagikannya kepada orang lain.
  • Kisah mengundang kita untuk ikut terlibat. Dengan melibatkan imajinasi, kita masuk ke dalam kisah tersebut dan terhubung dengan emosi serta pikiran kita. Kisah memanggil kita untuk bertindak.
  • Kisah menjangkau semua kelompok usia dan membangun jembatan lintas budaya. Kita dapat terhubung dengan kisah-kisah Alkitab karena orang-orang dalam kisah itu hidup di dunia yang penuh dengan manusia berdosa dan berantakan, dengan pergumulan yang sama seperti yang kita hadapi hari ini. Kisah memungkinkan kita berinteraksi dengan orang-orang dan peristiwa dari masa lalu serta dari berbagai budaya.
  • Manusia tampaknya merindukan kisah. Itulah sebabnya kita membaca buku, menonton film, dan bersemangat menceritakan kepada orang lain apa yang terjadi kepada kita di toko minggu lalu. Kita mencintai kisah karena kita hidup di dalam sebuah kisah. Setiap orang menjalani kisahnya sendiri dan menyaksikan orang lain menjalani kisah mereka. Kisah adalah bagian yang membentuk kehidupan kita.

Pembelajar Lisan

Kadang-kadang, kita mendengar bahwa cara untuk bertumbuh sebagai orang Kristen adalah dengan "berdoa dan membaca Alkitab". Ya, tetapi bagaimana dengan orang yang bukan pembaca? Bagaimana dengan para pembelajar lisan? Diperkirakan bahwa pembelajar lisan, yaitu orang-orang yang belajar lebih baik melalui mendengarkan daripada membaca, mencakup lebih dari 70 persen populasi dunia. Pembelajar lisan bukan hanya orang-orang yang tidak dapat membaca atau menulis, melainkan juga mereka yang tidak lebih suka membaca atau menulis. Banyak orang yang dapat membaca dan menulis, tetapi lebih suka belajar secara lisan karena mereka bukan hanya pembelajar lisan, melainkan juga pemikir lisan. Pemikir lisan cenderung memahami berbagai hal secara relasional, belajar melalui pengamatan dan peniruan. Hal ini berbeda dari pemikir literat, yang dalam pembelajarannya lebih berbasis gagasan, linear, logis, dan analitis. Kedua cara ini memiliki manfaatnya masing-masing. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita perlu melayani kebutuhan keduanya.

Meskipun Menceritakan Kitab Suci tidak hanya ditujukan bagi pembelajar lisan, metode ini sangat efektif bagi mereka. Menceritakan Kitab Suci memungkinkan pembelajar lisan mendengar Kitab Suci dan membicarakannya dalam komunitas, persis seperti cara belajar yang paling sesuai bagi mereka. Sebenarnya, cara ini juga selaras dengan cara Yesus mengajar ketika Dia berada di bumi.

Kesimpulan

Menceritakan Kitab Suci adalah cara yang sederhana, kuat, dan komunal untuk berinteraksi dengan Kitab Suci. Kadang-kadang, kita membuat proses menggali Alkitab menjadi terlalu rumit. Membaca dan mendiskusikan Alkitab secara terbuka dan jujur bersama orang lain, seiring waktu, akan mengubah hidup. Ini adalah praktik berinteraksi dengan Kitab Suci yang perlu dicoba oleh semua orang. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Bible Gateway
Alamat artikel : https://www.biblegateway.com/resources/scripture-engagement/storying-scripture/home
Judul asli artikel : Storying Scripture
Penulis artikel : Tim Bible Gateway
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!