Bagaimana Keterlibatan dengan Alkitab Berbeda dengan Studi Alkitab?

Keterlibatan dengan Alkitab bukanlah hal yang sama dengan studi Alkitab. Ini merupakan pelengkap dari studi mendalam tentang Alkitab. Dalam proses mempromosikan keterlibatan dengan Alkitab, hal terakhir yang ingin kita lakukan adalah mengurangi pentingnya studi Alkitab. Mari kita jelaskan dengan tegas: Studi Alkitab adalah hal yang mutlak diperlukan dalam kehidupan Kristen. 2 Timotius 2:15 mengajarkan bahwa kita harus mendekati Alkitab sebagai "pekerja yang . . . mengajarkan perkataan kebenaran dengan tepat." (AYT)

Para pengajar Alkitab adalah karunia dari Allah bagi kita (1 Korintus 12:28). Yesus datang sebagai Guru (Yohanes 13:13). Rasul Paulus adalah seorang ahli (Kisah Para Rasul 22:3). Studi induktif Alkitab—proses mengamati, menafsirkan, dan menerapkan Alkitab—adalah cara kita memahami maksud Alkitab. Kita harus tahu maksud Alkitab jika kita ingin memiliki pemahaman yang akurat tentang Allah saat kita berjumpa dengan-Nya.

Melampaui pengetahuan

Namun, hanya mempelajari Alkitab saja tidak cukup. Mungkin saja mempelajari Alkitab menjadi sekadar latihan akademis, mempelajari dengan cara yang pada akhirnya tidak berdampak pada pertumbuhan rohani. Anda mungkin pernah bertemu orang-orang yang memiliki pengetahuan intelektual tentang suatu topik tanpa perubahan hati atau kehidupan, semacam filsafat yang kosong.

Di sisi lain, tujuan keterlibatan dengan Alkitab bukanlah untuk menjadi terlalu subjektif dengan Alkitab sehingga menjauh dari makna asli suatu ayat. Prinsip dasar studi Alkitab adalah bahwa suatu ayat tidak bisa memiliki makna yang sama sekali berbeda bagi pembaca modern dibandingkan dengan penulis aslinya. Pertanyaan tunggal yang tidak boleh diajukan adalah, “Apa arti ayat ini bagi saya?” Mungkin saja kita terlibat atau merenungkan sesuatu yang tidak benar dan sesuatu yang sebenarnya tidak dimaksudkan oleh ayat tersebut. Melakukan hal ini adalah subjektivisme yang tidak bertanggung jawab. Kita semua pernah melihat orang-orang yang mendasarkan tindakan mereka pada hal yang mereka anggap sebagai ajaran Alkitab, padahal sebenarnya bukan itu yang Alkitab katakan.

Inserted image

Keterlibatan dengan Alkitab memanggil kita untuk menganalisis dan menerapkan Alkitab—memiliki pengetahuan tentang teks beserta wawasan pribadi tentang teks tersebut. Keterlibatan dengan Alkitab mendorong kita untuk mendengarkan dengan pikiran dan hati. Ini adalah proses pembelajaran penemuan. Proses idealnya adalah mendekati Alkitab dengan terlebih dahulu berusaha keras untuk mempelajari artinya. Langkah berikutnya adalah merenungkan, dalam kuasa Roh Kudus, makna ayat tersebut bagi hidup dan komunitas Anda. Refleksi akan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang makna teks dan mendorong Anda kembali untuk mempelajari, yang kemudian akan mengarah pada kebutuhan untuk refleksi lebih lanjut. Siklus studi-refleksi-studi-refleksi, yang mengarah pada hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kehidupan yang berubah, adalah proses paling kuat untuk pertumbuhan rohani.

Apakah proses refleksi perlu diajarkan?

