Teknik Bercerita Alkitab: Pengulangan dan Tema

Bisakah Anda Mengenali Polanya?

Kejadian 12–50

Keterampilan penting dalam membaca Alkitab dengan efektif adalah memahami bagaimana para penulisnya merancang kitab-kitab ini supaya gagasan utamanya tampak jelas.

Narasi dalam Perjanjian Lama adalah karya sastra yang brilian dengan kedalaman yang mencengangkan. Yang Anda perlukan hanyalah memahami gaya sastra para penulisnya. Salah satu gaya yang paling mudah dikenali adalah pengulangan kata kunci dan tema yang muncul di berbagai kisah. Narasi dari Kejadian hingga Tawarikh dipenuhi dengan ide-ide yang sengaja diulang dan dijalin, baik di dalam satu kitab maupun melintasi beberapa kitab. Ketika Anda mulai melihat pola ini, Anda akan menyadari bahwa Anda sedang mengikuti jejak gagasan utama para penulis Alkitab. Dalam artikel ini, kita menyoroti salah satu tema tersebut -- tema yang menghubungkan kisah Kejadian dengan Keluaran.

Kejadian berakhir dengan Yusuf dan saudara-saudaranya yang menetap di Mesir setelah Yakub meninggal. Kita diberi gambaran umum bahwa banyak generasi telah berlalu. Satu-satunya informasi khusus tentang periode itu adalah bahwa keluarga tersebut berkembang dengan sangat pesat! Alkitab tidak memberi banyak rincian tentang apa yang terjadi dalam rentang sejarah ini, sehingga Anda mungkin bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan antara Kejadian dan Keluaran.

Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini?

Inserted image

Pikirkan bagian awal Kitab Kejadian, ketika manusia memilih untuk menetapkan sendiri apa yang baik dan jahat, dan tindakan itu memuncak dalam pembangunan serta penyebaran kota Babel (lihat Kejadian 11). Pada bagian selanjutnya, kita diperkenalkan pada Abraham dan keluarganya, yang -- terus terang -- bukanlah orang-orang yang ingin Anda teladani. Abraham memang memiliki momen-momen yang mengesankan, seperti imannya yang radikal di pasal 15, tetapi dia juga dapat bersikap pengecut (pasal 20). Putranya pun demikian (pasal 26). Dan cucu-cucunya, Yakub dan Esau? Tidak jauh berbeda dari leluhur mereka. Ketidakharmonisan keluarga ini mencapai puncaknya ketika saudara-saudara Yusuf menculik dia dan menjualnya sebagai budak di Mesir. Namun, di setiap langkah perjalanan ini, Allah justru merespons kejahatan manusia dengan cara yang paradoks, mengarahkan tragedi-tragedi itu kembali kepada maksud-maksud baik-Nya.

Pemeliharaan Ilahi

Yusuf mengalami lebih banyak pembalikan nasib yang tak terduga daripada yang dapat kita bayangkan, dan setiap penderitaan yang dia jalani selalu diikuti oleh perubahan keadaan yang mengejutkan. Dia berpindah dari tahanan menjadi penjaga penjara, dari budak menjadi pengelola rumah tangga, lalu dari seseorang yang difitnah menjadi wakil raja atas seluruh Mesir! Melalui semua itu, mimpi-mimpinya ketika masih remaja -- ingat gambaran berkas-berkas gandum di Kejadian 37 -- menjadi kenyataan. Kakak-kakaknya akhirnya bersujud di hadapannya ketika dia menyelamatkan mereka dari kelaparan.

Ketika kita tiba di pasal 50 Kitab Kejadian, kisah ini ditutup dengan Yusuf berbicara kepada saudara-saudaranya. Namun penulis menempatkan perkataannya di bagian akhir bukan hanya untuk merangkum perjalanan hidup Yusuf, tetapi juga untuk memberikan ringkasan tematik tentang seluruh kitab hingga titik tersebut. Yusuf mengampuni saudara-saudaranya dan berkata,

"Tentang kalian, kalian memang telah merancang yang jahat terhadapku, tetapi Allah merancang yang baik untuk melakukan sebagaimana yang terjadi saat ini, untuk menyelamatkan hidup banyak orang." (Kejadian 50:20,AYT)

Tidak peduli seberapa jahat perbuatan manusia, Allah menanggapi dengan kebaikan, menenun berbagai peristiwa menjadi satu karya besar dan kompleks dalam rencana-Nya untuk menebus dan memberkati dunia. Yusuf memang berbicara tentang saudara-saudaranya, tetapi penulis Kejadian ingin kita melihat kembali seluruh rangkaian peristiwa sejak Kejadian 3. Dan Allah belum selesai. Dia akan menyempurnakan cara-Nya mengubah kejahatan menjadi kebaikan -- dan hal itu tampak dengan jelas di kisah pembuka Kitab Keluaran.

