Cerita Seluruh Alkitab, Bagian Satu: Versi Super Singkat, Sepuluh Menit

Dahulu saya merasa sudah cukup memahami Alkitab.

Namun, ketika kuliah, saya tercengang saat menyadari bahwa saya bahkan tidak bisa membedakan siapa ayah dari siapa. Saya juga tidak pernah menyadari bahwa pada suatu masa Israel mengalami perang saudara dan terpecah menjadi dua kerajaan!

Saya memang tumbuh dengan mendengarkan cerita-cerita Alkitab, tetapi semuanya tidak disampaikan secara berurutan. Saya tidak pernah melihat keterkaitan di antara cerita-cerita itu, padahal semuanya saling terhubung.

Karena itulah, tulisan ini adalah upaya saya untuk membuat Alkitab lebih mudah dipahami oleh siapa pun yang tertarik, tetapi belum terlalu familier dengannya.

PERINGATAN: Saya bukan teolog terlatih.

Ini hanyalah ringkasan kisah Alkitab yang menurut saya masuk akal, dan saya berharap juga masuk akal bagi Anda.

Inserted image

Tulisan ini tentu tidak menggantikan membaca Alkitab secara langsung. Saya hanya berharap rangkuman ini dapat membantu Anda melihat gambaran besarnya dan memahami konteksnya.

Catatan: Saya merekomendasikan untuk menjelajahi The Bible Project jika Anda ingin mendapatkan gambaran yang lebih mendalam tentang setiap kitab, serta berbagai tema dan konsep dalam Alkitab. Mereka membuat video animasi profesional untuk setiap kitab dalam Alkitab dan berbagai topik lainnya yang mudah ditonton dan dipahami.

Sebelum kita masuk ke 35 poin, berikut ini adalah Alkitab dalam satu kalimat:

Allah menciptakan segala sesuatu. Namun, manusia memberontak terhadap-Nya, merusak dunia, dan menghancurkan hidup mereka sendiri -- sehingga Allah datang dalam pribadi Yesus untuk menanggung dosa manusia dan menyelamatkan umat manusia yang telah rusak. Suatu hari nanti, Dia akan memulihkan manusia dan dunia ke keadaan sempurna seperti semula.

Cerita Alkitab dalam 35 Poin:

Perjanjian Lama

  1. Allah menciptakan dunia dan manusia. Segala sesuatu baik adanya.
  2. Kemudian manusia tidak menaati Allah. Mereka meninggalkan rumah pertama mereka -- Taman Eden -- lalu bertambah banyak dan memenuhi bumi.
  3. Kejahatan manusia menjadi begitu besar sehingga Allah memusnahkan mereka dengan air bah -- kecuali seorang pria bernama Nuh dan keluarganya.
  4. Dari keturunan Nuh lahirlah seorang pria bernama Abraham. Allah berjanji bahwa dia akan menjadi bapa dari bangsa yang besar. Namun, terlebih dahulu dia harus meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke negeri yang baru, di wilayah timur Laut Mediterania.
  5. Cucu Abraham, Yakub, mencuri hak kesulungan dan berkat dari kakak kembarnya, Esau, lalu melarikan diri. Pada akhirnya dia berdamai dengan kakaknya dan dengan Allah, dan namanya diubah menjadi Israel. Dia memiliki 12 anak laki-laki dari 4 perempuan, salah satunya bernama Yusuf.
  6. Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya yang iri hati ke Mesir sebagai budak. Di sana, dia akhirnya menjadi orang nomor dua di seluruh Mesir.
  7. Ketika terjadi kelaparan hebat, Yusuf berdamai dengan saudara-saudaranya dan membawa seluruh keluarganya pindah ke Mesir untuk menetap di sana. Seiring waktu, jumlah orang Israel bertambah sangat banyak. Orang Mesir menjadi takut kepada mereka dan akhirnya memperbudak mereka.
  8. Demikianlah keturunan Abraham -- yang kini dikenal sebagai orang Israel -- hidup sebagai budak di Mesir selama ratusan tahun, sampai Allah membebaskan mereka melalui seorang pria bernama Musa dan sepuluh tulah. Ingat film Prince of Egypt? Kisah itulah yang menjadi dasar film tersebut.
  9. Musa -- atau lebih tepatnya Allah melalui Musa -- memimpin orang Israel dalam perjalanan panjang melintasi padang gurun menuju Tanah Perjanjian, yaitu Kanaan, tempat Abraham dahulu tinggal. Dalam perjalanan itu, mereka mengalami banyak peristiwa ajaib, termasuk menerima Sepuluh Perintah Allah yang diberikan Allah kepada Musa.
  10. Setelah Musa meninggal, Yosua mengambil alih kepemimpinan dan membawa bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan.
  11. Bangsa Israel harus berhadapan dengan bangsa-bangsa penyembah berhala di sekitar mereka. Kadang mereka berperang, kadang mereka justru bersekutu. Mereka tidak setia kepada Allah dan berulang kali jatuh ke dalam penindasan bangsa-bangsa asing.
  12. Setiap kali bangsa Israel berseru meminta pertolongan, Allah mengutus hakim-hakim dan nabi-nabi untuk membebaskan mereka serta mengingatkan mereka agar kembali setia kepada-Nya.
  13. Pada masa nabi terakhir dalam periode itu, yaitu Samuel, bangsa Israel meminta seorang raja. Permintaan ini membuat Samuel marah karena seharusnya Allah sendirilah Raja mereka.
  14. Allah mengizinkan mereka memiliki seorang raja -- Saul. Dia mengawali pemerintahannya dengan baik, tetapi kemudian jatuh ke dalam kemerosotan moral dan kegilaan.
  15. Pada masa itu, musuh terbesar orang Israel adalah bangsa Filistin. Mereka memiliki seorang pejuang andalan -- seorang raksasa bernama Goliat. Seorang gembala muda bernama Daud mengalahkan Goliat. Allah kemudian menetapkan dia sebagai raja berikutnya, dan hal itu membuat Saul sangat marah. Saul berusaha membunuh Daud, tetapi gagal. Akhirnya Saul tewas dalam peperangan.
  16. Daud pun menjadi raja. Secara umum, dia adalah raja yang baik. Namun, dia melakukan perzinaan dan pembunuhan. Dia bertobat dan diampuni, meskipun tetap ada konsekuensi atas dosanya.
  17. Setelah Daud, anaknya Salomo naik takhta dan membawa Israel memasuki masa keemasan. Dia membangun Bait Suci pertama bagi Allah di Yerusalem. Namun, ketika Salomo menjadi tua, seribu istri dan gundiknya membuat dia berpaling dari Allah dan mulai menyembah ilah-ilah mereka. Karena itu, Allah menyatakan bahwa kerajaannya akan terpecah.
  18. Anak Salomo, Rehabeam, menjadi raja berikutnya. Kesombongannya membangkitkan kemarahan rakyat, dan kerajaan pun terpecah menjadi dua: Israel di utara yang dipimpin oleh Yerobeam, dan Yehuda di selatan yang dipimpin oleh Rehabeam, keturunan Daud.
  19. Kerajaan utara, Israel, dipimpin oleh serangkaian raja yang jahat -- mereka menyembah ilah-ilah asing, menindas rakyat, dan melakukan pembunuhan. Pada akhirnya, kerajaan itu ditaklukkan oleh bangsa Asyur dari timur dan rakyatnya dibawa ke pembuangan.
  20. Kerajaan selatan, Yehuda, memang sedikit lebih baik. Namun, pada akhirnya mereka juga ditaklukkan -- kali ini oleh bangsa Babel -- dan dibawa ke pembuangan. Bait Suci Allah dihancurkan. Baik Israel maupun Yehuda sebenarnya telah berulang kali diperingatkan oleh Allah tentang kehancuran yang akan datang melalui nabi-nabi seperti Hosea, Yoel, Amos, dan Obaja, yang kitab-kitabnya termasuk dalam Perjanjian Lama.
  21. Pada masa pembuangan inilah kisah Daniel dan Ester berlangsung, sebagaimana dicatat dalam Perjanjian Lama.
  22. Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Babel digantikan oleh Kerajaan Persia. Di bawah pemerintahan Persia, orang-orang Israel diizinkan kembali ke tanah mereka untuk membangun kembali kehidupan mereka -- di sinilah kisah dalam kitab Ezra dan Nehemia berlangsung.
  23. Mereka yang memilih pulang ke tanah Israel mulai membangun kembali rumah-rumah mereka, Bait Suci Allah, dan tembok kota Yerusalem, sedikit demi sedikit.
  24. Setelah itu, ada rentang waktu yang panjang antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada masa itu banyak peristiwa terjadi, tetapi tidak dicatat dalam Alkitab -- termasuk pemberontakan Makabe dan awal mula tradisi Hanukkah. Kemudian bangsa Romawi tampil sebagai kekuatan besar dunia dan menguasai wilayah tersebut. Mereka kembali menghancurkan Bait Suci di Yerusalem. Bait itu lalu dibangun kembali oleh Herodes Agung, salah satu raja boneka Romawi -- itulah sebabnya masih ada Bait Suci pada zaman Yesus.

