Melihat jam di dasbor mobil, saya menyadari masih ada waktu untuk membacakan kisah Alkitab kepada anak-anak sebelum kami berangkat. Saya membuka Alkitab ke Markus 4 dan membacakan perumpamaan tentang penabur yang menaburkan benih -- sebagian jatuh di jalan, sebagian di tanah berbatu, sebagian di antara duri, dan sebagian lagi di tanah yang baik.
Setelah menaruh Alkitab di bangku penumpang, saya memundurkan mobil dan mulai melaju menuju sekolah anak-anak.
"Siapa yang mau duluan?" tanya saya sambil melirik ke kaca spion belakang.
"Saya! Saya!" seru anak prasekolah saya dari kursi belakang. Dia mulai mengisahkan cerita itu sampai akhirnya terhenti.
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya saya. Anak prasekolah saya menoleh kepada kakaknya yang berusia tujuh tahun.
"Benih-benih lain jatuh di antara duri," ujar kakaknya memberi petunjuk.
"Oh ya," kata anak saya yang berusia empat tahun, lalu melanjutkan ceritanya dengan percaya diri. Setelah dia selesai, anak sulung saya mulai mengisahkan perumpamaan itu. Ketika kedua anak laki-laki saya sudah bergiliran, saya mengambil giliran untuk menceritakannya. Setiap kali saya lupa bagian tertentu, salah satu dari mereka segera menyela untuk membantu saya kembali mengikuti alur cerita.
Saya mulai mengintegrasikan kisah Alkitab dalam pemuridan anak-anak setelah mendengar bagaimana para misionaris kadang menggunakan metode ini di lapangan. Apa yang awalnya hanya keinginan untuk menghafal Alkitab bersama dan memanfaatkan waktu di mobil menuju sekolah, akhirnya berubah menjadi salah satu momen favorit saya bersama anak-anak setiap minggu.
Menceritakan Alkitab adalah cara yang sederhana sekaligus bermanfaat untuk menjelajahi Kitab Suci bersama keluarga dan membantu mereka menyimpan firman Tuhan di hati mereka.
Mengapa Pembelajaran Lisan?
Menurut Jaringan Oralitas Internasional, sekitar 80% populasi dunia adalah pembelajar lisan dan memahami informasi dengan lebih baik ketika disampaikan secara verbal. Sebaliknya, masyarakat Amerika umumnya sangat melek huruf, sehingga mereka cenderung lebih mudah memproses informasi melalui bacaan. Pada zaman Yesus, budaya saat itu juga didominasi oleh pembelajar lisan. Yesus sering mengajar orang banyak melalui perumpamaan, dan surat-surat para rasul dalam Perjanjian Baru memang ditulis untuk dibacakan dengan lantang kepada jemaat. Bahkan Kitab Wahyu yang ditulis oleh Yohanes pun disusun dengan maksud agar "kata-kata" di dalamnya dibacakan "dengan suara keras" (Wahyu 1:3,AYT).
Meskipun berbagai upaya literasi telah dilakukan untuk menjangkau budaya yang belajar secara lisan, para pemimpin pelayanan menyadari bahwa pendekatan verbal tetap memiliki nilai yang kuat dalam membagikan dan mengajarkan firman Tuhan. Kisah Alkitab yang disampaikan secara lisan menjawab kebutuhan budaya yang belajar melalui pendengaran -- budaya yang pandangan dunia dan prinsipnya dibentuk oleh nyanyian, lantunan berulang, atau percakapan -- dengan cara yang tidak dapat dicapai oleh teks tertulis. Firman Tuhan dapat disampaikan hingga ke lokasi terpencil maupun tempat-tempat yang paling ramai ketika penceritanya menghafal kisah itu dan terlatih menyampaikannya dalam bentuk verbal yang mudah diingat dan diteruskan dalam tradisi budaya tertentu.
Di berbagai belahan dunia, pelayanan Kristen telah menerapkan Cerita Alkitab Lisan untuk menyusun rangkaian kisah Alkitab yang dirancang khusus bagi budaya tertentu. Setiap rangkaian kisah dalam bahasa asli suatu kelompok etnis disusun untuk menjawab kebutuhan rohani mereka, menjelaskan apa artinya mengikuti Yesus bagi mereka, serta menggambarkan alur besar cerita Alkitab secara berurutan. Proses merancang dan menyusun sekitar 70 kisah untuk menjangkau satu kelompok etnis sering kali membutuhkan waktu hingga tiga tahun. Salah satu organisasi yang melakukan pekerjaan ini dengan baik di berbagai negara adalah OneStory.
Banyak masyarakat -- termasuk yang berpendidikan tinggi -- lebih menyukai pembelajaran lisan. Anak-anak pun mempelajari bahasa dan isyarat sosial melalui cara ini. Melalui pengalaman menceritakan kisah Alkitab bersama anak-anak saya, saya menemukan bahwa pembelajaran lisan sangat efektif bagi mereka. Saya juga menyadari bahwa saya mengingat apa yang saya hafalkan dengan lebih mudah ketika menggunakan teknik-teknik ini.
