Saya menyebutkan bahwa salah satu alasan kedatangan saya adalah karena saya menyukai pemimpin Anda, Richard Cunningham, dan ada empat alasan untuk itu. Ini bukan sekadar kecocokan secara personal. Pertama, saya menyukai kewaspadaan doktrinal terhadap kebenaran alkitabiah, dan saya melihatnya dalam diri Richard. Kedua, saya menyukai iman yang hidup dan pribadi kepada Yesus Kristus yang membebaskan seseorang untuk melakukan hal-hal sulit, dan saya melihatnya dalam diri pemimpin Anda. Ketiga, saya menyukai keterlibatan yang berani dengan budaya kontemporer di dunia, dan saya melihat hal itu dalam dirinya. Dan keempat, saya menyukai mahasiswa, dan ia kini telah menyerahkan hidupnya untuk memajukan pekerjaan Kristus di antara para mahasiswa. Jadi, tidak sulit untuk menerima undangan ini. Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk berada di sini. Saya bersyukur atas kehadiran Anda sekalian.
Saya membaca di halaman keempat program Anda, sekitar enam persepuluh bagian ke bawah, bahwa daging akan disajikan dalam sesi-sesi ini, dan Anda diharapkan membawa Alkitab serta buku catatan Anda. Saya akan mencoba melakukan bagian saya dalam hal itu, dan saya berharap Anda juga akan melakukan bagian Anda dengan menyiapkan Alkitab Anda. Ketika teks tersebut disebutkan, saya senang mendengar banyak suara lembaran kertas yang dibuka. Kita akan melihat teks tersebut, tetapi izinkan saya memulai dengan tujuh alasan bahwa saya pikir mempelajari Kitab Rut itu sangat, sangat penting.
Tujuh Alasan Membaca Kitab Rut
Inilah yang dapat Anda harapkan ketika Anda membaca kitab kuno ini.
1. Kitab Rut adalah firman Allah.
Ini adalah bagian dari kitab yang dibaca Yesus dan tentangnya Ia berkata, "Kitab Suci tidak dapat dibatalkan" (Yohanes 10:35, AYT), dan tentangnya Rasul Paulus berkata, "Sebab, apa pun yang ditulis dahulu, dituliskan untuk pengajaran kita supaya melalui ketekunan dan penghiburan yang diberikan Kitab Suci, kita dapat memiliki pengharapan" (Roma 15:4, AYT). Anda akan menemukan kebenaran di sini, karena Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, dan Anda akan menemukan pengharapan di sini. Kita hidup di zaman di mana kebenaran tidak dihargai dan pengharapan tidak berlimpah. Oleh karena itu, Kitab Rut menjadi sangat penting.
2. Ini adalah sebuah kisah cinta, dan karena itu, menarik.
Kisah ini bahkan memiliki beberapa momen yang mendebarkan dalam kelembutannya. Hal itu memberi tahu saya, dengan sendirinya, bahwa kebenaran agung dan mulia yang meninggikan Allah ditemukan dalam wujud darah dan daging. Anda tidak meninggalkan romansa. Anda tidak meninggalkan darah dan daging, jatuh cinta, dan memiliki bayi untuk berurusan dengan Allah. Hal-hal itu sama saja. Jika Anda tidak menjumpai-Nya di sana, jika Ia tidak berdaulat di sana, jika Ia tidak mengubahkan di sana, Ia hanyalah sebuah fatamorgana dalam hidup Anda.
3. Ini adalah gambaran tentang kehidupan sejati laki-laki dan perempuan yang indah dan mulia.
Saat ini, tidak banyak bantuan yang dapat kita peroleh, baik dari televisi, film, maupun media untuk memahami seperti apa seharusnya kehidupan sejati seorang perempuan serta seperti apa seharusnya kehidupan sejati seorang laki-laki. Kitab Rut sangat membantu dalam memberikan gambaran tentang visi yang indah dan mulia mengenai kehidupan seorang perempuan dan laki-laki, khususnya yang berkaitan dengan Rut dan Boas, serta Naomi.
4. Masalah besar mengenai keragaman ras dan etnis dibawa ke dalam kehidupan kita melalui kitab ini karena Rut adalah seorang perempuan Moab.
Ia najis. Ia bisa jadi merupakan seorang Arab, berdasarkan wilayah asalnya. Ia adalah seorang penyembah berhala sampai, tampaknya, sesuatu menyentuh hidupnya dan ia ditarik, tidak hanya ke dalam iman, tetapi juga menjadi nenek moyang Tuhan Yesus. Ada empat perempuan yang disebutkan dalam silsilah Yesus di Matius 1, dan ia adalah salah satunya. Faktanya, keempat perempuan yang disebutkan di sana memiliki reputasi yang dipertanyakan. Itu bukan suatu kebetulan. Fakta bahwa ia adalah seorang perempuan Moab, atau seorang Arab, juga bukan suatu kebetulan.
Masalah keragaman etnis dan ras ini sangat besar. Dilihat dari luar, Inggris adalah budaya yang memudar. Saya tidak tahu apakah demikian dari dalam. Selain itu, data terbaru yang saya lihat mengenai kapan Amerika akan berhenti didominasi oleh kulit putih adalah tahun 2042. Saya akan menjadi minoritas sebelum anak-anak saya tiada. Keluarga saya akan menjadi minoritas. Seluruh pola pikir gereja di Barat saat ini sedang berubah. Saya tidak tahu apakah Anda membaca buku-buku karya Philip Jenkins di sisi Atlantik ini, tetapi kenyataan baru yang besar dari generasi terakhir adalah bangkitnya wilayah Selatan dan Timur global.
