Tahun sering diawali dengan penetapan resolusi yang dibuat dengan kesungguhan dan komitmen. Namun, minggu dan bulan berikutnya kerap dipenuhi oleh janji-janji yang dilanggar serta berbagai kegagalan. Berdasarkan pengalaman saya, hanya sedikit orang yang mampu mempertahankan resolusi tahun baru secara konsisten hingga berhasil. Untuk memutus pola kegagalan ini, saya berpaling kepada Kitab Suci dan mencari pertolongan di sana.
Pemahaman yang saya peroleh lahir dari pembacaan saya atas Kitab-kitab Injil, yang mengisahkan interaksi antara Tuhan Yesus Kristus dan murid-Nya, Simon Petrus, pada perjamuan Paskah sebelum Yesus dikhianati, serta perjumpaan mereka di tepi Danau Galilea setelah Yesus bangkit dari kematian.

Saya menafsirkan pernyataan Simon Petrus -- bahwa dia akan mengikuti Yesus meskipun harus mati -- sebagai sebuah "resolusi". Konteks resolusi Petrus adalah malam perjamuan Paskah, yang segera diikuti oleh pengkhianatan terhadap Yesus, pengadilan, penyiksaan, dan penyaliban-Nya. Sebelum makan, Yesus membasuh kaki para murid dan mengeringkannya, sambil dengan jelas mengajar melalui tindakan dan perkataan bahwa mereka harus melayani orang-orang yang kelak akan mereka pimpin (Yohanes 13:4-10). Yesus juga menubuatkan bahwa Dia akan dikhianati oleh salah satu murid dan akan mati. Selain itu, Dia mengingatkan bahwa setelah kepergian-Nya, para murid akan dikenali sebagai pengikut-Nya melalui kasih mereka satu sama lain (Yohanes 13:34-35). Yesus menegaskan kepada para murid bahwa saat itu belumlah waktunya bagi mereka untuk mengikuti-Nya sampai kepada kematian (Yohanes 13:36).
Pada saat itulah, menurut Injil Yohanes, Petrus berkata kepada Yesus, "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan menyerahkan nyawaku demi Engkau!" (Yohanes 13:37, AYT). Dalam Injil Matius, pernyataan Petrus diungkapkan dengan cakupan yang lebih luas: "Sekalipun aku harus mati bersama-Mu, aku tidak akan menyangkal-Mu!" Pernyataan ini begitu meyakinkan sehingga semua murid lainnya pun mengucapkan hal yang sama (Matius 26:35, AYT). Dalam Injil Markus, tekad Petrus bahkan memperlihatkan nuansa perbandingan dan persaingan: "Sekalipun mereka semua meninggalkan-Mu, aku tidak." (Markus 14:29, AYT). Namun, sekuat apa pun tekad itu, resolusi tersebut akhirnya gagal. Pada malam yang sama, setelah Petrus menyatakan kesetiaannya, Yesus menubuatkan bahwa dia akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali.
Saya menilai kegagalan resolusi itu bukan semata-mata karena Petrus ingin mengikuti Yesus, tetapi karena tekad tersebut disertai nada kesombongan. Mungkin Petrus membayangkan dirinya berdiri sejajar dengan Yesus dalam menghadapi penganiayaan, bahkan melampaui murid-murid lainnya. Mungkin juga dia tidak sungguh-sungguh menyimak pesan Yesus mengenai kesaksian para murid setelah kematian-Nya. Atau bisa jadi Petrus menetapkan resolusi itu tanpa terlebih dahulu memperhitungkan harga yang harus dibayar.
Namun, Tuhan Yesus yang telah bangkit, melalui perjumpaan-Nya dengan para murid yang putus asa -- yang kembali ke pekerjaan lama mereka sebagai nelayan di Danau Galilea -- memberikan kesempatan bagi mereka untuk memulihkan resolusi tersebut, yakni mengikuti Yesus apa pun risikonya (Yohanes 21).
Sebelum meluangkan waktu bersama para murid yang masih berada di perahu, Yesus menunjukkan kepada mereka bagaimana memperoleh hasil tangkapan ikan yang melimpah setelah semalaman bekerja tanpa hasil (Yohanes 21:5-6). Ketika para murid menyadari bahwa Pribadi yang menolong mereka itu adalah Yesus, mereka segera bersiap, menarik perahu dan jala ke darat, lalu bergegas menuju-Nya. Saat mereka tiba, Yesus telah menyalakan api dan menyiapkan sarapan. Peristiwa ini merupakan kali ketiga Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid. Sebelum mengajukan pertanyaan apa pun, Yesus terlebih dahulu memberi mereka makan (Yohanes 21:7-14).
Dalam proses memulihkan para murid, Yesus bertanya kepada Petrus apakah dia mengasihi-Nya -- sebanyak tiga kali. Pertanyaan-pertanyaan ini menolong Petrus menghadapi dan mengatasi keraguan dalam dirinya sendiri mengenai kasihnya kepada Kristus. Dasar dari tekad untuk mengikuti Yesus, apa pun harganya, adalah kasih. Untuk setiap jawaban afirmatif dari Petrus, Yesus memberikan perintah untuk memberi makan dan menggembalakan domba-domba Allah, sebagaimana seorang Gembala yang Baik. Kasih tidak hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dan dialami. Otoritas yang diberikan kepada Petrus tidak menjadikannya pemilik kawanan domba tersebut. Pesan ini dihayati oleh Petrus dan tampak dalam nasihatnya kepada para penatua jemaat, sebagaimana dituliskannya dalam 1 Petrus 5:1-2.
Kehidupan, misi, dan kemartiran para murid, beserta keberhasilan gereja mula-mula dalam memberitakan Kabar Baik secara luas, menjadi kesaksian bahwa mereka pada akhirnya mengikuti Yesus apa pun risikonya.
Sebagai penutup, saya merangkum tujuh pelajaran tentang bagaimana menebus dan menjalankan resolusi saya pada tahun ini:
- Motivasi dan niat untuk melayani orang lain, serta memperhatikan konteks kita yang lebih luas, jauh lebih berkelanjutan daripada dorongan untuk meninggikan diri sendiri.
- Kita dapat bertumbuh dan bertahan jika sumber kekuatan dan penopang hidup kita berasal dari Tuhan, bukan dari diri kita sendiri.
- Akuntabilitas kepada orang lain, disertai dengan tanggung jawab pribadi, merupakan unsur yang sangat penting.
- Kesediaan untuk melakukan introspeksi, serta keterbukaan dan kerendahan hati untuk terus diuji dan dipertanyakan, menolong kita tetap berada di jalur yang benar.
- Kegagalan membuka peluang-peluang baru untuk memperbaiki pendekatan kita dalam menghadapi berbagai tantangan.
- Transformasi lahir melalui konsistensi dalam perjalanan yang berulang, bukan melalui perubahan yang dramatis dalam waktu singkat.
- Membangun kebiasaan-kebiasaan baik berdasarkan ajaran Kitab Suci untuk membentuk perilaku dapat menghasilkan kehidupan yang bermakna dan penuh tujuan.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | World Council of Churches |
| Alamat artikel | : | https://www.oikoumene.org/blog/new-years-resolutions-a-biblical-reflection |
| Judul asli artikel | : | New Year's resolutions: a biblical reflection |
| Penulis artikel | : | Manoj Kurian |
- Log in to post comments