Bagaimana Cara Mengaplikasikan Cerita Alkitab dalam Hidup Saya?

Selamat datang kembali ke podcast ini, dan selamat datang kembali untuk membahas rencana membaca Alkitab kita tahun ini. Kita memulai tahun baru dengan membahas pertempuran rohani yang harus kita atasi dalam membaca Alkitab. Itu adalah APJ 2112, episode yang luar biasa dengan berbagai saran bagus tentang cara membaca Alkitab dalam setahun, salah satu dari banyak episode tentang prinsip-prinsip studi Alkitab dari sejarah podcast selama tiga belas tahun — khususnya dalam Surat-surat dan cara mengurai sebuah paragraf Alkitab menjadi pernyataan-pernyataan individualnya, atau proposisinya, untuk menentukan hubungan logis antara proposisi-proposisi tersebut satu sama lain. Untuk contoh episode lain yang dapat membantu Anda membaca Alkitab dengan lebih baik, lihat buku Ask Pastor John pada halaman 1–46, bagian terpanjang dalam buku tersebut.

Inserted image

Saat ini, kita berada di paruh kedua Januari, kita sedang membaca bersama Kitab Kejadian 37–50, empat belas pasal yang menarik tentang kehidupan Yusuf — kisah-kisah yang terkenal di seluruh dunia. Dan, saat kita membaca pasal-pasal tersebut, kita berusaha memahami nilai narasi Alkitab bagi kehidupan kita sendiri. Saat melakukannya, berikut pertanyaan dari Nicholas, yang tinggal di Ontario, Kanada — yang, sepertinya, adalah seorang pendeta: “Halo, Pendeta John. Terima kasih atas kerja keras Anda dalam podcast ini. Saya saat ini mendengarkan buku Anda, "Reading the Bible Supernaturally" di platform Audible. Buku ini telah menjadi penyegaran yang luar biasa tentang alasan membaca Alkitab dan cara agar fokus pada pembacaan dan studi untuk devosi pribadi dan persiapan khotbah.

“Pertanyaan saya adalah mengenai narasi. Anda menekankan bahwa revolusi dalam membaca Alkitab Anda terjadi ketika Anda menyadari bahwa penulis Alkitab sedang membuat argumen, dan melacak argumen-argumen tersebut dengan baik adalah kunci untuk memahami penulis dan, dengan demikian, maksud Allah dalam firman-Nya. Saya melihat bahwa hal ini berlaku untuk Surat-surat Perjanjian Baru dan dalam video LAB Anda melalui surat-surat Paulus, bahkan dalam Literatur Hikmat. Akan tetapi, bagaimana dengan narasi? Gereja saya saat ini sedang mengkhotbahkan Lukas, dan meskipun ada struktur, bagaimana Anda ‘menggambarkan’ narasi? Apakah ada kunci-kunci berbeda yang Anda cari? Apakah ada transisi, penanda, atau pemicu spesifik yang Anda cari dalam teks naratif?”

Biarkan saya mencoba menjelaskan hal yang ia tanyakan. Saya sangat menekankan pentingnya mengikuti alur pemikiran penulis untuk menemukan maksud yang sebenarnya. Dan, saya percaya bahwa tujuan paling mendasar dari membaca adalah menemukan maksud penulis — sesuatu yang ingin ia sampaikan.

Sekarang, mungkin ada efek baik lain dari membaca selain penemuan itu. Anda mungkin hanya menemukan hiburan, misalnya. Namun, tanpa mengejar efek dasar ini, yaitu menemukan maksud penulis, kita menjadi tidak sopan, dan kita memperlakukan penulis seperti cara kita tidak suka diperlakukan — seperti ketika kita mencoba menyampaikan sesuatu, dan seseorang berkata, “Saya tidak peduli dengan ucapan Anda. Saya akan menafsirkan kata-kata Anda sebagai ini atau itu.”

Dan dalam prosesnya, kita akan kehilangan kesempatan besar untuk bertumbuh. Jika kita tidak peduli untuk menemukan hal yang orang lain temukan dalam kenyataan, dan kita hanya ingin membaca ide-ide kita sendiri, kita tidak akan bertumbuh. Selain itu, 2 Petrus 3:18 berkata, “bertumbuhlah dalam anugerah dan pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus.”(AYT) Jadi, saya berargumen bahwa salah satu cara esensial untuk mengejar tujuan itu — menemukan maksud penulis serta bertumbuh dalam pengenalan dan anugerah — adalah dengan teliti melacak argumen penulis.