Pusat gravitasi dalam gereja Kristen telah berpindah dari Italia, Eropa Barat, dan Amerika, ke Selatan; yaitu, Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Gerakan-gerakan yang kuat, pengaruh-pengaruh yang dominan, dan dampak mayoritas dari gereja akan menjauh dari kita, kecuali jika terjadi hal yang tidak terduga, yang selalu mungkin terjadi. Secara pribadi, ketika saya berbicara kepada Eropa yang memudar dan Amerika yang memudar, saya berbicara dengan pengharapan besar bahwa, setidaknya sepanjang menyangkut Gereja Baptis Bethlehem, saya tidak berniat untuk ditinggalkan.
Saya berharap ketika Anda memikirkan kampus-kampus Anda, Anda tidak berpikir, "Dahulu kala, ada Tujuh Orang Cambridge," atau, "Dahulu kala, ada Tujuh Orang St. Andrews." Saya tidak tahu apakah Anda akrab dengan buku itu — Tujuh Orang St. Andrews. Buku itu layak dibaca. Saya berharap Anda tidak hanya memikirkan hal-hal seperti, "Dahulu kala, kita memiliki pengaruh Inggris yang besar di dunia." Saya berharap Anda mengatakan bahwa Allah bergerak dengan cara yang mengherankan dan tidak terduga, dan bahwa semua arah dapat berubah, atau bahwa bahkan di daerah pedalaman gereja Kristen dalam 100 tahun ke depan, dorongan kebaikan yang luar biasa dapat muncul karena Anda.
5. Kitab ini terutama berkisah tentang realitas pemeliharaan Allah di tengah bencana dan kesedihan.
Hal ini paling menonjol dalam Kitab Rut. Ini tentang pekerjaan Allah pada masa-masa paling gelap. Ini tentang menceritakan kisah-kisah kepada suatu bangsa, agar mereka tidak kehilangan harapan ketika segala sesuatunya tampak berjalan salah. Itulah inti utama dari kitab ini. Oleh karena itu, saya berharap bagi Anda yang datang ke sini dan menemukan diri Anda berada pada momen seperti itu dalam hidup Anda, di mana setiap pagi Anda tampaknya menerima kabar lain yang tidak baik — tidak baik dalam kesehatan Anda, tidak baik dalam keluarga Anda, ibu Anda, ayah Anda, saudara laki-laki Anda, saudara perempuan Anda, persekutuan Kristen Anda, atau gereja Anda. Mungkin setiap berita dalam enam bulan terakhir tampaknya buruk.
Itulah kisah Rut. Inti dari kitab ini adalah untuk Anda, dan segala sesuatu yang sedang Allah lakukan dalam hidup Anda saat ini di tengah masa sulit itu. Itulah inti utama dari Kitab Rut.
6. Menemukan Allah bekerja pada masa-masa paling gelap membebaskan Anda untuk ketaatan yang radikal.
Saya berharap dampaknya adalah, ketika Anda melihat Allah bekerja pada masa-masa paling gelap dalam Kitab Rut, dan dampak yang ditimbulkannya pada Rut dan Boas, serta hasil yang dicapai dalam pasal terakhir, hal itu akan membebaskan Anda untuk melakukan beberapa hal yang luar biasa.
7. Tujuan paling akhir dari kitab ini, meskipun bukan yang paling menonjol, berkaitan dengan Raja Daud dan dengan putranya, Yesus Kristus.
Kitab ini benar-benar tentang tujuan akhir Allah dalam mengutus Kristus ke dalam dunia untuk memuliakan-Nya dan mengagungkan anugerah-Nya sendiri melalui kematian Kristus, dan saya berharap Ia akan mendapatkan kemuliaan dalam penjelasan kita bersama.
Pesan Kitab Rut
Rut 1:1 mengatakan bahwa kisah ini terjadi pada zaman para hakim. Itulah alasan, dalam Alkitab Anda, kitab ini terletak tepat setelah Kitab Hakim-Hakim. Saya hanya akan menyebutkan sepatah kata singkat tentang zaman para hakim, dan kita tahu ini terjadi, tampaknya, sangat dekat dengan bagian awal zaman para hakim karena Boas adalah putra Rahab. Kita mengetahuinya dari Matius 1:5. Ayah dari Boas menikah dengan Rahab; agaknya, satu-satunya Rahab yang kita ketahui. Jadi, ini terjadi pada awal masa Kitab Hakim-Hakim.
Kitab Hakim-Hakim adalah masa kegagalan bagi bangsa Israel, berkali-kali. Mereka berdosa, lalu Allah, dalam keadilan-Nya, menyerahkan mereka kepada beberapa kelompok musuh. Kemudian, mereka berseru memohon belas kasihan. Kemudian, Allah, dalam belas kasihan-Nya, membangkitkan seorang hakim. Kelepasan diberikan dan musim damai terjadi, sampai mereka berdosa lagi. Pola itulah berulang-ulang.
Itu bukan masa yang penuh harapan; itu adalah masa yang mengerikan. Namun, di situlah kisah kitab Rut terjadi. Inti dari Kitab Rut adalah memberi kita sebuah pembukaan, sebuah sekilas pandang, tentang sesuatu yang sedang Allah lakukan pada masa-masa paling gelap. Ini adalah sebuah jendela kecil ke dalam satu keluarga yang memiliki implikasi global. Kita seharusnya membaca tentang sebuah kisah yang diambil dari masa-masa paling gelap, di mana kita diizinkan untuk melihat pemeliharaan — pekerjaan Allah yang menuntun kepada Yesus Kristus. Itulah inti dari kitab ini.