Perjanjian Baru

  1. Ketika Perjanjian Baru dimulai, bangsa Romawi telah menguasai dunia yang dikenal saat itu, termasuk wilayah yang dahulu adalah Yehuda dan Israel.
  2. Yesus lahir di Betlehem. Sekitar tiga puluh tahun kemudian, Dia mulai berkeliling ke daerah-daerah yang dahulu merupakan Israel Utara dan Yehuda Selatan untuk mengajar, menyembuhkan orang sakit, dan mengumpulkan murid-murid.
  3. Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Allah, memberitakan datangnya Kerajaan Surga, dan menegur para pemimpin agama yang munafik. Hal itu membuat banyak orang marah, terutama para pemimpin agama tersebut.
  4. Para pemimpin agama yang iri ini kemudian mendesak bangsa Romawi untuk menghukum mati Yesus dengan cara disalibkan.
  5. Tiga hari setelah kematiannya, Yesus bangkit. Setelah beberapa waktu bersama para pengikutnya dan memberikan pesan-pesan terakhir, Dia naik ke surga.
  6. Para murid dan para pengikut Jalan -- sebutan bagi orang-orang Kristen mula-mula -- memberitakan Injil, yaitu kabar baik tentang Yesus, di wilayah Yudea kepada orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi.
  7. Para pengikut Jalan mengalami penganiayaan dan tersebar ke berbagai tempat, sambil terus membawa berita tentang Yesus ke seluruh dunia yang mereka jangkau.
  8. Pada masa itu, salah satu pemimpin penting dalam Kekristenan adalah Paulus, yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus. Hidupnya berubah secara ajaib ketika Yesus menampakkan diri kepadanya dalam cahaya dari surga.
  9. Paulus menulis banyak surat kepada jemaat-jemaat yang bertumbuh di berbagai kota di wilayah Mediterania. Surat-surat itu membentuk sebagian besar isi Perjanjian Baru. Selain Paulus, ada juga murid-murid dan orang-orang yang mengenal Yesus secara pribadi, seperti Petrus dan Yakobus, yang turut menulis bagian-bagian lain.
  10. Hampir semua murid asli akhirnya mati karena iman mereka, demikian juga banyak orang Kristen lainnya. Tidak semua kematian itu dicatat dalam Alkitab. Yang dicatat hanyalah kematian Yakobus dan Stefanus -- yang bukan termasuk dua belas murid, tetapi merupakan tokoh penting dalam gereja mula-mula. Informasi tentang kematian murid-murid lainnya berasal dari catatan para sejarawan kuno di luar Alkitab.
  11. Alkitab ditutup dengan kitab Wahyu, yang berisi nubuat tentang akhir dunia dan kedatangan Yesus kembali untuk memperbarui bumi serta menjadikannya baru dan sempurna sekali lagi.

Fakta menarik tambahan tentang Israel

Berabad-abad sebelum peristiwa itu terjadi, Alkitab menubuatkan bahwa Israel akan dihancurkan setelah kematian Yesus "Yang Diurapi" (lihat Daniel 9:24-26). Yesus juga menubuatkan kehancuran Bait Suci dan Israel sebelum Dia mati dalam Matius 24:1-2). Namun, firman Tuhan juga menyatakan bahwa pada suatu waktu kelak Israel akan dipulihkan kembali sebagai satu bangsa, tidak lagi terpecah seperti sebelumnya (Yehezkiel 37:22).

