Adik ipar saya baru-baru ini membeli sebuah headset yang memungkinkan dia menyelipkan ponselnya ke dalam perangkat itu untuk merasakan berbagai lingkungan dan permainan realitas virtual melalui aplikasi di ponselnya. Beberapa hari yang lalu dia berkunjung ke rumah kami, jadi saya mencoba headset tersebut. Dalam sekejap, saya sepenuhnya terbenam dalam sebuah video musik yang membuat saya bisa menoleh ke segala arah, termasuk ke atas dan ke bawah, untuk melihat band dan orang-orang lain yang bernyanyi serta tampil dalam bentuk 3D. Pengalaman itu sungguh luar biasa.
Saya pernah mendengar Francis Chan bercerita tentang pengalamannya dengan realitas virtual. Saat itu dia diminta berdiri di atas sebuah papan berukuran kira-kira 2×4 yang diletakkan di lantai, lalu mengenakan headset. Ketika dia memakainya, lantai seolah "menghilang", dan dia tampak berdiri di atas papan yang menggantung di atas lubang yang sangat dalam. Meskipun dia tahu bahwa sebenarnya dia hanya sekitar dua inci di atas lantai, dia tetap merasa takut. Pengembangnya menjelaskan bahwa banyak orang tidak sanggup menyeberangi papan itu karena rasa takut menguasai mereka. Mereka tahu itu tidak nyata, tetapi mereka tetap tidak bisa bergerak.
Dan itulah yang seharusnya dilakukan oleh sebuah cerita yang baik bagi anak-anak kita. Bukan membuat mereka lumpuh karena ketakutan, tetapi membenamkan mereka sepenuhnya ke dalam cerita. Saat kita bertumbuh sebagai pencerita Alkitab, kita perlu terus mengingat tujuan itu. Kita ingin anak-anak benar-benar terlibat dalam kisah Alkitab yang kita ceritakan, sehingga mereka memperoleh manfaat sebesar mungkin. Saya yakin, video musik yang saya lihat melalui realitas virtual itu meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam dibandingkan jika saya hanya menontonnya di televisi. Mengapa? Karena saya benar-benar merasa berada di dalamnya.
Sama seperti realitas virtual menciptakan suasana yang memikat sehingga kita dapat mengalami video, permainan, atau apa pun yang kita lihat dengan lebih utuh, kita juga ingin menciptakan suasana yang menarik untuk kisah Alkitab yang kita bagikan. Berikut empat tips yang dapat membantu Anda melakukannya setiap minggu:
1. Kembangkan Gaya Bercerita yang Beragam
Kami memproduksi video kisah Alkitab dengan berbagai gaya. Ada dua alasan utama untuk itu. Pertama, anak-anak membutuhkan variasi. Kedua, beberapa gaya lebih cocok untuk jenis kisah tertentu. Misalnya, sulit menggunakan anak-anak untuk memerankan kisah penciptaan dalam Kejadian 1--2. Karena itu, kami memakai claymation untuk kisah tersebut.
Bercerita secara langsung memang berbeda dari bercerita melalui video, tetapi Anda tetap dapat memakai berbagai gaya sesuai sumber daya, kemampuan, dan ruang yang tersedia. Boneka dan flanelgraf adalah dua metode klasik dalam pelayanan anak, tetapi jangan membatasi diri hanya pada keduanya. Berikut beberapa ide lain untuk memicu kreativitas Anda:
Alat Peraga dan Efek Suara: Saat menceritakan kisah, perankanlah dengan menggunakan alat peraga, efek suara, dan musik. Misalnya, pikirkan perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11--24). Anda dapat memakai alat peraga dan efek berikut ketika menceritakan kisah itu:
- Uang mainan (atau uang sungguhan) ketika sang ayah memberikan warisan (ay. 12)
- Tas punggung untuk menggambarkan perjalanan sang anak (ay. 13)
- Musik bernuansa gembira untuk perjalanan dan saat dia menghabiskan uangnya (ay. 13)
- Efek suara "wa wa wah" ketika dia kehabisan uang (ay. 14)
- Piring kosong untuk menunjukkan masa kelaparan (ay. 14)
- Efek suara babi dan sebuah ember saat dia memberi makan babi (ay. 15)
- Efek suara yang menggambarkan momen kesadaran, misalnya bunyi lampu bohlam "ding", ketika dia sadar akan keadaannya (ay. 17)
- Tas punggung kembali digunakan untuk perjalanan pulang (ay. 20)
- Jubah, cincin, dan sandal yang diberikan sang ayah (ay. 22)
- Musik perayaan untuk menggambarkan suasana pesta (ay. 24)
Anda dapat menggunakan efek suara dari CD, dari sumber daring, atau meminta anak-anak membuat sendiri efek suara tersebut ketika Anda memberi isyarat.
