Saya menyukai cerita yang bagus. Saya bisa terhanyut dalam halaman-halaman buku ketika para tokohnya berusaha melarikan diri dari Nazi Jerman, memecahkan misteri pembunuhan di lanskap berbatu Wyoming Barat, atau menavigasi pasang surut kehidupan saat pindah dari kota besar ke kota kecil yang akrab dan hangat. Namun, sebesar apa pun kecintaan saya pada fiksi, saya lebih tertarik pada kisah orang-orang nyata -- mereka yang telah melewati rintangan luar biasa, mengalami penderitaan mendalam, memilih tetap mengikuti Kristus, dan sebagai orang biasa dipakai Tuhan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Orang-orang seperti Corrie ten Boom, Darlene Diebler Rose, Louis Zamperini, atau sahabat-sahabat dekat yang mungkin tidak terkenal bagi dunia, tetapi sangat berarti bagi saya.
Namun, bagaimana jika Corrie ten Boom tidak pernah menulis tentang pengalamannya selama Perang Dunia II? Bagaimana jika Louis Zamperini berkata, "Tidak, terima kasih," ketika diminta membagikan kisahnya? Bagaimana jika teman kuliah saya tidak meluangkan waktu untuk menjelaskan kepada saya apa arti memiliki saat teduh? Berapa banyak orang, termasuk saya, yang mungkin kehilangan kesempatan untuk mendengar pesan Injil yang mengubahkan hidup?
Jangan Simpan untuk Diri Sendiri
Allah telah memberikan kepada masing-masing kita sebuah kisah. Mungkin kisah itu tidak sedramatis kisah Corrie ten Boom atau tidak cukup spektakuler untuk difilmkan seperti kisah Louis Zamperini, tetapi setiap kisah dapat dipakai Allah untuk menjangkau seseorang dan pada akhirnya mengarahkannya kepada Yesus. Karena itu, kita tidak seharusnya menyimpannya untuk diri sendiri.
Selama bertahun-tahun, ada banyak kesempatan ketika saya memilih diam tentang kisah hidup saya. Terkadang saya meragukan apakah cara saya mengenal Kristus sekuat kesaksian orang lain, sehingga saya membiarkan mereka yang berbicara dan saya tetap diam. Pada waktu lain, saya merasa tidak ada orang yang akan benar-benar memahami pergumulan saya. Ada juga saat-saat ketika saya merasa malu atas pilihan-pilihan berdosa di masa lalu atau menganggap pergumulan yang saya alami seharusnya tidak terjadi pada seorang pengikut Kristus yang sejati.
Allah telah menenun alur-alur khusus dalam hidup saya untuk menunjukkan betapa saya membutuhkan-Nya dan untuk membentuk saya semakin serupa dengan Anak-Nya.
Namun, tidak satu pun dari alasan itu benar. Allah memang menenun alur-alur khusus dalam hidup saya untuk menyadarkan saya akan kebutuhan saya akan-Nya dan untuk membentuk saya semakin serupa dengan Anak-Nya. Saya tidak tahu bagaimana dia akan memakai setiap kisah itu, tetapi saya tidak perlu mengetahuinya. Tanggung jawab saya adalah menceritakannya kepada orang lain.
Contoh dalam Kitab Suci
Dalam seluruh firman Tuhan, Allah memberikan teladan agar kita menceritakan kisah hidup kita. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk "menceritakan" kepada anak-anak mereka tentang perintah-perintah-Nya (Ul. 6:6–8; Ul. 11:18–21) dan tentang segala yang telah dia lakukan bagi Israel (Yl. 1:3). Kemudian, Yosua memerintahkan satu orang dari setiap suku untuk mengambil batu-batu dari Sungai Yordan dan mendirikan tugu peringatan. Melalui tugu itu, mereka dapat menunjukkannya kepada anak-anak mereka dan menceritakan segala yang telah Tuhan lakukan di tempat tersebut.
Kitab Mazmur juga mengundang kita untuk bersaksi tentang apa yang Allah kerjakan dalam hidup kita: "Datang dan dengarlah, kamu semua yang takut akan Allah! Aku akan menceritakan apa yang Dia perbuat terhadap jiwaku" (Mzm. 66:16, AYT). Beberapa pasal kemudian, pemazmur menegaskan bahwa dia tidak dapat berdiam diri tentang perbuatan Tuhan:
"Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu
dan keselamatan-Mu sepanjang hari ...