Sekitar tahun 70 M -- kurang lebih empat puluh tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus -- bangsa Yahudi hampir sepenuhnya dihancurkan oleh bangsa Romawi. Bait Suci dihancurkan untuk terakhir kalinya, dan orang-orang Yahudi tercerai-berai ke berbagai wilayah.

Pada 14 Mei 1948, setelah Perang Dunia II, Negara Israel secara resmi dibentuk kembali oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Fakta menarik tentang nama-nama:

Istilah "Yudaisme", "Yahudi", "Yudea", dan sejenisnya berasal dari nama Yehuda, anak keempat Lea, istri pertama Yakub -- yang adalah anak Ishak dan cucu Abraham. Yehuda merupakan nenek moyang Daud dan, pada akhirnya, Yesus.

Mengapa kita menggunakan istilah anti-Semitisme dan bukan anti-Yudaisme? Kata "Semitisme" berasal dari nama Sem, anak Nuh, yang menjadi nenek moyang orang-orang Yahudi.

Alkitab bukan sekadar kumpulan cerita besar. Memang ada banyak kisah yang saling terhubung, tetapi ada juga kitab-kitab yang bukan berbentuk narasi, seperti Mazmur, Amsal, dan Kidung Agung, serta surat-surat dalam Perjanjian Baru. Selain itu, ada kitab yang memadukan cerita dengan unsur lain -- puisi, hukum, serta daftar panjang seperti silsilah dan rincian bahan maupun ukuran pembangunan Bait Suci.

Kedua Belas Suku Israel

Yakub -- yang juga disebut Israel, dan dari namanyalah muncul sebutan "Israel" serta nama negara modern "Israel" -- memiliki dua belas anak laki-laki. Pada awalnya memang ada dua belas suku Israel. Namun, nama-nama suku itu tidak persis sama dengan nama kedua belas anaknya.

Hal ini terjadi karena Yusuf, anak kesayangan Yakub, memiliki dua anak laki-laki -- Manasye dan Efraim -- yang masing-masing diberi status sebagai suku. Akibatnya, ada suku Manasye dan suku Efraim, tetapi tidak ada suku yang memakai nama Yusuf.

Di sini muncul persoalan: jumlahnya menjadi tiga belas suku. Lalu, bagaimana kembali menjadi dua belas?

Suku Lewi tidak menerima bagian tanah ketika Yosua membagi Kanaan kepada kedua belas suku lainnya, sebab mereka memiliki peran khusus.

Suatu hari nanti, Dia akan memulihkan manusia dan dunia ke keadaan sempurna seperti semula.

Pada mulanya, anak sulunglah yang dikhususkan untuk melayani Allah. Itulah sebabnya, pada peristiwa Paskah di Mesir, setiap anak sulung yang tidak dilindungi oleh tanda darah pada ambang pintu rumah mereka mati.

Namun, ketika Musa berada di Gunung Sinai untuk menerima Sepuluh Perintah Allah dan bangsa Israel menyembah patung anak lembu emas di bawah gunung, suku Lewi tetap setia kepada Allah.

Karena itu, mereka dipisahkan dan dikhususkan untuk melayani Allah. Keistimewaan yang semula diberikan kepada anak sulung kemudian dialihkan kepada suku Lewi.

Jadi, ketika bangsa Israel akhirnya memasuki Tanah Perjanjian, suku Lewi tidak menerima wilayah khusus seperti suku-suku lainnya. Sebaliknya, mereka ditempatkan di kota-kota yang tersebar di antara seluruh suku Israel.

Penataan ini kemungkinan bertujuan untuk menjaga persatuan bangsa Israel dan memelihara kesetiaan mereka kepada Allah.

Sementara para imam -- keturunan Harun -- melayani di Bait Suci yang dibangun Salomo di Yerusalem, orang-orang Lewi tersebar di berbagai wilayah untuk memastikan ajaran Allah tetap diajarkan dan dipelihara di antara kedua belas suku Israel.(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Medium
Alamat artikel : https://medium.com/the-write-purpose/the-story-of-the-entire-bible-part-one-the-super-short-ten-minute-version-dc9d11e00dcf
Judul asli artikel : The Story of the Entire Bible, Part One: The Super Short, Ten-Minute Version
Penulis artikel : Sarah Cy
Memuat data...

Mulai PA Online sekarang!