Izinkan saya menunjukkan hal itu kepada Anda dengan membawa Anda ke pasal terakhir. Mari kita buka Rut 4:18–22 (AYT). Anda perlu tahu di mana kitab ini berakhir sehingga Anda akan membacanya dengan ekspektasi dan pemahaman yang tepat. Dikatakan:
Ini adalah keturunan Peres: Peres memperanakkan Hezron. Hezron memperanakkan Ram. Ram memperanakkan Aminadab. Aminadab memperanakkan Nahason. Nahason memperanakkan Salmon. Salmon memperanakkan Boas. Boas memperanakkan Obed. Obed memperanakkan Isai. dan Isai memperanakkan Daud.
Di situlah kitab ini sengaja berakhir, yaitu karena Daud adalah raja terbesar Israel. Israel mengalami masa-masa kemenangan terbesar dan kesalehan terbesar selama masa Daud, sebagai raja saleh yang utama, yang menunjuk kepada putranya, Yesus Kristus. Inti dari mengakhiri kisahnya pada Daud adalah untuk mengatakan, "Di sini, pada masa-masa paling gelap, pada masa para Hakim, ada keluarga kecil ini. Dan, meskipun tampaknya segala sesuatunya berjalan salah bagi Naomi, ia dikaruniai seorang kerabat, Boas, yang menikahi menantunya, Rut. Pernikahan itu melahirkan Raja Daud, yang merupakan nenek moyang Yesus Kristus."
Kitab Rut adalah tentang pekerjaan Allah pada masa-masa paling gelap untuk mempersiapkan kemuliaan Yesus Kristus.
Tujuan Alam Semesta dan Kitab Rut Sekarang alasan saya langsung melompat kepada Yesus Kristus adalah karena Yesus melakukannya. Ingat cerita dari Matius 22? Itu adalah akhir dari semua pertanyaan yang diajukan orang-orang Farisi kepada Yesus. Mereka sudah selesai mengajukan pertanyaan mereka, dan kemudian Ia mengajukan pertanyaan kepada mereka. Ingat apa pertanyaannya? Dalam Matius 22:42 (AYT) Ia bertanya:
Bagaimana pendapatmu tentang Kristus? Anak siapakah Dia? Mereka berkata kepada-Nya, "Anak Daud." Jadi, ada lompatan di sana. Ia langsung pergi dari Rut 4:22 ke diri-Nya sendiri. Mesias adalah anak, bukan dari semua generasi di antaranya, melainkan langsung melompati dari Daud ke Yesus. Dari Daud ke Mesias sejauh yang mereka tahu.
Yesus mendengar jawaban itu, dan mungkin mengangguk, lalu Ia berkata:
Jika Dia anak Daud, lalu bagaimana dengan Mazmur 110:1 (AYT), di mana Daud, yang berbicara dalam Roh Kudus, menyebut-Nya Tuhan, dengan mengatakan, "Tuhan (Yahweh) berfirman kepada Tuanku (Mesias), duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Aku menempatkan musuh-musuh-Mu di bawah kaki-Mu"?
Kemudian, Yesus mundur selangkah dan berkata,
Jika Daud menyebut-Nya (Mesias) Tuhan, bagaimana mungkin Dia adalah anaknya?
Itulah akhir dari percakapan tersebut. Selesai sudah. Mereka tidak mengajukan pertanyaan lagi kepada-Nya. Mereka tidak memiliki apa pun yang dapat mereka katakan. Menurut Anda apa artinya itu? Menurut Anda apa yang sedang Yesus lakukan dengan menerima jawaban tentang anak siapakah Mesias itu?
Mengapa Ia melakukan itu? Ia tidak menjawab. Tentu saja, setidaknya yang bisa kita katakan adalah ini: Yesus ingin mereka dan kita memahami bahwa ya, Rut 4:22 adalah tentang anak Daud, sang Mesias, yang akan datang dan membawa pengharapan bagi dunia. Namun, seberapa banyakkah anak Daud ini melampaui apa yang pernah mereka impikan? Ia bukan sekadar manusia dalam silsilah jasmani yang merujuk pada manusia lain seperti Daud. Ia lebih dari sekadar manusia biasa dalam silsilah bersama Daud.
Saya pikir kita berada dalam ranah eksegesis yang baik untuk mengatakan bahwa cara kitab ini berakhir di ayat terakhir memberikan titik terang tentang apa yang sedang Allah lakukan dalam diri Rut, Naomi, Boas, dan pada zaman para hakim. Ia sedang mempersiapkan dunia bagi tujuan akhir-Nya untuk memuliakan Putra-Nya, Yesus Kristus.
Jika Anda bertanya kepada saya, apa yang Anda pikirkan tentang alasan utama keberadaan alam semesta ini, apakah alasan utama keberadaan sejarah, atau keberadaan Anda, atau keberadaan Anda secara universal, atau keberadaan saya di sini — Apa alasan utama dari segala sesuatu? Saya akan mengatakan, itu adalah agar Yesus Kristus dapat diagungkan sebagai Yang Maha Mulia tanpa batas.
Alam semesta ini adalah tentang Yesus Kristus. Kolose 1:16 (AYT) mengatakan:
Segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan untuk Dia.
Segala sesuatu ada untuk Yesus Kristus. Dalam khotbah saya hari Minggu lalu saya mengutip Filipi 2. Yesus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Kemudian, karena hal itu, Filipi 2:9 (AYT) mengatakan:
Untuk alasan inilah Allah sangat meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama supaya dalam nama Yesus, setiap lutut bertelut – baik yang ada di langit, yang ada di atas bumi, maupun yang ada di bawah bumi -- dan setiap lidah mengaku bahwa Kristus Yesus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Sang Bapa!