Lompat ke 400 Tahun Kemudian

Tentang kalian, kalian memang telah merancang yang jahat terhadapku, tetapi Allah merancang yang baik untuk melakukan sebagaimana yang terjadi saat ini, untuk menyelamatkan hidup banyak orang. (Kejadian 50:20,AYT)

Banyak generasi telah berlalu, dan keluarga Abraham berkembang dengan sangat pesat. Janji Allah untuk memperbanyak keturunannya sedang terwujud, dan tidak semua orang menyambut hal itu dengan senang hati. Seorang raja baru muncul di Mesir, dan Firaun ini memandang populasi imigran Ibrani -- keturunan Abraham -- sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional Mesir. Dia menerapkan serangkaian strategi brutal untuk mengeksploitasi sekaligus memusnahkan orang Israel. Pertama, dia memperbudak mereka untuk membangun kota-kota penyimpanan yang lebih besar. Apa yang terjadi? Mereka justru makin bertambah banyak! Lalu dia mencoba memaksa para bidan untuk membunuh semua bayi laki-laki Israel. Para bidan menolak dengan berani, dan sekali lagi, orang Israel terus berlipat ganda!

Apakah Anda melihat pola yang mulai muncul? Pola yang sama yang kita temukan dalam kisah Yusuf, bukan? Lihatlah strategi terakhir Firaun -- tindakan genosida secara terang-terangan. Dia memerintahkan semua bayi laki-laki Israel dibunuh dengan cara dibuang ke Sungai Nil. Bayangkan kengerian itu. Firaun ini adalah tokoh paling tidak manusiawi dalam kisah Alkitab hingga titik ini. Aksi kejahatannya yang ketiga dan paling keji dibalas dengan tanggapan Allah yang juga ketiga, dan paling menakjubkan. Seorang bayi laki-laki Israel, Musa, dilemparkan ke sungai sesuai perintah Firaun. Namun, bayi ini justru mengapung langsung menuju istana Firaun dan masuk ke dalam keluarganya, sehingga kelak menjadi penyebab kejatuhannya. Firaun merencanakan semuanya untuk kejahatan, tetapi Allah ... ya, Anda tahu ke mana arah ceritanya.

Penulis Kitab Kejadian sedang menggugah cara Anda memandang kisah ini, mengajak Anda melihat tangan Allah bekerja bahkan dalam momen-momen paling gelap dari kegagalan dan kejahatan manusia.

Transisi Tematik

Seperti yang dapat Anda lihat, kisah Yusuf menciptakan transisi yang mulus dari Kejadian ke Keluaran. Penulis Kitab Kejadian sekali lagi menggugah cara Anda berpikir, membantu Anda menyadari bagaimana tangan Allah tetap berkarya bahkan dalam situasi paling suram. Ketika Anda melanjutkan membaca Keluaran, tema ini semakin terasa, khususnya dalam konfrontasi besar antara Allah, Musa, dan Firaun. Kita akan menelusuri bagaimana Allah dapat memakai kejahatan manusia -- yang tidak Dia sebabkan -- untuk melaksanakan tujuan-Nya. Ya, ini memang sebuah misteri, tetapi kita akan membahasnya secara langsung.

Cerita Alkitab & Anda

Alkitab adalah karya sastra yang disusun dengan sangat cermat, dan para penulisnya menggunakan berbagai teknik naratif yang halus. Pengulangan kata kunci dan tema merupakan salah satu alat terkuat dalam cara mereka bercerita. Saat kemampuan Anda untuk mengenali pola-pola ini berkembang, pemahaman Anda terhadap pesan teologis dari kisah-kisah ini juga akan semakin dalam. Namun para penulis Alkitab tidak sekadar ingin menjadikan Anda seorang pemikir. Mereka sedang mengajar Anda untuk "membaca hidup Anda." Ketika Anda melihat pola-pola itu bekerja dalam kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, Anda mulai memandang pola kegagalan dan kejahatan Anda sendiri dengan sudut pandang yang berbeda. Dapatkah Anda menoleh ke masa lalu -- baik sukacita maupun penderitaan -- dan melihat kesetiaan Allah sebagai benang merah yang menyatukan semuanya? Mungkin Anda tidak selalu bisa memahami maknanya saat ini, tetapi tema tentang "kejahatan yang Allah ubah menjadi kebaikan" perlahan akan meresap dan memberikan harapan bahwa bahkan kegagalan Anda sendiri pun tidak akan menjadi kata terakhir dalam cerita Allah bagi hidup Anda. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : BibleProject
Alamat artikel : https://bibleproject.com/articles/biblical-storytelling-repetition-themes/
Judul asli artikel : Biblical Storytelling Techniques: Repetition & Themes
Penulis artikel : Tim Mackie

Mulai PA Online sekarang!