Percakapan Dramatis: Untuk kisah Alkitab yang memuat percakapan antara dua tokoh atau lebih, Anda dapat melakukan "percakapan satu orang" dengan berpindah posisi, menggunakan suara yang berbeda, dan menyesuaikan gerak tubuh untuk memerankan masing-masing tokoh. Seperti yang dikatakan Aaron Reynolds, kita perlu benar-benar masuk ke dalam cerita:
"Alih-alih berbicara tentang tokohnya, jadilah tokoh tersebut. Tidak harus semuanya (meskipun itu juga menyenangkan). Pilih momen tertentu untuk masuk ke dalam tokoh sehingga pendengar merasakan seakan-akan mereka berada langsung di tengah kejadian itu--merasakan peristiwa luar biasa itu tersaji tepat di depan mata mereka." -- Aaron Reynolds, "The Fabulous Reinvention of Sunday School" (Zondervan, 2007), hlm. 87.
Pikirkan, misalnya, kisah Kejatuhan dalam Kejadian 3. Tandai beberapa titik di panggung atau di ruangan sebagai tempat Anda memerankan masing-masing tokoh. Usahakan jaraknya tidak terlalu jauh agar alur cerita tetap mengalir. Saat Anda berbicara sebagai satu tokoh, berpindahlah ke titik yang sudah ditentukan dan arahkan tubuh Anda kepada tokoh lain yang sedang diajak bicara. Jadi, kalau ular sedang berbicara kepada Hawa, Anda berdiri di titik "ular" dan mengarahkan tubuh ke titik "Hawa". Kita akan membahas hal ini lebih dalam pada artikel blog terakhir seri ini, tetapi pertimbangkan juga untuk mengubah suara dan pola vokal agar sesuai dengan tokoh yang Anda perankan. Misalnya, Anda bisa mengucapkan kata-kata sang ular dengan penekanan pada huruf "s" dan dengan nada yang cerdik, tetapi jahat.
Seni: Flanelgraf termasuk dalam kategori ini. Namun, baik Anda memiliki flanelgraf maupun tidak, dan apakah Anda ingin membuatnya atau tidak, masih banyak pilihan lain. Anda atau seorang asisten dapat menggambar bagian-bagian kisah di papan tulis putih, papan tulis kapur, atau lembaran kertas besar yang ditempel di dinding saat kisah berlangsung. Atau, tokoh dan adegan bisa digambar terlebih dahulu, lalu ditempel atau digantung menggunakan perekat kait-dan-pengait. Pilihan lainnya adalah membuat gambar-gambar yang ditampilkan seperti "slide show" dengan menggantungnya di dinding atau memproyeksikannya dari komputer selama kisah berlangsung.
Pikirkan perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria (Yohanes 4:1--30). Anda dapat menggambar unsur-unsur berikut ketika menceritakan kisah itu atau menyiapkannya terlebih dahulu sebelum cerita dimulai:
- Peta yang menunjukkan Yudea, Samaria, dan Galilea
- Kota Sikhar
- Sebuah sumur
- Yesus yang sedang duduk
- Perempuan Samaria yang berdiri
- Gelembung percakapan untuk ditempatkan di atas tokoh yang sedang berbicara
- Gambar aliran "air hidup"
- Seorang suami
- Tanda X untuk ditempatkan di atas gambar suami ketika perempuan itu berkata bahwa dia tidak memiliki suami
- Lima suami lainnya
- Gunung di Samaria
- Gunung Bait Suci di Yerusalem
- Dua tanda X untuk ditempatkan di atas kedua gunung tersebut
- Para murid
- Sebuah bejana air
- Penduduk kota
Perlu diingat bahwa gambar-gambar tidak harus rumit. Terkadang justru yang sederhana lebih efektif. Misalnya, siluet kota untuk Sikhar sudah cukup membantu anak-anak membayangkan tempat tersebut. Namun, jika ada seseorang di gereja Anda yang memiliki kemampuan seni, ini kesempatan yang baik untuk melibatkan dia dalam pelayanan anak.
Adonan Mainan, Model, dan Sebagainya: Gunakan adonan mainan, model, balok bangunan, dan bahan serupa untuk menggambarkan kisah yang sedang Anda ceritakan. Gaya ini paling cocok untuk kelompok kecil karena anak-anak bisa mendekat dan melihat dengan jelas. Untuk kelompok besar, gaya ini tetap dapat digunakan jika Anda memiliki kamera yang dapat menampilkan gambar dari jarak dekat ke layar besar sehingga semua anak dapat melihatnya.
Kisah empat orang teman yang menurunkan seorang lumpuh (Markus 2:1--12) adalah contoh yang sangat baik untuk gaya ini. Bayangkan Anda membangun sebuah rumah dengan balok yang saling mengunci, lalu memperagakan bagaimana keempat teman itu membawa orang lumpuh ke atap, membuka sebagian atap, dan menurunkannya ke hadapan Yesus di dalam ruangan yang penuh orang. Sederhana? Mungkin. Namun berkesan? Kemungkinan besar. Saya bahkan bisa membayangkan anak-anak saya mencoba menirukan adegan itu di rumah dengan balok-balok mereka sendiri.
