Dalam Penginjilan, Ceritakan Sebuah Kisah

 

Saya merasa salah satu hambatan terbesar dalam memberitakan Injil adalah karena kita sering tidak tahu bagaimana memulai percakapan dengan orang lain. Situasinya mirip seperti masa-masa Anda berpacaran (dan tentu saja, sebagian dari Anda mungkin masih berada di fase itu!) -- ketika Anda sangat ingin menghampiri seorang gadis cantik dan meminta nomor teleponnya, tetapi akhirnya mengurungkan niat karena takut salah bicara dan justru membuatnya menjauh selamanya.

Inserted image

Sekarang bayangkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar mencari pasangan hidup: memberitakan Kabar Baik tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus. Tekanannya tentu terasa lebih besar -- ini menyangkut perkara kekekalan. Lalu, bagaimana kita memperkenalkan dasar-dasar utama kekristenan yang murni ke dalam percakapan sehari-hari? Tanpa sadar, kita bisa membuat orang yang belum mengenal Kristus terkejut ketika langsung melaju dari "nol ke 60" dalam hitungan detik dengan berani mengatakan, "kamu adalah seorang pendosa!" tanpa pengantar apa pun. Tanpa mengurangi atau mengencerkan Injil, bagaimana kita dapat memberitakan Kabar Baik itu sambil tetap menjangkau mereka secara lebih ramah dan personal?

Kita bisa menceritakan sebuah kisah.

Orang biasanya lebih mau mendengarkan dan lebih mudah terhubung ketika ada cerita yang dapat mereka pahami dan rasakan, yang menyertai gagasan yang ingin kita sampaikan. Coba ingat beberapa cerita favorit Anda dalam film atau buku. Hampir semuanya mengikuti pola yang sama: seorang tokoh utama diperkenalkan, tokoh itu menghadapi persoalan, lalu dia menemukan jalan untuk mengatasi kesulitan tersebut dan pada akhirnya menang. Boom, boom, boom -- itulah pola cerita tiga bagian.

Kita pun dapat memakai pola itu saat menceritakan kehidupan dan pengalaman pribadi kita. Misalnya, kita bisa berbagi bagaimana dahulu kita hidup dalam dosa, bahkan mungkin terikat pada kecanduan, kebiasaan buruk, atau sisi gelap yang menyeret kita ke dalam keputusasaan. Ketika kita merasa sudah benar-benar berada di titik terendah, kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dalam hidup kita. Sejak saat itu, kita diselamatkan, dipulihkan oleh Allah, dilahirkan kembali, dan dibebaskan dari belenggu dosa. Kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus dan mulai berjalan menuju kehidupan yang Allah rancangkan bagi kita -- termasuk menjadi suami dan ayah seperti yang Dia kehendaki.

Kita bahkan dapat menceritakan kisah besar tentang Allah dan penciptaan sebagai sebuah alur cerita yang utuh -- bagaimana manusia jatuh ke dalam dosa dan membutuhkan seorang Penyelamat. Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia masuk ke dalam kisah itu. Dia menjadi manusia di dalam Yesus Kristus dan membayar hukuman atas dosa-dosa kita di kayu salib, supaya kita dapat memiliki hubungan yang dipulihkan dengan Allah melalui Dia.

Kita bahkan dapat menceritakan kisah besar tentang Allah dan penciptaan sebagai sebuah alur cerita yang utuh.

Bahkan di dalam Kitab Kisah Para Rasul, para rasul memakai pendekatan bercerita ini ketika mereka menuturkan kembali sejarah iman Yahudi yang pada akhirnya menunjuk kepada Yesus, yang menggenapi nubuat dalam Perjanjian Lama tentang Juru Selamat dan Mesias yang dijanjikan.

Karena itu, setiap kali Anda memiliki kesempatan untuk membagikan Injil dan tidak tahu bagaimana menyampaikan konsep teologis yang lugas secara langsung, ingatlah untuk membagikan kesaksian Anda. Atau, ceritakan saja kisah dasar Alkitab tentang Yesus. Lawan bicara Anda kemungkinan besar akan lebih terbuka terhadap pesan Injil dan mungkin terdorong untuk mempertimbangkan menerima Yesus secara pribadi. Cobalah. Semakin sering Anda melakukannya, semakin terampil Anda dalam memberitakan Injil. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : The Official Scott Roberts Website
Alamat artikel : https://scottroberts.org/in-evangelism-tell-a-story/
Judul asli artikel : In Evangelism, Tell a Story
Penulis artikel : Scott Roberts
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!