Sedikit yang akan membantah kebutuhan untuk mengajarkan orang cara mempelajari Alkitab—mempelajari prinsip-prinsip penafsiran Alkitab (hermeneutika), memahami konteks historis dan budaya Alkitab, dan mempelajari makna kata-kata dalam bahasa asli Alkitab, semua itu penting dalam memahami makna Alkitab. Akan tetapi, bukankah orang secara alami reflektif? Setelah mereka memahami perkataan Alkitab secara intelektual, bukankah mereka akan bertindak berdasarkan pemahaman itu? Faktanya, bagi kebanyakan dari kita, hal itu tidak berjalan seperti itu. Pemahaman tidak sama dengan pertumbuhan rohani. Dalam beberapa hal, memahami Alkitab secara intelektual adalah proses yang lebih mudah. Proses refleksi, tempat di mana kita paling mungkin bertemu dengan Allah dan diubah oleh-Nya, adalah proses yang khususnya perlu kita pelajari.

Mengapa merenungkan Alkitab sering kali begitu sulit?

Salah satu alasan orang menghindari refleksi adalah kecenderungan alami mereka untuk menghindari hal-hal yang akan menyebabkan perubahan. Bertemu dan mengenal Allah selalu merupakan proses yang mengubah hidup dan selalu untuk kebaikan kita. Namun, hal itu melibatkan kematian terhadap diri kita sendiri, yang bisa menakutkan (Matius 16:24). Mempelajari Alkitab untuk informasi dapat dilakukan dengan semangat mencoba menguasai teks sehingga kita yang mengendalikan Alkitab daripada menempatkan diri kita di bawah otoritas Firman Allah (pikirkan tentang orang-orang Farisi). Bertemu dengan Allah akan mengubah hidup kita. Bersedia mengakui bahwa kita membutuhkan perubahan (Markus 2:17) adalah langkah pertama yang kritis dalam keterlibatan dengan Alkitab. Tabiat dosa dan kesombongan kita melawan penyerahan diri kepada pekerjaan pembaruan Allah dalam hidup kita.

Studi Alkitab adalah hal yang mutlak diperlukan dalam kehidupan Kristen.

Keterlibatan dengan Alitab juga sulit karena merenungkannya menjadi proses yang melibatkan seluruh diri. Untuk membaca Alkitab secara rohani, kita melibatkan akal budi dan emosi kita. Saat merenungkan suatu ayat, kita harus mempertimbangkan perubahan dalam kehidupan pribadi dan komunitas. Menggunakan akal budi, emosi/sikap, dan perilaku/tindakan kita bersama-sama di hadapan Roh Kudus adalah cara yang kuat untuk bertumbuh secara rohani. Hal ini melibatkan seluruh diri kita dengan mengekspos semua aspek hidup kita kepada Firman Allah. Ini jauh lebih sulit daripada hanya menggunakan sebagian kecil otak kita untuk sekadar membaca permukaan suatu ayat Alkitab, yang mencegah Firman Allah menembus hidup kita.

Kesimpulan

Kita dapat belajar tentang studi Alkitab dari guru dan ahli yang baik, tetapi kebanyakan dari kita masih perlu belajar lebih banyak tentang merenungkan Alkitab untuk pertumbuhan rohani. Ada teknik dan praktik yang telah dipelajari gereja selama bertahun-tahun yang dapat bermanfaat bagi kita masing-masing. Bayangkan bermain sepak bola (atau football bagi sebagian besar dunia). Dasar-dasar sepak bola cukup sederhana: "Tendang bola ke gawang." Bahkan, anak-anak dapat memainkan permainan ini, dan dengan latihan dan bimbingan yang baik, anak-anak tersebut dapat tumbuh menjadi atlet tingkat Piala Dunia yang brilian, ahli dalam permainan. Hal yang sama berlaku untuk Keterlibatan dengan Alkitab. Anda mungkin sudah berinteraksi dengan Alkitab pada tingkat tertentu, dan dengan latihan dan bimbingan, Anda akan tumbuh dalam keterampilan yang mengubah hidup dalam berinteraksi dengan Alkitab. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Thomas Nelson Bibles
Alamat artikel : https://www.thomasnelsonbibles.com/blog/how-is-scripture-engagement-different-from-bible-study/
Judul asli artikel : How is Scripture Engagement Different from Bible Study?
Penulis artikel : Dr. Phil Collins

Mulai PA Online sekarang!