Salah satu kenyataan yang diamati tentang Generasi Z adalah bahwa mereka merupakan generasi pertama yang sepenuhnya pasca-Kristen di Amerika Serikat. Dalam buku Meet Generation Z, James Emery White mendefinisikan generasi pasca-Kristen sebagai generasi yang dibesarkan tanpa “bahkan kenangan tentang Injil.”[1]
Sebagai hamba Tuhan bagi anak-anak muda, kita tidak lagi dapat berasumsi bahwa para siswa kita datang kepada kita dengan pemahaman dasar tentang Allah dan pekerjaan yang telah Yesus lakukan. Meskipun mereka mungkin pernah mendengar kata "injil," mereka mungkin tidak memahaminya sebagai kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus—berita baik yang merupakan kuasa keselamatan bagi semua yang percaya (Roma 1:16). Kita bahkan tidak dapat mengasumsikan bahwa mereka memiliki pengetahuan dasar tentang cerita-cerita Alkitab yang terkenal dari Veggie Tales atau VBS.
Hal ini berlaku bahkan di tempat saya melayani di jantung Oklahoma—tempat yang sering disebut sebagai "pusat" dari Bible Belt. Baru-baru ini, saya duduk bersama dua siswa SMA yang telah percaya dan meminta untuk belajar Alkitab bersama. Keduanya pernah masuk dan keluar dari gereja-gereja lokal saat tumbuh dewasa. Jadi, dalam pertemuan pertama kami, saya mengasumsikan tingkat pengetahuan Alkitab dasar yang dapat kami kembangkan. Namun, ternyata pengalaman mereka di gereja tidak memberikan pemahaman umum tentang Injil.
Sadar bahwa saya harus memulai dari nol dengan para pemeluk iman baru ini, saya kembali ke metode studi Alkitab yang disebut menceritakan Alkitab, yang sering saya gunakan saat tinggal di luar negeri.
Alat Penginjilan yang Diperbarui
Menceritakan Alkitab awalnya digunakan oleh lembaga penginjilan internasional Southern Baptist sebagai metode untuk membagikan Kitab Suci di budaya yang buta huruf atau tidak memiliki akses ke Alkitab dengan cara menceritakan kisah-kisah Alkitab. Siswa dan pemimpin mereka mempelajari narasi Alkitab seperti penciptaan, kejatuhan, Nuh, Babel, Abraham, dll., dan kemudian mempelajari kisah-kisah kecil tersebut dalam kaitannya dengan alur cerita utama Kitab Suci. Menceritakan Alkitab membantu menetapkan kebenaran dasar seperti sifat Allah dan kenyataan dosa, yang menjadikan Injil sebagai kabar baik bagi jiwa.
Misionaris sering menggunakan Cerita Alkitab di antara kelompok-kelompok yang belum terjangkau—dan tren yang diamati James Emery White pada Generasi Z menunjukkan bahwa generasi siswa kita sebagian besar belum terjangkau. Badan Misi Internasional menggambarkan calon ideal untuk Menceritakan Alkitab sebagai mereka yang “tidak tumbuh dalam budaya yang dibentuk dengan cara apa pun oleh Alkitab.”[2] Deskripsi ini semakin berlaku untuk siswa kita.
Apa cara yang lebih baik untuk menceritakan kisah Injil kepada mereka yang tidak mengetahuinya selain menggunakan kisah-kisah Alkitab? Inilah yang telah diberikan Menceritakan Alkitab bagi siswa-siswa saya dan saya. Ini adalah metode sederhana yang memanfaatkan narasi-narasi individual Alkitab untuk menyampaikan metanarasi Kitab Suci. Bagi budaya yang buta huruf, ini adalah cara “membaca” Kitab Suci dengan menceritakan kisah-kisah individual yang membuka jalan bagi alur cerita Alkitab. Dengan cara yang sama, metode ini dapat membantu budaya pasca-Kristen mempelajari narasi-narasi kecil Kitab Suci sebagai jembatan menuju Injil.
Salah satu keindahan Alkitab adalah ia berbicara kepada kita melalui berbagai genre sastra. Ia menyatukan karpet puisi, nubuatan, dialog, narasi, dan lebih banyak lagi. Namun, narasi adalah genre yang paling dominan, dengan total 525 cerita individu yang membentuk sekitar 75 persen[3] dari isi Kitab Suci. Dan tentu saja, keseluruhan Kitab Suci membentuk satu alur cerita yang utuh (Lukas 24:44-49).
Komposisi naratif Kitab Suci seharusnya memberi kita pemahaman tentang pentingnya cerita dalam menyampaikan Injil. Saya sering mengajar siswa saya melalui retorika yang terstruktur; namun, John Walsh mengingatkan kita bahwa hanya 10 persen dari 25 persen sisa Kitab Suci terdiri dari penalaran analitis.[4] Ditambah dengan apa yang kita ketahui tentang Generasi Z, bercerita menjadi tak ternilai harganya dalam pelayanan pemuda.
Selain menggunakan Cerita Alkitab sebagai alat pembinaan bagi orang percaya baru, seperti dua siswa SMA tersebut, saya juga mulai menggunakannya dengan siswa di kelas kepemimpinan saya dengan cara yang menarik—sebagai alat pembekalan untuk pemberitaan Injil.
