|
PA Online: Alki-TOP
|
Kristus Pemersatu Bangsa-Bangsa
(Efesus 2:11-22)
PA Online Bareng Alki-TOP kali ini membahas topik terakhir bulan ini, yaitu Kristus Pemersatu Bangsa-Bangsa berdasarkan Efesus 2:11–22. Melalui bagian ini, kita melihat bahwa manusia dahulu berada dalam keadaan jauh dari Kristus, terpisah dari umat Allah, tanpa pengharapan, dan tanpa Allah. Namun, melalui darah Kristus dan karya-Nya di kayu salib, orang-orang yang dahulu jauh telah menjadi dekat. Kristus merobohkan tembok pemisah berupa perseteruan antara Yahudi dan non-Yahudi serta menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Kesatuan umat Allah tidak dibangun berdasarkan suku, budaya, tradisi, atau identitas kelompok, tetapi berpusat kepada Kristus sebagai Batu Penjuru.
Melalui PA ini, kita diajak menyadari bahwa meskipun Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah, manusia masih dapat membangunnya kembali melalui prasangka, kesombongan, eksklusivisme, perbedaan denominasi, status sosial, budaya, maupun preferensi pribadi. Gereja dipanggil untuk hidup sebagai satu bangunan yang tersusun rapi dan menjadi tempat kediaman Allah. Dalam semangat Mengasihi Bangsa-Bangsa, kita perlu memeriksa tembok apa yang masih kita bangun terhadap orang lain dan mengambil tindakan konkret untuk meruntuhkannya. Kesatuan bukan berarti menghapus semua perbedaan, melainkan hidup dalam kasih dan damai sebagai satu keluarga Allah karena Kristus telah lebih dahulu mempersatukan kita.
|
Berikut ini adalah contoh pertanyaan yang didiskusikan dalam PA Online Alki-TOP Kristus Pemersatu Bangsa-Bangsa dalam Efesus 2:11-22.
- Simak: Apa yang dikatakan Efesus 2:11-22 tentang keadaan manusia sebelum dan sesudah dipersatukan dengan Kristus?
- Analisa: Apa yang dimaksud dengan "tembok pemisah" dalam bagian ini, dan bagaimana Kristus meruntuhkannya?
- Belajar: Apa yang bagian ini ajarkan tentang dasar kesatuan umat Allah?
- Doa/Diskusi: Tembok pemisah apa yang masih sering muncul di antara orang percaya pada masa kini?
- Aplikasi: Langkah konkret apa yang dapat kita lakukan untuk membangun kesatuan sebagai satu keluarga Allah dalam Kristus?
|
|
|
|
|
|
Artikel PA21
|
|
Buah Roh (dan Maknanya)
dalam Alkitab
|
|
Rasul Paulus menggambarkan "buah Roh" sebagai "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri" (Galatia 5:22-23). Sifat-sifat ini mencerminkan karakter Allah dan perilaku orang-orang yang hidup menurut Roh Allah.
Ketika kita hidup dalam persekutuan dengan Allah, kita seperti cabang-cabang baru yang dicangkokkan pada pokok anggur yang hidup dan mulai menghasilkan buah dari pokok tersebut (lihat Yohanes 15:1-11). Jika Allah penuh kasih, sabar, dan senantiasa memancarkan damai sejahtera, kita pun akan menghasilkan buah rohani yang sama ketika hidup dalam persekutuan dengan-Nya, seperti kasih, kesabaran, dan damai sejahtera. Kita dapat memahami sifat dan tujuan buah-buah rohani ini dengan lebih baik jika kita menelusuri sumbernya serta melihat beragam kaitannya dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab.
Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya. Sejak semula, Dia mengajar kita untuk mencerminkan karakter ilahi-Nya. Kita melakukannya dengan menghasilkan buah rohani yang baik, melakukan apa yang benar di mata Allah, serta memelihara ciptaan-Nya dan setiap orang di dalamnya. Ketika hidup hanya untuk diri sendiri dan melakukan apa yang benar menurut pandangan kita, kita menampilkan gambar Allah secara menyimpang. Allah sama sekali tidak mementingkan diri sendiri. Dia adalah kasih yang murni dan selalu bekerja demi kebaikan orang lain.
|
|
|
|
|
|
|