2. Pertimbangkan Ceritanya
Bukan membuat mereka lumpuh karena ketakutan, tetapi membenamkan mereka sepenuhnya ke dalam cerita.
Mengembangkan berbagai gaya bercerita Alkitab tidak hanya membantu Anda melibatkan anak-anak dengan cara yang berbeda, tetapi juga memberi Anda fleksibilitas ketika menyampaikan setiap kisah. Bayangkan setiap gaya sebagai alat dalam sebuah kotak alat. Seperti halnya ada alat tertentu untuk pekerjaan tertentu, demikian juga ada gaya yang lebih sesuai untuk kisah tertentu. Misalnya, percakapan dramatis kurang efektif untuk kisah Alkitab yang hampir tidak memiliki dialog.
Ketika Anda mempersiapkan sebuah kisah, pertimbangkan gaya-gaya yang sudah Anda miliki dalam "kotak alat" Anda dan pikirkan gaya mana yang paling cocok. Anda mungkin juga ingin melihat beberapa kisah berikutnya untuk merencanakan variasi. Misalnya, jika kisah yang sedang Anda kerjakan dapat dibawakan dengan baik menggunakan alat peraga dan efek suara atau melalui seni, tetapi empat kisah setelahnya lebih tepat dibawakan melalui seni, Anda dapat memilih gaya alat peraga dan efek suara untuk kisah yang sedang Anda siapkan.
Apa pun gaya yang Anda gunakan, pastikan Anda memaksimalkan ruang yang tersedia. Kita sudah membahas tentang bergerak di atas panggung atau di dalam ruangan saat Anda bercerita, tetapi jangan berhenti di sana. Gunakan seluruh ruangan apabila memungkinkan. Jika Anda menceritakan kisah perjalanan misioner Paulus, Anda bisa menata beberapa area di ruangan sebagai kota-kota yang berbeda lalu bergerak dari satu kota ke kota lainnya sesuai alur cerita. Jangan lupa juga untuk menggunakan perbedaan tinggi ketika memungkinkan! Jika Anda menceritakan kisah Zakheus, sandarkan sebuah tangga pada dinding dan naiklah beberapa anak tangga ketika Anda menggambarkan dia memanjat pohon untuk melihat Yesus. Jika Anda menceritakan kisah Yesus yang dicobai di padang gurun, berdirilah di atas bangku atau platform ketika Anda sampai pada bagian Yesus dibawa ke puncak bait suci.
3. Manfaatkan Ruang Anda Sebaik Mungkin
Jangan lupakan pencahayaan. Saat Anda menceritakan kisah Nikodemus yang datang kepada Yesus pada malam hari, Anda bisa mematikan lampu utama dan menggunakan sebuah senter atau lentera kecil untuk menimbulkan suasana gelap. Jika Anda menceritakan kisah Paulus di jalan menuju Damaskus, Anda dapat meminta seseorang menyorot Anda dengan cahaya terang ketika tiba pada bagian itu.
4. Libatkan Anak-Anak Anda Sebisa Mungkin
Satu hal terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah melibatkan anak-anak sebanyak mungkin. Pertimbangkan untuk meminta mereka memerankan kisah, membuat efek suara, menggambar ilustrasi, atau membuat model dari adonan mainan. Berikut saran dari Maxine Bersch:
"Pikirkan cara-cara untuk melibatkan mereka dalam proses tersebut. Misalnya, mereka senang berpura-pura menjadi angin yang bertiup, membuat hewan menggeram atau mengaum, atau mengucapkan bersama-sama bagian yang berulang dalam kisah." -- Maxine Bersch, "Storytelling in a Nutshell: A Primer for Storytellers in Christian Education" (Genevox Music, 1998), hlm. 33.
Benar bahwa ketika Anda melibatkan anak-anak, peluang Anda untuk menghasilkan kisah yang benar-benar "sempurna" mungkin berkurang. Namun, sebagai gantinya, Anda justru memiliki kesempatan untuk mengalami sebuah kisah yang sangat berkesan--bukan hanya bagi anak-anak yang Anda libatkan, tetapi juga bagi anak-anak lain yang mendengarkan dan melihat kisah itu terungkap di hadapan mereka. Dan sekali lagi, bukankah itulah tujuan utama kita?
Jadi, bersenang-senanglah dan berkreasilah ketika Anda menciptakan suasana bercerita yang memikat setiap minggu!
Coba lakukan sekarang, mengapa tidak mencobanya? Jika Anda akan menceritakan kisah Daud dan Goliat dari 1 Samuel 17:1--58, gaya atau kombinasi gaya apa yang menurut Anda paling cocok? Pikirkan cara untuk menciptakan suasana yang menarik bagi kisah tersebut.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | The Gospel Project |
| Alamat artikel | : | https://gospelproject.lifeway.com/bible-storytelling-creating-an-atmosphere-to-tell-the-story/ |
| Judul asli artikel | : | Bible Storytelling: Creating an Atmosphere to Tell the Story |
| Penulis artikel | : | Brian Dembowczyk |
- Log in to post comments