Dengan kata lain, Allah mengutus Yesus ke dalam dunia untuk mati dan taat serta bangkit kembali untuk satu alasan, supaya setiap lidah di mana pun di alam semesta sepanjang masa akan menjadikan Dia yang terutama. Sama sekali tidak ada keraguan mengenai alasan dunia ini ada. Dunia ini ada supaya setiap lidah iblis, lidah malaikat, dan lidah manusia akan berkata, "Yesus adalah yang terutama." Jadi, itu jugalah yang menjadi inti dari Kitab Rut. Ketika Anda membaca ayat terakhir, yang merangkum segala sesuatu dengan Raja Daud, tidak ada keraguan bahwa itulah intinya.
Ada sebuah buku karya seorang pria, yang tidak perlu saya sebutkan namanya, di Amerika saat ini berjudul 90 Minutes in Heaven [90 Menit di Surga]. Buku itu berkisah tentang seorang pria yang meninggal dan pergi ke surga lalu kembali lagi. Saya tidak suka buku-buku seperti itu. Buku-buku itu sangat tidak dapat dipercaya karena disajikan kepada orang-orang dan dibaca seolah-olah orang ini menceritakan kebenaran tentang surga dengan cara yang setara dengan Kitab Suci. Begitulah cara buku-buku itu dibaca. Itulah alasan buku-buku itu terjual jutaan eksemplar. Orang-orang berpikir mereka mendapatkan pesan yang segar, baru, akrab, dan langsung dari orang yang mengalaminya sendiri.
Namun, buku ini mengatakan, "Saya tidak mendengar nyanyian di sana tentang apa pun yang menyakitkan." Ketika saya membaca itu, saya langsung naik pitam. Saya menjadi sangat marah. Sebab, kita tahu ada satu lagu dari Kitab Suci yang akan dinyanyikan di surga, bukan?
Wahyu 5:9–10 (AYT) mengatakan:
Lalu, mereka menyanyikan suatu nyanyian baru, katanya: "Engkau layak mengambil gulungan kitab itu dan membuka segel-segelnya karena Engkau telah disembelih (atau dibantai), dan dengan darah-Mu, Engkau telah menebus orang-orang dari setiap suku, bahasa, kaum, dan bangsa bagi Allah. Dan Engkau telah menjadikan mereka menjadi suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah atas bumi."
Kami menulis surat kepada penulis tersebut dan berkata, "Anda melewatkan sebuah lagu." Kami dapat berkomunikasi, dan ia menulis surat balasan serta mengakui bahwa ia seharusnya tidak mengatakan hal yang dikatakannya.
Alasan saya menunjukkan hal itu adalah ketika saya mengatakan bahwa tujuan akhir dari alam semesta adalah untuk memuliakan Yesus Kristus, maksud saya adalah memuliakan-Nya justru karena salib. Ketika Ia mati, ketika Anak Allah mati, anugerah Allah dinyatakan dalam bentuknya yang tertinggi. Menurut Efesus 1:6, itulah sebabnya Ia melakukan segalanya. Kita telah ditentukan dari semula melalui Yesus Kristus untuk diangkat menjadi anak-anak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia. Hal itu terjadi secara tertinggi di kayu salib. Oleh karena itu, segala sesuatu telah direncanakan sebelum penciptaan. Ia telah disalibkan sebelum dunia dijadikan dalam pikiran Allah. Segala sesuatu telah direncanakan sebelumnya, menuntun pada pengagungan Yesus Kristus dalam kematian-Nya.
Jadi, semua itu untuk mengatakan, ketika kita bersama Rut, Naomi, dan Boas pada zaman para hakim, masa terburuk dari segala masa ketika tampaknya tidak ada yang berjalan benar, kitab ini ada untuk memberi tahu kita bahwa Allah sedang bekerja mempersiapkan peristiwa terpenting di alam semesta. Kitab ini benar-benar ditulis untuk tujuan itu; demikian pula kisah Yusuf; demikian pula Kitab Ester; demikian pula kisah pembuangan. Bukankah baik untuk mengembangkan seluruh paradigma teologi Perjanjian Lama untuk menunjukkan bagaimana semua kitab dalam Perjanjian Lama ini memiliki inti yang sama?
Tampaknya segala sesuatunya telah berakhir bagi Yusuf. Tampaknya, dalam Kitab Ester, segala sesuatunya telah berakhir bagi orang Yahudi. Tampaknya segala sesuatunya telah berakhir dalam pembuangan. Dan, Alkitab ditulis untuk mengatakan, "Ikutlah dengan-Ku ke masa-masa gelap ini dan saksikanlah pemeliharaan Allah yang luar biasa menjalankan kehendak kedaulatan-Nya."
Jadi, doa saya yang mendalam untuk Anda adalah agar Anda melihat sebuah pemeliharaan — tangan kuat yang tak terlihat, seperti yang disebut oleh R.C. Sproul — pada masa-masa paling gelap Anda, merencanakan hal-hal untuk Anda yang tidak pernah Anda impikan.
Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia, bersama-sama dengan Dia, tidak memberikan dengan murah hati segala sesuatu bagi kita? (Roma 8:32, AYT)
Jika Kristus telah mati untuk Anda, dan ini adalah tujuan utama alam semesta, akankah ada hal yang dapat menahan tangan Allah yang tak terlihat untuk bekerja dalam bencana hidup Anda saat ini?
Jadi, Kitab Rut adalah tentang pekerjaan Allah pada masa-masa paling gelap untuk mempersiapkan kemuliaan Yesus Kristus.