Menelusuri Argumen

Dengan “berargumen,” saya tidak bermaksud memulai pertengkaran. (Kadang-kadang orang menggunakan kata “argumen” dengan cara yang berbeda dari saya.) Maksud saya adalah urutan pemikiran yang dibangun dari dasar hingga kesimpulan. Misalnya, Roma 1:15–17 berbunyi seperti ini: “aku sangat ingin memberitakan Injil kepada kamu juga, yang ada di kota Roma. [Karena]” — akan ada tiga “karena” di sini. Dengarkan baik-baik:

Aku sangat ingin memberitakan Injil kepada kamu juga yang ada di kota Roma. [Karena] aku tidak malu akan Injil [karena] Injil adalah kuasa Allah untuk keselamatan setiap orang yang percaya. . . . [Karena] di dalamnya, kebenaran Allah dinyatakan dari iman kepada iman.

Saya membaca Alkitab selama dua dekade sebelum menyadari bahwa itulah cara Paulus menulis. Jadi, ada empat pernyataan di sini, bukan? Pernyataan yang sangat penting. Intinya adalah Anda tidak dapat memahami maksud Paulus, yaitu hal yang ia coba sampaikan, kecuali Anda memahami hubungan logis antara keempat pernyataan tersebut. Dan, Paulus dengan jelas menandakan hubungan tersebut dengan menggunakan kata “karena” tiga kali. Ia membangun argumen dari dasar hingga kesimpulan.

Mengikuti Narasi

Sekarang, pertanyaan Nicholas adalah bagaimana fokus yang detail dan ketat pada hubungan logis antara pernyataan-pernyataan tertentu berhubungan dengan interpretasi bagian-bagian besar narasi dalam Alkitab atau cerita-cerita dalam Alkitab. (Dan, ia bisa memperluasnya dengan bertanya, "Bagaimana hal itu berhubungan dengan puisi dan perumpamaan?" Dan, seterusnya.)

Peristiwa yang dijalin bersama dengan cara tertentu — itulah yang saya maksud dengan narasi. Apakah kita harus mencari maksud penulis dengan cara yang sama? Secara prinsip, jawaban saya adalah ya, tetapi dalam detail cara penulis menandakan maksudnya, kita harus memerhatikan hal-hal lain selain sekadar satu proposisi mengikuti proposisi lain dengan konektor logis di antaranya. Cerita tidak bekerja seperti itu. Namun, penulis Alkitab menulis cerita dengan alasan tertentu. Mereka berusaha menyampaikan sesuatu kepada kita. Mereka ingin kita menemukannya.

“Saya sangat menekankan pentingnya mengikuti alur pikiran seorang penulis untuk menemukan maksud sebenarnya.”

Salah satu kritik utama Yesus — saya ingat, ketika saya menulis buku yang Ia rujuk, saya benar-benar terkesan oleh ini, karena saya melihatnya untuk pertama kalinya. Salah satu kritik utama Yesus terhadap orang-orang Farisi adalah bahwa Ia mengatakan mereka tidak tahu cara membaca. Itu pasti sangat mengganggu mereka. Mereka adalah pembaca, kan? Berulang kali, Ia berkata, “Belum pernahkah kamu membaca? Tidakkah kamu membaca?” (Matius 12:3; Matius 19:4; Matius 22:31). “Apakah kamu tidak membaca?” Dan mereka menggaruk kepala mereka dan berkata, “Itu yang kami lakukan — membaca.” Tentu saja mereka membaca. Jadi, apa maksudnya? Maksud-Nya, “Kamu membaca, tetapi tidak memahami. Kamu melihat, tetapi tidak melihat.”

Dengan kata lain, ada maksud sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis-penulis yang terinspirasi — dalam hal ini, penulis-penulis Perjanjian Lama yang dibaca oleh para Farisi setiap hari — baik melalui penjelasan kalimat demi kalimat yang teliti, melalui puisi, maupun melalui narasi, dan para Farisi itu sama sekali tidak melihatnya. Itulah yang membuat Yesus marah.

Jadi, ya, kita harus mencari maksud penulis dalam semua tulisan — semua tulisan yang layak dibaca. Dan ya, kita harus mencari petunjuk apa pun yang diberikan oleh penulis. Semua penulis yang baik memang memberikan petunjuk untuk membantu kita menemukan sesuatu yang ingin mereka sampaikan. Petunjuk-petunjuk tersebut dalam konteks narasi bisa berupa pengulangan, urutan peristiwa, hal yang sebenarnya dikatakan dalam dialog, dampak dari peristiwa tertentu, atau komentar interpretatif yang disisipkan oleh penulis, dan sebagainya. Jadi, izinkan saya memberikan beberapa contoh dari salah satu cerita terbaik dalam Perjanjian Lama.