Aku akan datang dengan kekuatan Tuhan ALLAH,
aku akan mengingat keadilan-Mu saja."
Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan banyak contoh orang yang menceritakan kisah mereka. Perempuan di sumur (Yoh. 4:1–42). Pria yang kerasukan banyak roh jahat dan dibebaskan (Mrk. 5:1–20). Pria yang buta sejak lahir lalu dapat melihat (Yoh. 9:1–25). Perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun dan seketika sembuh setelah menyentuh jubah Yesus (Luk. 8:43–48). Masing-masing mengalami perubahan hidup yang luar biasa karena Yesus, dan masing-masing memberitakan kepada orang lain apa yang telah dia lakukan bagi mereka.
Dan siapa yang dapat melupakan Rasul Paulus? Kita melihat beberapa kesempatan ketika Paulus menceritakan kisahnya. Dalam Kisah Para Rasul 9, para rasul takut kepadanya. Namun, dia telah menceritakan kepada Barnabas apa yang terjadi di jalan menuju Damaskus, lalu Barnabas menyampaikannya kepada yang lain (ay. 27). Dalam Kisah Para Rasul 22, Paulus ditangkap di Yerusalem dan meminta kesempatan berbicara kepada orang banyak. Dia berdiri di tangga Bait Suci dan menceritakan secara terperinci siapa dirinya dahulu, bagaimana dia bertemu Yesus, dan apa yang Allah panggil untuk dia kerjakan. Kemudian, dalam Kisah Para Rasul 26, Paulus dibawa menghadap Raja Agripa dan sekali lagi menyampaikan kisah pertobatannya dengan rinci.
Kita tidak mengetahui bagaimana Allah memakai kisah Paulus dalam hidup setiap orang yang mendengarnya, tetapi kita tahu kisah itu membawa dampak besar bagi jemaat mula-mula. Kisahnya terus memberi pengaruh yang kuat hingga hari ini. Saya sendiri bersyukur karena dia memilih untuk menceritakannya.
Lima Alasan Mengapa Kita Perlu Menceritakan Kisah Kita
Anda mungkin mengakui betapa kuatnya kisah Paulus. Namun, kemungkinan besar Anda tidak pernah menganiaya orang Kristen atau berjumpa dengan Yesus di jalan menuju Damaskus. Lalu, mengapa kisah Anda penting untuk diceritakan? Saya dapat memikirkan setidaknya lima alasannya.
1. Kita menceritakan kisah kita karena Allah memerintahkannya.
Jika ini satu-satunya alasan, itu sudah lebih dari cukup. Dalam banyak aspek kehidupan, kita sering berusaha mencari kehendak Allah secara khusus bagi diri kita. Namun, dalam hal ini, kita tidak perlu mencari-cari lagi. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk "pergilah ke seluruh dunia dan beritakan Injil kepada semua ciptaan" (Mrk. 16:15, AYT). Mazmur 107:2 juga berkata, "Biarlah tebusan TUHAN mengatakan demikian" (AYT). Kita menceritakan kisah kita karena dia sendiri yang memerintahkannya.
2. Kita menceritakan kisah kita untuk kemuliaan Allah.
Sebagai orang percaya, segala sesuatu yang kita lakukan seharusnya bertujuan untuk memuliakan-Nya, termasuk perkataan yang keluar dari mulut kita (1 Kor. 10:31). Apa cara yang lebih indah untuk memuliakan dia selain menceritakan bagaimana dia menolong kita melewati masa-masa sulit, bagaimana dia mencukupi kebutuhan kita ketika kita tidak melihat jalan keluar, dan bagaimana dia mengambil kepingan-kepingan hidup yang hancur lalu membentuknya menjadi sesuatu yang indah? Ketika kita melakukannya, kita sedang membiarkan "[cahaya] kita bersinar di hadapan orang lain, sehingga mereka dapat melihat [perbuatan baik] kita dan memuliakan [Bapa] kita di surga" (Mat. 5:16).
3. Kita menceritakan kisah kita untuk membagikan Injil.
Ketika saya mengingat kisah-kisah yang paling memengaruhi hidup saya -- baik yang terkenal maupun yang tidak dikenal luas -- semuanya memuat jejak Injil. Kisah-kisah itu mengingatkan saya akan kasih Allah yang kekal dan bagaimana dia menyediakan jalan agar kita diampuni serta dipulihkan hubungannya dengan-Nya. Di dalamnya ada kesaksian tentang kasih karunia Yesus yang ajaib, tentang pengampunan, dan tentang kuasa-Nya yang sanggup mengubah hidup.