Pemeliharaan pada Masa-Masa Paling Gelap
Rut 1:1–5 menggambarkan kesengsaraan Naomi. Saya tidak tahu alasan kitab ini disebut Rut. Kitab ini seharusnya dinamai Naomi. Kitab ini dimulai dengan Naomi dan berakhir dengan Naomi. Rut kebetulan adalah orang yang memiliki bayi. Kitab ini adalah tentang Naomi — tentang bencananya, tentang hilangnya imannya (yang hampir terjadi) dan pemulihan imannya. Ketika Anda melihat pasal terakhir, Anda berkata, "Mengapa kisah ini bergeser kembali kepada Naomi seperti yang terjadi di pasal pertama," seperti yang akan Anda lihat.
Naomi tahu betul Pribadi yang menyebabkan kelaparan; Allah yang menyebabkan kelaparan. Ia membacanya dalam Perjanjian Lama miliknya. Imamat 26:3–4 (AYT) mengatakan:
Jika kamu berjalan menurut semua peraturan dan perintah-Ku, serta melakukannya, Aku akan menurunkan hujan pada waktunya. Tanah itu akan menghasilkan panen dan pohon-pohon di ladang akan memberi buahnya.
Atau, bagaimana dengan Mazmur 105:16–17 (AYT)?
Dia menimpakan kelaparan atas negeri itu, dan memutus seluruh pasokan makanan; Dia mengutus seseorang mendahului mereka, Yusuf, yang dijual sebagai budak.
Itulah kisah Yusuf. Masa-masa gelap Yusuf berkaitan dengan kelaparan di Mesir. Namun, dari mana datangnya kelaparan itu, ketika hal itu terjadi di seluruh dunia? Itu datang dari Allah. Allah mendatangkan kelaparan dan Allah mengutus Yusuf untuk menyelamatkan dari kelaparan itu.
Anda harus mampu menghadapi hal-hal seperti itu. Anda harus memiliki Allah yang mengendalikan bencana, dan Allah yang mengendalikan penyelamatan dari bencana. Ia melakukan keduanya. Kita tidak boleh hanya percaya, "Iblis mendatangkan bencana dan Allah mendatangkan penyelamatan." Itu adalah sebuah dualisme yang tidak akan bertahan hari ini. Hal itu tidak akan berhasil di dunia seperti dunia kita, dan hal itu tidak berhasil di dalam Alkitab. Bukan seperti itu Kitab Rut ditulis. Naomi tahu betul bahwa kelaparan itu berasal dari Allah, seperti yang akan Anda lihat dalam teologinya di bagian kitab selanjutnya. Itu adalah teologi yang sangat besar. Ia mengatakan bahwa kelaparan telah datang dari tangan Allah.
Lalu, mereka pergi dan pindah ke Moab, yang berarti bermain dengan api karena Allah berkata untuk tetap terpisah dengan bangsa itu karena alasan keagamaan, seperti yang akan kita lihat. Itu bukan karena alasan etnis atau alasan kemurnian ras, melainkan alasan keagamaan. Jika Anda bercampur dengan penyembah berhala, Anda menjadi penyembah berhala. Itulah pemikirannya.
Di Moab suaminya meninggal, dan anak-anaknya menikahi perempuan-perempuan penyembah berhala ini. Yang satu menikahi Orpa dan yang satu menikahi Rut, dan kemudian Mahlon dan Kilyon meninggal. Jadi, suami Naomi telah meninggal, ada kelaparan di negeri itu, ia telah pindah ke negara asing, anak-anaknya menikahi perempuan yang tidak seharusnya mereka nikahi, dan sekarang mereka telah meninggal, mungkin karena hal itu. Kitab ini tidak pernah mengatakan apakah kematian mereka berasal dari hukuman Allah atau tidak, tetapi saya pikir orang Yahudi biasa yang membaca ini akan berkata, "Tentu saja mereka meninggal. Mereka tidak seharusnya menikahi perempuan-perempuan ini." Jika itu benar, hal itu membuat kitab ini menjadi jauh lebih signifikan, tetapi hal itu tidak dinyatakan.
Nah, itu adalah situasi yang cukup buruk. Inti dari lima ayat pertama tersebut adalah untuk mengatakan, "Ini mengerikan." Tempatkan diri Anda di posisi Naomi — kelaparan, negara asing, kematian suami, anak-anak lelaki menikahi perempuan yang salah, tidak ada anak selama 10 tahun, dan setelah 10 tahun, anak-anak lelaki itu meninggal. Jika Anda adalah Naomi, Anda terdengar seperti dikutuk. Anda akan merasa situasinya sudah seburuk mungkin. Kebetulan, keadaannya belum seburuk yang bisa terjadi. Rut 1:6 (AYT) mengatakan:
Dia dan dua menantunya bersiap untuk pergi dari daerah Moab karena di daerah Moab dia mendengar bahwa TUHAN telah melawat umat-Nya dengan memberi mereka makanan.
Ada secercah kecil pengharapan. Kelaparan telah berakhir di Bethlehem Yudea. Tampaknya, ia mulai berjalan pulang bersama kedua menantunya, keduanya. Namun, karena alasan apa pun, di tengah jalan ia mencoba membujuk mereka untuk kembali. Itulah inti dari Ayat 8 sampai 13. Ia mencoba membujuk mereka untuk pulang.