Maksud Penulis dalam Cerita Yusuf

Saya sangat menekankan pentingnya mengikuti alur pemikiran penulis untuk menemukan maksud yang sebenarnya.

Saya sedang memikirkan Yusuf sekarang (Kejadian 37–50). Beberapa orang menganggap ini sebagai salah satu cerita pendek terbaik yang pernah ditulis, jika Anda ingin memasukkannya ke dalam kategori tersebut. Ini adalah cerita yang sangat menarik, dan Anda bertanya-tanya, Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Ke mana arah cerita ini? Ada empat belas pasal tentang mimpi Yusuf, kebencian saudara-saudaranya, penjualan mereka kepadanya sebagai budak, jatuhnya ia semakin dalam masuk ke penderitaan karena istri Potifar berbohong tentang dia, lalu ia masuk penjara dan dilupakan di penjara, lalu menjadi penguasa kedua di Mesir, dan umat Allah diselamatkan dari kelaparan selama masa kekeringan sehingga garis keturunan Mesias terjaga. Oh, itulah yang terjadi.

Dan, ada banyak lapisan maksud dalam tulisan ini. Saya ingin menghilangkan anggapan orang bahwa saat membaca narasi, fokuslah pada gambaran besar; dapatkan satu poin utama. Ya, tentu saja, dapatkan satu poin utama; mungkin itu menguasai semua yang lain. Namun, ada banyak poin kecil yang dibuat penulis sepanjang jalan.

Gambaran Besar: Kedaulatan

Jadi, mari kita mulai dengan gambaran besar cerita ini. Musa tidak meninggalkan kita — saya pikir Musa menulis kitab ini, Kejadian — bertanya-tanya tentang maksud utama cerita ini. Ia memberi kita beberapa pernyataan ringkasan yang sangat jelas dan tegas tentang sesuatu yang ia bicarakan. Misalnya, Yusuf berkata dalam Kejadian 45:7–8 (AYT),

Allah mengutus aku [ke Mesir] mendahului kalian untuk kelanjutanmu di bumi ini dan untuk menjagamu tetap hidup melalui pembebasan besar. Jadi, bukan kalian yang telah mengutus aku ke sini [meskipun kalian menjualku sebagai budak], melainkan Allah. Dia telah menjadikan aku ayah bagi Firaun, dan menjadi tuan atas seluruh rumahnya, dan penguasa atas seluruh tanah Mesir.

Dengan kata lain, semua peristiwa manusiawi yang kita baca selama empat belas pasal, bahkan yang berdosa, berada di bawah kendali Allah yang berkuasa, yang mengutus utusan-Nya melalui tindakan berdosa ke Mesir untuk menyelamatkan umat-Nya. Itu gila. Itu indah. Itu sebagian besar makna Alkitab, dalam perumpamaan.

Kemudian, dalam Kejadian 50:20, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “tentang kalian, kalian memang telah merancang yang jahat kepadaku, tetapi Allah merancang yang baik untuk melakukan sebagaimana yang terjadi saat ini, untuk menyelamatkan hidup banyak orang.” (AYT) Saya pikir ketika Anda membaca itu, Anda hampir harus kembali dan membaca ulang cerita itu karena sekarang Anda mengerti. Sekarang Anda berkata, “Oh, itulah arahnya.” Dan, Anda bisa membaca ulang cerita itu serta berkata, dengan petunjuk itu di benak Anda, “Ini berarti itu, dan ini menuju ke sana,” dan Anda melihat tangan Allah dengan lebih jelas.

Jadi, poin utamanya adalah bahwa dosa manusia dari umat Allah, atau dosa manusia terhadap umat Allah, bukan hanya tidak menggagalkan rencana penyelamatan-Nya; justru mendorong rencana penyelamatan-Nya. Mereka adalah bagian dari rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dan akhirnya Mesias-Nya, dan membawa-Nya ke dunia melalui garis keturunan itu. Itulah gambaran besarnya, dan Ia memberi kita petunjuk sepanjang jalan dengan pernyataan penjelasan besar di akhir.