Dari Seluruh Dunia hingga Antrean Mobil
Meskipun keluarga kami tidak sepenuhnya menggunakan pendekatan Cerita Alkitab Lisan untuk mempelajari Kitab Suci, kami merasakan manfaat dari menerapkan beberapa bagiannya. Menghafal bagian-bagian firman Tuhan membekali kami untuk siap membagikannya kapan pun kesempatan muncul, sekaligus memberi kami bagian Alkitab yang dapat direnungkan di waktu luang, bahkan ketika kami tidak membawa Alkitab.
Saat memakai pendekatan ini, kami memilih bagian Alkitab yang paling relevan bagi kebutuhan keluarga. Kami mendapati bahwa bagian naratif dalam Perjanjian Baru paling mudah dipelajari bersama. Ketika saya pertama kali mencoba metode ini pada musim semi tahun lalu, saya memutuskan untuk memulai dengan perumpamaan. Saya ingin menyisihkan lima menit waktu perjalanan untuk menghafal firman Tuhan, tetapi saya juga ingin kami memulainya dari posisi yang setara saat menghafal bersama.
Berikut adalah gambaran umum tentang bagaimana satu minggu kami mempelajari sebuah kisah.
Pada hari pertama, saya membacakan teks yang kami pilih sebelum meninggalkan rumah. Setelah itu kami bergiliran menceritakan kembali kisah tersebut sebaik mungkin, mengisi sebanyak mungkin detail. Jika ada bagian yang terlupa, salah satu dari kami memberi petunjuk kecil tentang bagian selanjutnya tanpa menjelaskan seluruhnya. Fokus kami adalah memahami poin-poin utama dalam urutan yang benar, bukan menghafal setiap detail kecil.

Pada hari kedua, saya kembali membacakan teks sebelum perjalanan dimulai. Lalu kami bergiliran menceritakan kembali cerita itu, kali ini dengan menyertakan semua poin penting. Kami mulai memperhatikan lebih banyak detail dan mulai membahas maknanya. Saya sengaja tidak mengoreksi setiap kesalahan kecil karena saya ingin anak-anak memikirkan kisah itu sepanjang minggu. Penting bagi mereka untuk memahami bahwa mereka dapat membaca dan mengerti Alkitab tanpa harus selalu diarahkan oleh orang dewasa di setiap langkah.
Hari ketiga berlangsung hampir sama seperti hari sebelumnya. Saya membacakan teks dengan suara keras, lalu kami bergiliran menceritakan kembali kisah itu satu sama lain -- anak-anak terlebih dahulu. Jika ada detail yang terlewat, kami melengkapinya sebelum melanjutkan. Kami terus membahas makna teks, tetapi saya tidak menghabiskan banyak waktu untuk memberikan pengajaran langsung atau penerapannya. Saya ingin mereka memikirkan teks itu sepanjang hari sehingga mereka dapat mulai menarik kesimpulan sendiri.
Hari keempat dan kelima adalah saat segalanya mulai menunjukkan perkembangan. Saya kembali membacakan teks itu, lalu kami masing-masing mengisahkan ulang ceritanya, dan pada tahap ini kami hampir menghafalnya dengan lengkap. Setelah itu, kami membahas kembali makna teks, yang kini semakin jelas bagi mereka. Kami menutup waktu tersebut dengan berdoa bersama mengenai apa yang Tuhan ajarkan kepada kami.
Pada akhir minggu, anak-anak saya sering kali dapat memahami cerita itu dengan jelas tanpa banyak campur tangan dari saya. Saya hanya perlu menguatkan mereka ketika mereka berada pada jalur yang benar atau membantu ketika ada bagian yang belum mereka pahami. Setiap keluarga tentu akan memiliki pengalaman yang berbeda, jadi sesuaikanlah dengan apa yang paling cocok bagi Anda saat memimpin dan apa yang dapat ditangani oleh anak-anak Anda. Kadang kami melewatkan satu hari, tetapi bahkan pada minggu-minggu seperti itu, waktu yang kami gunakan untuk membaca dan menceritakan kembali tetap membawa hasil yang baik.
Menceritakan Alkitab adalah cara yang sederhana sekaligus bermanfaat untuk menjelajahi Kitab Suci bersama keluarga dan membantu mereka menyimpan firman Tuhan di hati mereka. Menggunakan teknik-teknik ini dalam keluarga kami juga mendorong kami untuk berdoa agar Injil tersebar sampai ke ujung bumi dan menginspirasi kami untuk selalu siap membagikan kebenaran dengan cara yang bermakna kepada siapa pun yang Tuhan pertemukan dalam hidup kami, termasuk anak-anak kami. Saya berharap keluarga Anda juga menemukan bahwa pendekatan ini dapat menjadi alat pemuridan yang berharga.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Gospel Centered Family |
| Alamat artikel | : | https://gospelcenteredfamily.com/blog/use-your-words-how-oral-bible-storying-can-serve-your-family |
| Judul asli artikel | : | Use Your Words: How Oral Bible Storying Can Serve Your Family |
| Penulis artikel | : | Jenny Marcelene |
- Log in to post comments