Penolakan Naomi untuk Pergi
Narasi ini mungkin mencakup waktu sekitar 12 tahun. Sepuluh tahun pernikahan mereka, dan kemudian waktu setelah suami mereka meninggal. Itu adalah waktu yang singkat, mungkin 12 atau 13 tahun. Jika Anda mencakup waktu 12 atau 13 tahun, dan Anda ingin menuliskan semua yang terjadi dalam tahun-tahun itu, itu akan memenuhi ribuan halaman. Namun di sini, Anda memiliki empat halaman. Jadi, ketika Anda menulis sebuah cerita, Anda jelas bersikap sangat selektif. Jadi, ketika Anda membaca sebuah narasi, Anda harus selalu bertanya, "Mengapa hal ini ada di sini?" Dan, saya bertanya mengapa perhatian ini ada di Ayat 8 sampai 13? Mengapa perhatian ini untuk menyuruh para perempuan itu pulang?
Saya pikir ada tiga alasan untuk ayat-ayat ini:
1. Hal itu menekankan kesengsaraan Naomi.
Ia belum selesai dengan hal itu. Rut 1:11 (AYT) mengatakan:
Namun, Naomi berkata, "Pulanglah, anak-anakku. Mengapa kamu mau pergi bersamaku? Akan adakah lagi anak-anak laki-laki di rahimku untuk mereka menjadi suamimu? Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab aku sudah terlalu tua untuk bersuami.
Dengan kata lain, "Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kepadamu. Pulanglah." Ini menarik perhatian lagi pada betapa merananya Naomi. Suaminya sudah tiada. Anak-anaknya sudah tiada. Impian yang dimilikinya untuk kehidupan yang ia pikir akan dijalaninya sudah tiada. Ia hanya pulang untuk mati. Ia melanjutkan:
Tidak, anak-anakku. Sebab, hal ini akan lebih mendukakan aku karena tangan TUHAN telah menindas aku!"
Itu terdengar persis seperti Ayub, bukan? Hampir identik. Ia berkata, "...tangan TUHAN telah menindas aku." Apakah itu kalimat yang benar? Kita harus berhati-hati. Itu benar tergantung pada arti kata "menindas". Jika maksud Anda adalah bahwa Allah mendatangkan kelaparan, Allah mengambil suaminya, Allah mengambil anak-anaknya, dan Allah yang mengatur pernikahan tersebut, maka itu semua benar. Dalam pengertian itu, rasanya seolah-olah Allah menentangnya; tetapi apakah Ia benar-benar menentangnya? Apakah Ia menentang Ayub?
Jawaban akhirnya adalah: Ia pada akhirnya tidak menentang Naomi. Ia pada akhirnya tidak menentang Anda saat ini. Rasanya seolah-olah Ia mungkin menentang Anda. Karena setengah lusin alasan yang dapat Anda pikirkan saat ini, Anda mungkin berkata, "Rasanya seolah-olah Allah menentang saya, seolah-olah Ia marah kepada saya." Ayat-ayat itu pertama-tama adalah untuk menunjukkan fakta atau untuk memastikan fakta bahwa keadaan berjalan sangat buruk bagi Naomi. Ia merasa seolah-olah tangan Tuhan telah menindas dirinya.
2. Ayat-ayat ini memunculkan sebuah adat istiadat yang asing bagi kita, tetapi penting bagi kisah ini.
Yaitu, dalam budaya Yahudi pada waktu itu, menurut Naomi dan Hukum Perjanjian Lama, jika seorang pria meninggal, saudara-saudaranya atau beberapa kerabat dekatnya seharusnya menikahi janda tersebut untuk mempertahankan nama pria yang meninggal itu. Ini adalah adat yang aneh. Nama pria ini harus dipertahankan sehingga keturunan yang dilahirkan oleh saudaranya akan memakai namanya. Itulah alasan Naomi berkata kepada mereka, "Aku tidak mempunyai anak laki-laki."
Jika kita hanya membaca ini sebagai orang modern, kita mungkin berkata, "Siapa yang peduli jika Anda memiliki anak laki-laki? Lagi pula saya tidak akan menikahi anak laki-laki Anda. Saya hanya ingin menemukan pria yang baik. Tidak harus anak laki-laki Anda. Saya senang hanya dengan menemukan pria Yahudi yang baik di Bethlehem sana. Saya bisa menikah lagi karena suami saya sudah meninggal." Rasanya aneh bagi kita, tetapi hal ini sangat sentral bagi sesuatu yang terjadi dalam kisah ini sehingga dimunculkan untuk kita, agar kita siap menerima alasan Boas begitu signifikan dalam kisah tersebut. Itulah fungsi kedua dari ayat-ayat ini.
Ada jendela-jendela kecil pengharapan yang muncul di cakrawala bahwa kelaparan telah dihilangkan, dan bahwa Rut serta Orpa bersedia, pada awalnya, untuk kembali bersamanya, meskipun Naomi telah menyimpulkan bahwa segala sesuatunya menentang dirinya.
Mungkin saya harus berhenti sejenak di sini dan menarik satu implikasi psikologis praktis lagi untuk Anda. Ketika Anda depresi, karena rasanya segala sesuatu menentang Anda, Anda hampir selalu tidak dapat melihat tanda-tanda harapan. Ketika enam bulan terakhir, atau enam minggu terakhir, terasa negatif, dan Allah telah menetapkan bahwa masa-masa sulit datang ke dalam hidup Anda dan emosi Anda tenggelam semakin rendah, visi Anda menjadi sangat terganggu. Naomi tidak dapat melihat tanda-tanda harapan. Kelaparan sedang diangkat. Rut akan mengatakan ya dan pergi bersamanya. Masih ada seorang Boas, meskipun ia sama sekali lupa tentang Boas ketika ia berkata, "Aku tidak punya siapa-siapa untuk kalian berdua."
