Ketika kita mendengarkan sebuah cerita, kita cenderung menurunkan kewaspadaan dan mulai merasa lebih santai. Keadaan itu membuat kita lebih mudah masuk ke dalam alur cerita. Yesus sering berbicara kepada para pengikut-Nya melalui perumpamaan, dan Dia kerap mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan. Cerita mudah melekat di ingatan, dan pertanyaan pun demikian ketika tidak langsung diberikan jawabannya. Dengan cara itu, para pendengar diberi ruang untuk menemukan jawaban mereka sendiri, sementara Roh Kudus bersama pengalaman hidup mereka menuntun proses penemuan, penerapan, dan penghayatan kebenaran dalam Alkitab.
Karena itu, cerita menjadi sarana utama dalam menyampaikan Injil kepada masyarakat yang tidak mampu membaca dan mengandalkan komunikasi lisan.
Pembelajar lisan -- sering disebut "pendengar yang mengandalkan ingatan untuk bertahan hidup" -- sepenuhnya bersandar pada daya ingat mereka. Mereka harus mendengarkan dengan saksama dan mengingat dengan baik, dan sering kali memiliki kecerdasan yang tajam serta ingatan yang kuat.
Kebenaran dalam Alkitab
Namun, menyampaikan kebenaran melalui cerita-cerita Alkitab jauh melampaui sekadar hiburan. Melalui kisah-kisah itu, orang-orang diajak menemukan sendiri apa yang sebenarnya disampaikan firman Tuhan.
Ketika para pemimpin lokal membagikan kisah-kisah Alkitab, mereka biasanya melanjutkannya dengan pertanyaan terbuka yang dapat dijawab oleh siapa saja, mirip dengan cara Yesus mengajar murid-murid-Nya. Semua jawaban diterima, tetapi beberapa dapat diarahkan kembali kepada cerita tersebut. Pendekatan ini menciptakan keterlibatan yang tinggi karena para pendengar diberi kesempatan untuk mengalami proses penemuan sendiri. Hal itu membuat mereka merasa mampu untuk menceritakan kembali kisah-kisah itu -- dan mereka benar-benar melakukannya.
Ray Neu telah melayani hampir dua puluh tahun sebelum akhirnya perjalanannya mengarah pada bidang misi. Dia selalu terlibat dalam kegiatan misi dengan mengirim remaja dari pelayanan pemuda yang dia pimpin, tetapi dia sendiri belum pernah terjun secara aktif.
Setelah perjalanan misinya yang pertama, dia berkata kepada istrinya, "Akhirnya saya tahu apa yang ingin saya lakukan ketika saya dewasa."
Sejak saat itu, Ray mulai membawa kelompok ke puluhan negara untuk "bekerja dan bersaksi." Dia menekankan kreativitas dalam memperkenalkan orang kepada Kitab Suci, lalu membiarkan Roh Kudus memimpin proses selanjutnya.
"Saya berusaha mengubah kelas yang saya ajar dari pendekatan berbasis teks menjadi metode lisan, dan itu sangat diterima," kata Ray. "Saya mulai mengajar teologi sistematika hanya dengan daftar dua belas halaman cerita Alkitab."
Direktur Oralitas
Pada tahun 2015, Ray menjadi Direktur Pelatihan Oralitas di Spoken (sebelumnya T4 Global), tempat dia mulai berfokus pada pengembangan kapasitas dalam pelayanan misi -- dengan mengajarkan berbagai organisasi cara menyampaikan Injil secara lisan melalui cerita. Dia melatih organisasi dan gereja yang berkarya di negara-negara dengan tingkat literasi paling rendah, khususnya yang menekankan pemberitaan Injil.
"Cerita mudah melekat di ingatan, dan pertanyaan pun demikian ketika tidak langsung diberikan jawabannya. "
Baru-baru ini, Ray memimpin pelatihan di Ghana Utara bagi sekitar enam puluh perempuan. Pada hari pertama, pesertanya hanya sedikit, tetapi pada hari kedua jumlahnya meningkat tajam. Perempuan yang mengikuti sesi pertama telah memberitahukan tentang pelatihan itu kepada desa-desa mereka. Banyak yang awalnya tidak percaya bahwa pelatihan tersebut cocok bagi mereka karena sebagian besar pelatihan biasanya ditujukan kepada orang yang bisa membaca. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa pelatihan ini dirancang khusus bagi pembelajar lisan, lebih banyak orang berdatangan.
Keenam puluh perempuan itu pulang dari pelatihan dengan sepuluh cerita yang mereka hafalkan dan ubah menjadi lagu. Mereka tidak diminta untuk membagikannya -- mereka melakukannya karena dorongan hati. Ketika mereka kembali ke desa masing-masing, mereka mulai menceritakan ulang kisah-kisah Alkitab itu, dan perempuan lain pun mengikuti mereka ke gereja pada keesokan harinya. Pada akhir ibadah, sepuluh perempuan menyerahkan hidup mereka kepada Kristus.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Spoken Worldwide |
| Alamat artikel | : | https://spoken.org/scripture-story-sharing-gospel-oral-cultures/ |
| Judul asli artikel | : | Scripture as Story – Sharing the Gospel in Oral Cultures |
| Penulis artikel | : | Tim Spoken Worldwide |
- Log in to post comments