Sub-Poin: Kasih Setia

Namun, ada petunjuk makna dan lapisan makna lain selain pernyataan interpretatif besar di akhir. Sepanjang jalan, Musa mencampurkan keadaan yang semakin buruk dengan kata-kata yang menghibur. Yusuf dilemparkan ke dalam sumur. Ia dijual sebagai budak. Ia jauh dari rumah di Mesir. Ia difitnah oleh istri Potifar. Ia dilupakan di penjara. Turun, turun, turun, turun. Anda dapat menggambar grafik cerita ini, dan itu sesuai dengan banyak kehidupan Anda. Saya telah melakukannya untuk umat kami: Saya menggambarnya dan berkata, “Di mana Anda berada pada grafik yang menurun secara mengerikan ini dalam kehidupan Anda?” Dan, sampai pada akhirnya, kemudian sepertinya ia dilupakan oleh Allah. Apa yang terjadi? Seharusnya terdengar seperti itu.

Namun, sepanjang perjalanan, ia mengatakan hal-hal seperti (Musa berkata), “TUHAN menyertainya dan . . . TUHAN membuat segala yang dilakukannya berhasil di tangannya” (Kejadian 39:3, AYT). Atau lagi, “Tuhan menyertai Yusuf dan menunjukkan kasih kepadanya, dan mengaruniakan perkenanan di mata kepala penjara” (Kejadian 39:21, AYT). Jadi, kita mendapatkan petunjuk-petunjuk sepanjang jalan bahwa meskipun keadaan Yusuf semakin buruk, itu bukan karena dosa-dosanya. Ia tidak mendatangkan hal ini pada dirinya sendiri. Itu bukan karena ia telah ditinggalkan oleh Allah, tetapi karena tujuan tersembunyi Allah. Dan, saat kita membaca, kita ingin tahu, “Apa tujuannya? Apa tujuannya? Allah, Engkau berkata Engkau bersamanya. Engkau tidak terlihat seperti Engkau bersamanya.”

Sub-Poin: Kekudusan Seksual

Satu ilustrasi lagi tentang bagaimana penulis menyampaikan maksudnya — dan ini adalah salah satu hal yang membingungkan bagi saya dalam seluruh cerita. Pasal 38 sepenuhnya, sepertinya, mengganggu alur cerita ini. Cerita dimulai di pasal 37 dengan mimpi-mimpi dan penjualan ke perbudakan di Mesir, dan tiba-tiba — Musa menyisipkan pasal 38 begitu cerita besar dimulai, dan itu sangat tidak relevan. Pasal ini menceritakan kisah aneh tentang Yehuda, saudara laki-laki Yusuf yang lebih tua, yang akhirnya menghamili menantunya, mengira ia adalah seorang pelacur. Sekarang, apa pun yang terjadi di sini, pertanyaan saya adalah, “Musa, mengapa di sini? Letakkan pasal itu sebelum pasal 37; biarkan cerita mengalir. Apa gunanya mengganggu narasi dengan pasal 38 ini?”

Nah, inilah pendapat saya (dan saya ingin tahu apakah ini benar atau tidak), karena hal berikutnya setelah kejahatan moral yang mengerikan dari Yehuda di pasal 38 — hal berikutnya yang kita baca dalam kisah Yusuf adalah kesetiaannya yang luar biasa dalam hubungan seksual dengan istri Potifar, yang mencoba menggoda dia. Dan, Musa mencatat kata-katanya: “Bagaimana mungkin aku dapat melakukan kejahatan yang besar ini dan berdosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9, AYT).

Jadi, menurut saya, urutan narasi dengan penyisipan ketidaksetiaan seksual Yehuda tepat sebelum moralitas seksual Yusuf yang luar biasa efektif dan indah adalah untuk menonjolkan dengan jelas perbedaan antara ketidaksetiaan Yehuda dan integritas seksual Yusuf yang luar biasa, yang menunjukkan bahwa ada poin utama dalam narasi dan banyak poin pendukung yang harus kita perhatikan.

Apa yang Dikatakan Penulis?

Jadi, sebagai jawaban atas pertanyaan Nicholas: apakah kita membaca surat Paulus yang argumennya ketat atau narasi yang luas melintasi empat belas pasal, kita selalu mencari apa yang dimaksudkan penulis untuk dikomunikasikan. Dan kita mencari petunjuk-petunjuk yang dia berikan kepada kita, baik dalam penjelasan maupun dalam narasi, untuk membantu kita menemukan maksud tersebut. Dan, saya hanya ingin mengatakan kepada Nicholas bahwa semakin banyak Anda membaca, semakin banyak saya membaca, dengan tujuan untuk mengenali petunjuk dan tanda-tanda yang diberikan penulis kepada kita, semakin banyak yang akan Anda lihat. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat artikel : https://www.desiringgod.org/interviews/how-do-i-apply-bible-stories-to-my-life
Judul asli artikel : How Do I Apply Bible Stories to My Life?
Penulis artikel : John Piper

Mulai PA Online sekarang!