Itulah yang terjadi pada Anda ketika Anda depresi, yang menjadi salah satu alasan, kebetulan, Anda membutuhkan satu sama lain — mengapa kebersamaan dalam pelayanan sangat penting. Jika Anda mencoba pergi sendiri dan melakukan pelayanan, Anda akan jatuh secara emosional. Jika Anda tidak memiliki seseorang untuk datang ke dalam kegelapan Anda dan dengan lembut merangkul leher Anda dan berkata, "Aku tahu kamu tidak bisa melihat harapan saat ini, tapi aku bisa. Aku bersamamu. Kamu akan segera melihatnya." Itulah yang harus terjadi. Naomi tidak melihat dengan jelas, tetapi ia bisa melihat lebih banyak jika ia memiliki mata untuk melihat. Kita bisa melihat di sini apa yang tidak bisa ia lihat.
3. Ayat 8 sampai 13 menunjukkan kepada kita kesetiaan Rut yang luar biasa.
Ini mungkin alasan kitab ini disebut Rut tepat di sini, karena tanggapan luar biasa dari perempuan hebat ini. Mari kita baca Ayat 16 dan 17. Ini adalah ayat-ayat paling terkenal dalam kitab ini.
Akan tetapi, kata Rut: "Jangan memaksa aku untuk meninggalkan engkau dan berbalik dari mengikut engkau. Sebab, ke mana engkau pergi, aku pun akan pergi. Di tempat engkau akan menetap, aku pun akan menetap. Bangsamu akan menjadi bangsaku, dan Allahmu akan menjadi Allahku. Di tempat engkau mati, aku pun akan mati dan di sanalah aku akan dikuburkan. Kiranya TUHAN berbuat demikian kepadaku, dan lebih dari itu, biarlah hanya kematian yang akan memisahkan aku dan engkau."
Itu adalah kata-kata yang luar biasa. Pertama, ia harus meninggalkan keluarganya sendiri — bahasa yang familier dan budaya yang familier. Kedua, ia menerima kehidupan sebagai janda selamanya, karena ia tidak mendebat Naomi ketika Naomi berkata, "Aku tidak punya siapa-siapa untukmu." Implikasinya adalah jika ia menikah dengan pria lain di luar keluarga, ia akan kehilangan nama dan warisannya.
Ia menerima status janda dan ketiadaan anak selama sisa hidupnya. Ia pergi ke bangsa yang tidak dikenal dan bahasa yang baru. Ia mengatakan sesuatu yang luar biasa di sini ketika berkata, "di sanalah aku akan dikuburkan." Itu berarti, di mana Naomi mati, ia akan mati. Asumsinya adalah bahwa seorang menantu perempuan meninggal bertahun-tahun setelah ibu mertuanya. Namun, Rut mengatakan, "Aku berkomitmen sepenuhnya. Ini tidak seperti aku akan membantumu, dan kemudian ketika kamu mati, aku akan pulang. Aku akan dikuburkan di sana. Jika aku hidup 20 tahun lebih lama darimu, aku akan hidup tanpa dirimu selama 20 tahun bersama bangsamu." Itu adalah komitmen yang luar biasa di sini kepada umat Allah.
Anda dapat melihat mungkin dasar dari semuanya dalam Ayat 16 (AYT):
Allahmu akan menjadi Allahku,
Saya tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana. Ada waktu 10 tahun antara kedatangan Naomi, dan anak-anaknya, serta pernikahan dan kematian suaminya dan peristiwa ini. Jadi, entah bagaimana dalam 10 tahun hidup bersama Naomi sebagai ibu mertua, dan memiliki suami Yahudi, ia menjadi mengasihi Allah. Ia menjadi percaya kepada Allah, tampaknya lebih dari Naomi percaya kepada Allah. Terlepas dari prediksi Naomi bahwa segala sesuatunya akan pahit, Rut berkata, "Aku pergi. Aku akan bersama bangsa itu."
Seorang Perempuan yang Saleh
Sekarang di sinilah kita melihat sekilas dari hal yang saya katakan sebagai gambaran kehidupan sejati perempuan yang indah dan mulia. Anda akan melihat kehidupan sejati laki-laki nantinya dalam diri Boas, tetapi saya pikir bagian ini sengaja ada di dalam Alkitab sebagai gambaran tentang seperti apa rupa kehidupan sejati seorang perempuan yang ideal. Dan, inilah salah satu karakteristiknya: Iman kepada Allah yang melihat melampaui kemunduran pahit saat ini. Ketika saya membaca Amsal 31 tentang perempuan hebat, saya memiliki ayat favorit. Saya rasa saya menikahi salah satu dari mereka. Saya sangat menyukai ayat ini, khususnya dalam kaitannya dengan istri saya. Menurut Amsal 31:25 (AYT), perempuan itu seperti ini — perempuan yang ideal, perempuan yang saleh.
Kekuatan dan kehormatan adalah pakaiannya, dan dia tertawa tentang masa yang akan datang.
Apa artinya mengatakan "dia tertawa tentang hari depan"? Jika Anda merenungkan perempuan yang digambarkan dalam 1 Petrus 3:1–6, di mana Petrus menggambarkan bahwa seorang perempuan mungkin dapat memenangkan suaminya yang tidak percaya kepada Tuhan, ia menggambarkan karakter yang indah ini, dan satu hal yang ia garis bawahi yang sejalan dengan Amsal 31:25 berbunyi seperti ini:
Dan kamu adalah anak-anaknya (Sara), jika kamu berbuat baik dan tidak takut mengecap kejutan yang menakutkan. Perempuan dalam Amsal 31 tertawa tentang hari depan, perempuan dalam 1 Petrus 3 tidak takut pada apa pun yang menakutkan, dan kemudian Rut melihat ke masa depan bersama Naomi dan tidak melihat apa pun selain kemuraman, namun memegang tangan Naomi dan berkata, "Aku ikut denganmu."