Saat seseorang membagikan kisah hidupnya kepada saya secara pribadi, biasanya dia tidak menyampaikan Injil dalam bentuk presentasi yang sistematis. Sebaliknya, dia menceritakan bagaimana Yesus telah bekerja dan terus bekerja dalam hidupnya. Dia "siap ... untuk memberi jawaban kepada siapa pun yang menuntutmu ... mengenai pengharapan yang kamu miliki" (1 Pet. 3:15, AYT). Demikian pula seharusnya kita.
4. Kita menceritakan kisah kita untuk menguatkan orang lain.
Dalam masa-masa hidup ketika saya merasa paling putus asa dan sendirian, kisah orang lain yang menempuh jalan serupa dan menemukan pertolongan serta pengharapan dalam Yesus menolong saya mengalihkan pandangan dari keadaan saya sendiri kepada-Nya. Ada kisah yang berakhir bahagia, ada juga yang tidak. Ada yang masih bergumul di tengah prosesnya. Namun, yang terpenting bagi saya adalah kesadaran bahwa saya tidak sendirian.
Ketika kita membagikan kisah kita, kita saling membangun (1 Tes. 5:11) dan saling meneguhkan sampai hari Yesus datang kembali dan memulihkan segala sesuatu yang salah (Ibr. 10:25).
5. Kita menceritakan kisah kita untuk mengingatkan diri akan kebaikan Allah.
Pernahkah Anda mulai menceritakan bagian dari kisah hidup Anda lalu tiba-tiba tersadar, "Saya lupa betapa luar biasanya apa yang Allah lakukan saat itu!" Seiring waktu berlalu sejak momen ketika Allah pertama kali bertindak, rincian tentang apa yang telah dia kerjakan dapat memudar dari ingatan kita.
Ketika kita kembali menceritakannya kepada orang lain, rasanya seperti memandang sebuah batu peringatan yang mengingatkan kita akan kuasa Allah (1 Sam. 7:12). Dan saat kita mengisahkannya kembali, kita pun memuji dia atas kebaikan-Nya sekali lagi.
Siap untuk Berbagi
Beberapa bulan lalu, seorang teman bertanya apakah saya bersedia berbicara dengan salah satu kenalannya. Dia mengetahui bahwa wanita itu memiliki anak dengan pergumulan yang mirip dengan anak saya dan sedang menapaki jalan yang pernah keluarga kami jalani. Karena teman saya mengenal kisah hidup saya, dia merasa saya mungkin dapat menjadi sumber dukungan dan penguatan baginya.
Suatu malam, saya berdiri di sebuah kedai kopi sambil mencari seorang wanita berjaket biru. Ketika akhirnya kami saling menemukan, kami duduk dan memulai percakapan dengan hati-hati. Namun, ketika saya mulai menceritakan tentang anak saya, perjalanan keluarga kami, dan bagaimana Tuhan menuntun serta menolong kami di sepanjang proses itu, percakapan kami semakin terbuka dan hidup. Hampir tiga jam lamanya kami saling bertukar kisah -- membagikan pergumulan, kesedihan, dan juga kemenangan yang kami alami. Saat kami bersiap untuk pulang, dia membungkuk ke arah saya dan bertanya, "Apakah masih ada orang lain seperti kita?"
Allah telah memberikan kepada masing-masing kita sebuah kisah.
Dalam suaranya, saya mendengar kerinduan seseorang yang lama merasa sendirian dan mendambakan untuk dimengerti. Dia telah menemukannya -- tetapi dia juga menginginkan lebih. Melalui kesediaan saya untuk membuka diri, Tuhan memakai kisah hidup saya untuk menguatkannya dalam pergumulannya. Pada saat yang sama, dia juga memakai kisahnya untuk menguatkan saya.
Jadi, kisah apa yang Tuhan sedang tulis dalam hidup Anda? Apa yang sedang dia kerjakan saat ini? Dan kepada siapa dia sedang memanggil Anda untuk membagikan kisah itu hari ini? (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Revive Our Hearts Ministries |
| Alamat artikel | : | https://www.reviveourhearts.com/blog/god-is-writing-your-story-you-need-to-tell-it/ |
| Judul asli artikel | : | God Is Writing Your Story: You Need to Tell It |
| Penulis artikel | : | Mindy Kroesche |
- Log in to post comments