Menceritakan Alkitab sebagai Pembinaan
Berdasarkan hal yang kita pelajari tentang Generasi Z, Menceritakan Alkitab dapat menjadi kunci dalam membekali siswa kita untuk pemberitaan Injil di kalangan teman sebaya mereka. Belajar berkomunikasi melalui narasi tidak hanya memaksa siswa untuk mempelajari Kitab Suci secara mandiri, tetapi juga menawarkan alat praktis yang dapat dengan mudah direplikasi. Ini adalah cara sederhana dan efektif untuk melatih siswa kita mengenal dan membagikan Injil.
Ketika saya menggunakan metode ini dengan siswa yang lebih matang secara rohani, saya tidak selalu mengikuti alur naratif Alkitab dari awal hingga akhir seperti yang saya lakukan dengan seorang Kristen baru. Sebaliknya, saya fokus pada beberapa narasi kecil yang memiliki jembatan Injil yang paling jelas di dalamnya—seperti kisah Filipus dan Sida-sida Etiopia, Yesus dan Orang Lumpuh, atau perumpamaan dan mujizat Yesus.
Biasanya, saya mengatur waktu kami seperti ini: Lima menit pertama, kami membaca teks naratif yang ditugaskan untuk minggu itu. Kemudian, kami menggunakan lima menit untuk membuat pengamatan tentang teks tersebut (konteks, makna, dll.). Setelah itu, kami menggunakan lima hingga sepuluh menit untuk menerapkan teks tersebut ke dalam kehidupan kami sendiri. Setelah mempelajari teks, kami beralih dari studi ke latihan. Setengah waktu berikutnya dihabiskan untuk menceritakan kembali cerita (tidak sempurna, tetapi dengan pertanggungjawaban terhadap Alkitab). Setelah semua orang memiliki kesempatan untuk berlatih menyampaikan cerita, kami menghabiskan sekitar sepuluh menit untuk menerapkan cerita tersebut ke dalam konteks kami.
Setelah beberapa minggu mempelajari narasi, kami melakukan peran bermain. Penting untuk memberi siswa waktu untuk membangun "bank" narasi Alkitab, dan mengingatkan mereka setiap minggu bahwa kami akan menerapkan cerita-cerita ini dalam praktik. Setelah tiga atau empat minggu, saya mengakhiri waktu kami dengan memberikan situasi hipotetis yang mungkin dihadapi siswa atau teman sebayanya, seperti teman yang sedang mengalami penderitaan, teman yang belum percaya, tetapi penasaran tentang kekristenan, atau teman yang telah percaya pada Yesus, tetapi belum tahu cara berdoa. Kemudian, kami mendiskusikan situasi tersebut, menjawab pertanyaan seperti "bagaimana kamu akan berinteraksi dengan orang ini?" "Cerita apa dari Alkitab yang bisa kamu bagikan kepada orang ini untuk menghubungkan Injil dengan hidupnya?"
Menceritakan Alkitab membantu menetapkan kebenaran dasar seperti sifat Allah dan kenyataan dosa, yang menjadikan Injil sebagai kabar baik bagi jiwa.
Saya sangat terinspirasi melihat siswa-siswa kami menyadari kebenaran bahwa Alkitab berlaku untuk seluruh aspek kehidupan, dan betapa mudahnya mereka dapat menyampaikan Injil dalam percakapan sehari-hari. Waktu belajar kami tidak hanya memberi mereka latihan, tetapi juga dorongan semangat ketika mereka mendengar berbagai cara orang lain menghubungkan Injil menggunakan cerita yang sama dari Alkitab. Sangat indah melihat Alkitab hidup bagi mereka saat mereka memahami cerita-cerita individu itu apa adanya — sekilas kecil dari kisah penebusan yang lebih besar yang sedang berlangsung.
Yang terbaik dari semuanya, melalui Cerita Alkitab, siswa-siswa saya belajar bahwa setiap sudut dalam Alkitab, dari narasi hingga retorika, saling terhubung dalam satu kisah besar tentang Allah yang tidak meninggalkan ciptaan-Nya yang rusak pada dosa mereka sendiri, tetapi yang menyelamatkan umat-Nya melalui hidup, kematian, dan kebangkitan Anak-Nya—dan yang sedang bekerja untuk penebusan atas segala sesuatu.
Dalam generasi yang dibesarkan dengan sedikit atau tanpa pemahaman tentang Injil, mungkin alat penginjilan yang awalnya ditujukan untuk kelompok-kelompok yang belum terjangkau adalah hal tepat yang dibutuhkan siswa-siswa kita untuk dilatih dan diperlengkapi dalam pekerjaan pelayanan di dunia pasca-Kristen mereka.
[1]James Emery White, Meet Generation Z: Understanding and Reaching the New Post-Christian World, (Grand Rapids: Baker Books, 2017), 64.
[2]Lihat the International Mission Board’s Explore Missions course, “What Do Missionaries Do,” https://imb.pathwright.com/library/explore-missions/62307/about/.
[3]John Walsh, “About Bible Telling,” BT Stories, http://www.btstories.com/about-2/.
[4]Walsh, “About Bible Telling,” http://www.btstories.com/about-2/. (t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Rooted Ministries |
| Alamat artikel | : | https://rootedministry.com/bible-storying-in-a-post-christian-generation/ |
| Judul asli artikel | : | Bible Storying in a Post-Christian Generation |
| Penulis artikel | : | Kendal Conner |
- Log in to post comments