Itulah jenis perempuan yang ingin saya nikahi, dan telah saya nikahi. Istri saya tertawa tentang hal-hal yang akan datang. Anda menawarinya tantangan gila dalam misi, ia menandatangani di bagian atas daftar. Ia bepergian keliling dunia jauh lebih banyak daripada saya, dan mengambil risiko lebih banyak daripada saya. Jadi, saya rasa bukan suatu kebetulan bahwa Rut disajikan di sini sebagai perempuan dengan iman yang hebat, ideal, dan tidak kenal takut.
Kedaulatan Allah dalam Penderitaan
Sekarang, mereka berdua pulang bersama, dan orang-orang kota melihat Naomi datang dan menyambutnya. Pada titik ini ia telah pergi selama setidaknya 10 tahun. Kemudian Rut 1:19–21 (AYT) mengatakan:
Perempuan-perempuan berkata, "Mungkinkah itu Naomi?" Dia berkata kepada mereka, "Jangan panggil aku Naomi (menyenangkan), panggil aku Mara (pahit), sebab Yang Mahakuasa telah memperlakukanku dengan pahit. Aku pergi dengan penuh, tetapi TUHAN memulangkan aku dengan tangan kosong. Mengapa kamu memanggilku Naomi, padahal TUHAN telah bersaksi melawanku dan Yang Mahakuasa telah menindasku?"
Sekarang, mari kita akhiri ini dengan bertanya mengenai perasaan Anda tentang teologinya? Saya menyukai teologinya. Ia tidak membaca situasinya dengan akurat, tetapi ketika menyangkut pemahamannya tentang Allah, ia benar. Pertama, Naomi percaya Allah ada. Naomi tidak pernah mempertanyakannya. Kedua, Naomi percaya Ia mutlak berdaulat. Jika hal-hal buruk datang ke dalam hidupnya, ia tidak berpikir Allah telah berhenti menjadi Allah. Naomi percaya hal-hal itu pada akhirnya datang dari tangan Allah. Ia berbicara persis seperti Ayub dan semua penulis terilham lainnya dalam Perjanjian Lama.
Akhirnya, ia benar untuk mengatakan bahwa Allah telah menimpakan penderitaan kepadanya. Saya berkhotbah tentang Rut 24 tahun yang lalu, dan saya rasa saya memberi judul pada seri itu Sebuah Pemeliharaan yang Manis dan Pahit. Saya tidak akan pernah mengatakan bahwa Allah melakukan kejahatan atau bahwa Allah berdosa, tetapi saya akan mengatakan bahwa Allah menetapkan bahwa kejahatan terjadi dan penderitaan menimpa umat-Nya. Jika Anda tidak dapat membedakan antara keduanya, saya tidak tahu cara Anda akan memahami Alkitab.
Allah bukanlah seorang pendosa. Allah adalah kudus dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5). Namun, Allah dengan sangat jelas menetapkan dosa terburuk yang pernah terjadi, pembunuhan Anak Allah, menurut Kisah Para Rasul 4:27-28. Allah merencanakan, menetapkan, dan memastikan bahwa dosa terburuk di alam semesta itu terjadi. Oleh karena itu, jika salib, yang merupakan dosa terburuk di alam semesta, dapat ditetapkan secara cermat dalam Kitab Suci, tidak sulit bagi saya untuk mengatakan kepada Naomi:
Anda benar. Allah telah menimpakan penderitaan kepada Anda, tetapi Anda perlu membuka mata Anda terhadap bukti-bukti harapan pada masa-masa paling gelap. Belumkah Anda membaca kisah Yusuf? Belumkah Anda membaca betapa gelapnya keadaan saat itu? Ia dijual ke dalam perbudakan. Ia difitnah oleh seorang perempuan berzina. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan ia tetap menjaga iman sepanjang jalan, dan kemudian jendela surga terbuka dan ia menjadi Wakil Presiden Mesir. Ia menyelamatkan umat Allah dari kelaparan. Ia memelihara garis keturunan Mesias. Naomi, jika Anda mau melihat, itulah yang sedang terjadi pada Anda. Anda akan berada dalam garis keturunan Raja Yesus, dan Allah sedang mengerjakan semuanya saat ini.
Dan, alasan Allah menginginkan karakter Rut ini adalah karena Ia akan menunjukkan kepada dunia jenis nenek moyang yang Ia inginkan masuk ke dalam garis darah Putra-Nya sehingga tidak ada yang bersikap tinggi hati tentang menjadi orang Yahudi, atau kulit putih, atau kulit hitam, atau cokelat, atau kuning, atau merah. Hai Naomi, Allah sedang melakukan hal-hal yang tidak dapat Anda impikan.
Jadi, sebagai penutup, inti utama yang paling menonjol dari kitab ini adalah bahwa Allah sedang bekerja pada masa-masa paling gelap demi kebaikan umat-Nya. Dan, makna paling akhir dari kitab ini adalah bahwa kebaikan terbesar yang sedang Allah datangkan bagi umat-Nya adalah, suatu hari nanti, melihat dan menikmati Yesus Kristus. Sang Mesias adalah perwujudan utama dari anugerah dan kemuliaan Allah, dan Ia datang dari Daud, yang datang dari Isai, yang datang dari Obed, yang datang dari seorang perempuan Moab bernama Rut. (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Desiring God |
| Alamat artikel | : | https://www.desiringgod.org/messages/ruth-sweet-and-bitter-providence--2 |
| Judul asli artikel | : | Ruth: Sweet and Bitter Providence |
| Penulis artikel | : | John Piper |